(Instagram)
PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW sering kali memicu perdebatan hangat di tengah masyarakat modern. Banyak nan mempertanyakan hukumnya, apalagi menganggapnya sebagai rumor sensitif.
Namun, jika menilik sejarah dan esensinya, Maulid bukan sekadar perayaan, melainkan suatu strategi ustadz terdahulu untuk menghidupkan kembali jiwa umat nan sedang redup. Berikut penjelasan awal mula argumen Maulid Nabi oleh Ustaz Adi Hidayat berbareng Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Dasad Latif di Mekah sebagaimana dilansir akun Hai Guys di Youtube, Rabu (26/8).
Maulid sebagai Algoritma Kebangkitan
"Pada masa kemunduran Islam, suasana berbangsa dan kesadaran berakidah melemah lantaran hilangnya figur keteladanan. Para ustadz menyimpulkan bahwa untuk membangkitkan semangat umat, perlu dihadirkan kembali ruhiah keteladanan Rasulullah SAW," ujar Adi Hidayat. Karena tidak ada umat Islam nan tidak ceria dengan kelahiran Nabi, Maulid dijadikan 'algoritma' untuk menghimpun massa.
Melalui majelis-majelis Maulid, sejarah dan aliran Nabi dikisahkan kembali. Tujuannya jelas: menghidupkan jiwa. Ketika jiwa seseorang sudah hidup dan mencintai Nabinya, menjalankan ibadah seperti salat, membaca Al-Qur'an, hingga berjuang di jalan Allah menjadi jauh lebih mudah. Sejarah mencatat, semangat inilah nan mengantarkan pada pembukaan Palestina di masa lampau.
Mengapa Menjadi Isu Sensitif?
Menurut Adi Hidayat, munculnya pandangan sensitif nan membenturkan Maulid dengan istilah bid'ah disinyalir berakar dari kajian orientalis masa lalu. Mereka memandang Maulid sebagai perangkat nan bisa mengaktifkan spiritualitas kolektif umat Islam untuk mencapai kejayaan. Hal inilah nan kemudian memicu narasi-narasi untuk mempersoalkan tradisi ini.
Penting untuk dipahami bahwa Maulid adalah tradisi, bukan ibadah mahdlah (ibadah murni nan tata caranya sudah baku). Dalam norma fikih, tradisi alias budaya selama tidak bertentangan dengan hukum maka dapat diterima (al-adatu muhakkamah). Ekspresinya pun beragam di setiap daerah, mulai dari infak keliling kampung hingga menabung bertahun-tahun hanya untuk menjamu orang dalam peringatan kelahiran Nabi.
Kisah Keteladanan Nyata: Seorang peternak di pelosok gunung menunjukkan prinsip aliran Nabi dengan menutup mulut kambingnya menggunakan potongan botol saat dibawa pulang. Tujuannya sederhana tetapi mendalam: agar hewan tersebut tidak menyantap rumput nan bukan haknya di sepanjang jalan. Inilah corak nyata dari kesadaran spiritual nan diharapkan lahir dari peringatan Maulid.
Lebih dari Sekadar Peringatan
Maulid Nabi semestinya tidak berakhir pada seremoni, tetapi melahirkan kesadaran nan luas untuk membawa maslahat bagi bangsa dan negara. Kesadaran ini diharapkan mampu:
- Menyatukan daya masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik.
- Mendorong para ustadz dan ustaz menyampaikan risalah atas dasar ketakwaan, bukan ketenaran alias materi duniawi.
- Menumbuhkan integritas dalam hal-hal kecil, seperti menjaga diri dari nan bukan haknya.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai norma tidak boleh menutupi rasa cinta nan tulus kepada Rasulullah SAW. Maulid adalah momentum untuk mengingat kembali sosok Nabi dan mengimplementasikan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·