6 Spesies Baru Jamur Zombie di Meksiko: Bajak Otak Semut Mirip The Last of Us

Sedang Trending 10 menit yang lalu
Enam jenis jamur zombie ditemukan di Meksiko. Bisa bajak otak semut, aktivitas tubuhnya, lampau mati. Foto: Viory

Para peneliti di Meksiko sukses menemukan enam jenis baru jamur parasit alias jamur zombie nan bisa bajak otak dan kendalikan tubuh semut hingga meninggal seperti di game alias movie The Last of As.

Menariknya, salah satu jenis tersebut diberi nama Ophiocordyceps deltoroi, terinspirasi dari nama sutradara movie asal Meksiko, Guillermo del Toro, nan dikenal melalui karya-karyanya bertema horor, fantasi, dan makhluk-monster.

Penemuan ini dilakukan César Ballesteros, intelektual dari University of Guadalajara, nan mempelajari perilaku enam jenis jamur entomopathogen di rimba tropis Jalisco, Meksiko. Jamur jenis ini diketahui dapat menginfeksi serangga dan lelaba serta memengaruhi perilaku inangnya dalam proses nan dapat berjalan selama nyaris satu tahun.

Ballesteros menjelaskan, setelah masuk ke dalam tubuh semut, jamur mulai menghasilkan senyawa unik nan disebut metabolit sekunder. Senyawa tersebut berinteraksi dengan sistem saraf semut dan mengubah perilakunya. Akibatnya, semut mulai bergerak secara tidak normal dan kehilangan kendali atas sejumlah keputusan nan biasanya dibuatnya sendiri.

Jamur kemudian mengarahkan semut menuju letak tertentu nan oleh para peneliti disebut sebagai kuburan. Tempat tersebut biasanya mempunyai kombinasi sinar dan kelembapan nan ideal bagi jamur untuk berkembang serta menginfeksi inang lainnya.

Di letak itu, semut bakal menggigit dan mencengkeram permukaan seperti kulit pohon, daun, alias bagian bawah batu menggunakan mandibula dan kakinya. Setelah semut mati, jamur mulai tumbuh dari tubuhnya.

“Ini semacam kuburan tempat bangkai-bangkai semut berkumpul. Di sana, semut melakukan aktivitas terakhirnya dengan mencengkeram permukaan menggunakan mandibula dan kaki,” kata Ballesteros sebagaimana dikutip EFE.

Semut zombie, akibat jangkitan jamur Ophiocordyceps unilateralis. Foto: Hyde Peranitti/Shutterstock

Proses alami tersebut telah berjalan selama ratusan tahun. Jamur dari kelompok Cordyceps memanfaatkan sistem ini untuk mempertahankan hidup sekaligus bereproduksi.

Keunikan proses tersebut membikin Ballesteros memilih nama Ophiocordyceps deltoroi untuk salah satu jenis nan ditemukannya. Pemilihan nama itu merupakan penghormatan kepada Guillermo del Toro, sutradara asal Jalisco nan juga merupakan lulusan University of Guadalajara.

“Karena dia berasal dari Jalisco dan lulus dari University of Guadalajara, serta memandang semua karyanya di bumi movie nan mengeksplorasi seram dan fantasi, langkah apa nan lebih baik untuk menghormatinya selain mendedikasikan jenis jamur kepadanya nan oleh sains disebut sebagai ‘zombie’?” ujar Ballesteros.

Menurut dia, corak dan karakter jamur tersebut juga mengingatkan pada beragam makhluk nan diciptakan Del Toro sepanjang kariernya.

Fenomena jamur parasit nan bisa mengendalikan perilaku serangga ini juga menjadi inspirasi bagi cerita game The Last of Us, nan kemudian diadaptasi menjadi serial televisi.

Enam Spesies Baru untuk Meksiko

Penemuan tersebut menjadi tonggak krusial bagi penelitian jamur di Meksiko. Ballesteros menjadi intelektual pertama nan mengidentifikasi spesies-spesies tersebut dalam kerajaan fungi di negara itu.

Sebelumnya, hanya ada satu jenis jamur serupa nan telah dideskripsikan dari Meksiko, ialah Cordyceps mexicana, nan diketahui menyerang kupu-kupu. Kini, penelitian Ballesteros memperkenalkan enam jenis nan ditemukan di Meksiko.

“Ini adalah jenis pertama nan dideskripsikan untuk Meksiko. Sebelumnya hanya ada satu, nan disebut Cordyceps mexicana, nan menyerang kupu-kupu. Sekarang kami memperkenalkan penelitian nan mendeskripsikan enam jenis nan ditemukan secara unik di Meksiko,” katanya.

Selain mempunyai peran krusial dalam ekosistem, jamur-jamur tersebut juga berpotensi memberikan faedah bagi manusia. Senyawa nan dihasilkan beberapa jenis jamur dapat diteliti untuk pengembangan obat.

Sejumlah senyawa dari golongan jamur ini diketahui berpotensi digunakan dalam pengobatan beragam penyakit, termasuk kanker, tuberkulosis, dan multiple sclerosis. Namun, Ballesteros menekankan tetap diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami potensi tersebut dan mengembangkannya bagi kepentingan kesehatan manusia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan