Usai Tragedi Bekasi, 1.800 Perlintasan Kereta Jadi Fokus Penanganan

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Insiden di Bekasi menyoroti kondisi perlintasan sebidang kereta di Indonesia nan tetap menyisakan banyak pekerjaan rumah. Pemerintah mulai menata ulang ribuan titik perlintasan, dari peningkatan akomodasi keselamatan hingga rencana pembangunan flyover dan underpass.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan, dalam peningkatan akomodasi perlintasan sebidang, pemerintah pusat berencana membangun flyover alias underpass sebagai pengganti perlintasan sebidang. Selain itu, sejumlah titik juga bakal mendapat peningkatan akomodasi keselamatan seperti palang dan perlengkapan lainnya.

Tercatat ada 3.674 perlintasan sebidang di Indonesia, dengan 1.810 titik menjadi konsentrasi penanganan. Dari jumlah tersebut, 172 perlintasan telah diputuskan untuk ditutup lantaran keterbatasan kondisi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, sebanyak 1.638 perlintasan lainnya memerlukan peningkatan akomodasi keselamatan secara bertahap. Dari jumlah tersebut, pemerintah pusat bertanggung jawab membangun flyover alias underpass di 186 titik perlintasan.

"Ada kewenangan kabupaten, provinsi, dan nasional. Nasional itu, seingat saya, ada 186-an, dan sebagian sudah kita kerjakan, tinggal 130-an nan belum. nan 130-an ini kita kerjakan secara bertahap," kata Dody saat ditemui wartawan di Kompleks DPR RI, Rabu (13/5/2026).

Dody mengatakan pembangunan bakal dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kesiapan anggaran dan kesiapan lahan di daerah. Sebab, lahan di sekitar perlintasan sebidang umumnya berada di area strategis dengan nilai tinggi, sehingga menjadi tantangan utama dalam pembangunan.

"Lahan itu kewajibannya pemda. Karena perlintasan sebidang itu rata-rata lahannya prime, mahal sekali," ujarnya.

"Kalau lahannya sudah siap, kreasi siap, baru kita minta bagian dari Rp 4 triliun itu," sambung Dody.

Setelah lahan tersedia, pemerintah bakal menghitung apakah titik perlintasan tersebut lebih cocok dibangun flyover alias underpass.

"Jadi belum tentu flyover semua. Tergantung kondisi letak dan kesiapan lahannya. Case by case. Begitu lahannya siap, baru kita hitung," ucapnya.

Sebagai informasi, masalah keselamatan di perlintasan sebidang menjadi sorotan setelah ditemukan sejumlah titik tanpa penjagaan. Padahal, perlintasan sebidang menjadi salah satu penyumbang utama kecelakaan kereta api di Indonesia, khususnya pada perlintasan nan tidak dijaga.

Dalam periode 2023 hingga 2026, tercatat 948 korban akibat kecelakaan di perlintasan sebidang, dengan sekitar 80% kejadian terjadi pada perlintasan nan belum terjaga. Salah satu tragedi nan menyantap korban jiwa belum lama ini adalah kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek nan menabrak KRL saat berakhir di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam.

Dalam perihal ini, puluhan titik perlintasan sebidang mulai ditutup oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) alias KAI bekerja sama dengan Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Sebanyak 29 titik perlintasan sebidang ditutup pada periode 27 April hingga 9 Mei 2026. Selain itu, penyempitan perlintasan juga dilakukan di 5 titik.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan percepatan penanganan perlintasan dilakukan lantaran keselamatan perjalanan kereta api memerlukan disiplin berbareng dan kepatuhan terhadap patokan nan berlaku.

"Perlintasan sebidang merupakan titik pertemuan antara perjalanan kereta api dan aktivitas masyarakat di jalan raya. Karena itu, setiap titik nan dinilai membahayakan perlu segera ditata agar akibat keselamatan dapat ditekan," ujar Anne dalam keterangan tertulis, Senin (11/5/2026).

"Keselamatan di perlintasan memerlukan kepedulian bersama. Saat perlintasan rawan telah ditutup, kami membujuk masyarakat untuk tidak membukanya kembali dan tidak membikin perlintasan baru," lanjutnya.

(igo/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance