Usai Bertemu Dubes Boroujerdi, Menag Nasaruddin Sebut Hubungan RI–Iran Dilandasi Nilai Keimanan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Sebelumnya, Iran menuntut kompensasi atas kerusakan nan ditimbulkan oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Utusan Teheran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (14/4/2026) menyatakan bahwa lima negara di area kudu ikut bayar kompensasi. Dia menuduh wilayah negara-negara tersebut digunakan sebagai titik peluncuran serangan ke Iran. Demikian seperti dikutip dari laporan Al Jazeera.

Iran juga mengusulkan sistem kompensasi melalui skema nan mencakup penerapan pajak bagi kapal-kapal nan melintas di Selat Hormuz.

Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani dalam wawancara dengan instansi buletin Rusia RIA Novosti nan dipublikasikan Selasa, menyebut bahwa perkiraan awal kerugian Iran mencapai sekitar USD 270 miliar alias sekitar Rp 4.623 triliun (Rp17.123 per USD), baik secara langsung maupun tidak langsung, sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Meski demikian, dia tidak merinci komponen kerugian tersebut. Dia hanya menegaskan bahwa rumor kompensasi telah dibahas dalam perundingan antara Teheran dan Washington di Pakistan pekan lampau dan bakal kembali menjadi topik dalam pembicaraan selanjutnya dengan AS serta para mediator.

Pemerintah Iran saat ini tetap melakukan penilaian atas besarnya kerusakan pada prasarana vital. Sejumlah akomodasi minyak dan gas, perusahaan petrokimia, pabrik baja, pabrik aluminium, hingga kompleks militer menjadi sasaran serangan berulang kali, dan diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk pulih sepenuhnya.

Tidak hanya itu, jembatan, pelabuhan, jaringan rel kereta, universitas, pusat penelitian, pembangkit listrik, serta instalasi desalinasi air juga turut terdampak. Banyak rumah sakit, sekolah, dan rumah penduduk dilaporkan rusak hingga hancur.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita