Sederet Upaya RI Bangun "Benteng" Hadapi Krisis Energi

Sedang Trending 43 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia membangun sejumlah alas untuk memastikan kesiapan BBM. Ini menjadikan Indonesia sepenuhnya kebal terhadap krisis energi.

Dalam laporan Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026, Indonesia masuk jejeran negara nan relatif paling terlindungi dari guncangan nilai minyak dan gas global. Dalam ukuran total protection factor, Indonesia berada di ranking kedua, hanya di bawah Afrika Selatan.

Pemerintah juga dibekali instrumen intervensi untuk meredam akibat lonjakan daya global, dalam corak subsidi BBM dan listrik hingga kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) batu bara. Dengan sistem ini, gejolak nilai dunia tidak langsung diteruskan ke masyarakat.

Salah satu alas terbesar Indonesia adalah sumber daya domestik. Dalam bauran daya primer, batu bara tetap mendominasi sebesar 40,37%, disusul minyak bumi 28,82%, gas alam 16,17%, dan Energi baru terbarukan (EBT) 14,65%.

Adapun peredam utama adalah keputusan pemerintah untuk tidak langsung meningkatkan nilai BBM subsidi ketika nilai minyak bumi melonjak.

Pemerintah menggunakan APBN sebagai shock absorber sehingga kenaikan nilai minyak dunia tidak langsung diteruskan kepada konsumen. Hingga sekarang pemerintah belum meningkatkan nilai BBM subsidi, termasuk Pertalite dan solar.

Upaya lain nan dilakukan adalah diversifikasi sumber impor minyak mentah oleh Pertamina. Termasuk mencari pasokan dari Amerika Serikat dan wilayah lain di luar Timur Tengah.

Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo sebelumnya menyebut bahwa Indonesia mendapatkan 150 juta minyak mentah dari Rusia dengan nilai khusus.‎ ‎Hashim mengatakan, pasokan minyak nan didapatkan dengan nilai unik itu adalah hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskwa, pada Senin (13/4/2026).

‎"Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi," ucap Hashim saat memberikan aktivitas Economic Briefing 2026 di Menara Patra Jasa, Jakarta beberapa waktu lalu.

Pemerintah juga mempercepat diversifikasi bahan bakar berbasis sumber daya domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap daya impor. Salah satunya melalui program B40, ialah peningkatan campuran biodiesel berbasis minyak sawit dalam solar.

Kebijakan ini membikin sebagian kebutuhan solar dapat dipenuhi dari bahan baku dalam negeri, sehingga ketergantungan terhadap impor diesel bisa ditekan.

PT Pertamina Patra Niaga menargetkan BBM jenis solar dengan campuran biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50% (B50) dapat terealisasi di seluruh SPBU pada September 2026. Saat ini sebanyak 82% SPBU Pertamina telah menyalurkan B50 sejak implementasinya dimulai pada 1 Juli 2026.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News