Update Gempa M7,7 NTT: 100 Korban Meninggal, 180 Ribu Warga Mengungsi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 100 Korban Meninggal, 180 Ribu Warga Mengungsi Basarnas melakukan pemindahan korban gempa Flores.(Dok Basarnas)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 nan mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada (15/8) tetap cukup signifikan.

Berdasarkan info BNPB per Senin, (24/8) pukul 17.00 Wita, sebanyak 100 orang meninggal dunia, 1.603 orang mengalami luka-luka, dan 180.327 penduduk mengungsi.

Selain korban jiwa, BNPB mencatat 73.818 unit rumah mengalami kerusakan. Kerusakan juga terjadi pada akomodasi umum, dengan total 1.915 akomodasi terdampak.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan perkembangan penanganan gempa tersebut dalam konvensi pers di Labuan Bajo, Senin (24/8).

Wilayah dengan akibat paling signifikan berada di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

Di Kabupaten Manggarai, BNPB mencatat 38 orang meninggal dunia, 506 orang luka-luka, dan 47.840 penduduk mengungsi. Sebanyak 17.108 rumah mengalami kerusakan.

Sementara di Kabupaten Manggarai Timur, tercatat 34 orang meninggal dunia, 643 orang luka-luka, 31.372 penduduk mengungsi, serta 18.802 rumah mengalami kerusakan.

Dampak besar juga tercatat di Kabupaten Nagekeo. Sebanyak 13 orang meninggal dunia, 122 orang mengalami luka-luka, dan 49.059 penduduk mengungsi. Kerusakan rumah mencapai 7.184 unit.

Di Kabupaten Sikka, enam orang meninggal dunia, sementara 21.001 penduduk mengungsi dan 3.942 rumah mengalami kerusakan.

Sedangkan di Kabupaten Manggarai Barat, BNPB mencatat satu orang meninggal dunia, 24.729 penduduk mengungsi, serta 9.740 rumah mengalami kerusakan.

Di Kabupaten Ngada, tercatat lima orang meninggal dunia, 2.551 penduduk mengungsi, dan 9.562 rumah mengalami kerusakan. Sementara di Ende, tiga orang meninggal dunia, 3.775 penduduk mengungsi, dan 7.480 rumah mengalami kerusakan.

BNPB menyebut jumlah pengungsi tetap cukup tinggi di seluruh wilayah terdampak. Kondisi tersebut diperberat dengan aktivitas gempa susulan nan tetap terjadi.

Suharyanto sebelumnya menegaskan pentingnya pendataan kerusakan dilakukan secara sigap dan jeli agar support pemerintah dapat segera diberikan kepada masyarakat terdampak.

“Pendataan rumah masyarakat nan rusak, baik rusak ringan, sedang, maupun berat menjadi prioritas utama kami. Kerusakan akomodasi umum seperti instansi bupati menjadi prioritas berikutnya setelah pemukiman penduduk terpenuhi,” ujar Suharyanto.

Menurut Suharyanto, pendataan tidak kudu menunggu seluruh wilayah selesai didata. Data nan sudah sah dapat langsung digunakan untuk mempercepat proses perbaikan.

“Pendataan tidak perlu menunggu selesai semua, begitu ada info sah nan masuk, perbaikan langsung kita proses agar penanganan melangkah lebih cepat,” katanya.

BNPB berbareng pemerintah wilayah dan unsur mengenai terus memperkuat penanganan darurat, mulai dari pemindahan dan pencarian korban, pengedaran logistik, pelayanan kesehatan, hingga pendataan kerusakan rumah dan akomodasi umum.

Bantuan Perbaikan Rumah

Pemerintah juga menyiapkan support perbaikan rumah bagi penduduk terdampak. Untuk rumah rusak ringan disiapkan support Rp15 juta, sedangkan rumah rusak sedang Rp30 juta. Bagi rumah rusak berat, pemerintah menyiapkan skema kediaman tetap, dengan opsi support kediaman sementara alias biaya tunggu hunian.

BNPB mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan, namun tidak panik, serta mengikuti pengarahan petugas di lapangan.(MM/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia