Gus Yahya.(MI/Susanto)
MEMASUKI fase abad kedua, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi perubahan lingkungan nan semakin cepat. Perkembangan teknologi digital dan kepintaran artifisial, perubahan suasana nan memengaruhi kehidupan petani serta nelayan, hingga perubahan komposisi generasi muda menjadi sejumlah tantangan nan perlu direspons organisasi.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026 merespons kondisi tersebut dengan membenahi tata kelola organisasi agar semakin sistematis, berbasis teknologi, dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain, fondasi tradisi keulamaan tetap dipertahankan sebagai bagian krusial dari identitas organisasi.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya menyebut NU memerlukan pendekatan Tajdidut Tajdid, ialah pembaruan terhadap beragam pembaruan nan telah dilakukan. Menurutnya, skala organisasi nan semakin besar kudu diikuti dengan penguatan kapabilitas kelembagaan.
Saat ini, jaringan NU terdiri atas 38 PWNU, 548 PCNU, sekitar 7.000 MWC, serta lebih dari 61.000 Pengurus Ranting di tingkat desa. Basis penduduk NU juga disebut mencapai 57,2 persen dari populasi Muslim Indonesia.
"Kebesaran ukuran organisasi kudu diimbangi dengan penyesuaian manajemen modern. Digitalisasi dan standarisasi tata kelola adalah jalur absolut agar NU tetap berkekuatan guna dan relevan melayani umat di tingkat akar rumput," ujar Yahya dikutip pada Minggu (23/8).
Pembenahan internal dalam lima tahun terakhir diarahkan untuk membangun sistem kerja nan mempunyai standar dan dapat diterapkan secara seragam di beragam jenjang kepengurusan.
Salah satu instrumen nan dikembangkan adalah platform digital Digdaya NU. Sistem tersebut digunakan untuk menopang kebutuhan manajemen organisasi. PBNU juga memanfaatkan jasa AI WA Chatbot untuk membantu pengurus di tingkat bagian hingga ranting menangani kebutuhan administratif, terutama di wilayah nan tetap mempunyai keterbatasan tenaga teknologi informasi.
Modernisasi tata kelola tersebut turut dibarengi dengan peningkatan kapabilitas kader. Program kaderisasi berjenjang, antara lain PD-PKPNU dan PMKNU, telah menghasilkan lebih dari 133.000 lulusan nan diproyeksikan menjadi kekuatan krusial dalam menopang keberlanjutan organisasi.
Namun, penggunaan teknologi tidak dimaksudkan untuk menggeser tradisi nan selama ini menjadi fondasi NU. Upaya menjaga kesinambungan keilmuan dan tradisi keulamaan dilakukan melalui program Nasrus Sanad di Pesantren Tebuireng.
Dengan pendekatan tersebut, modernisasi ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat organisasi, bukan menggantikan karakter keislaman dan tradisi keulamaan nan melekat pada NU.
Penguatan organisasi juga diikuti dengan peningkatan keterlibatan NU di tingkat internasional. Sejumlah forum global, seperti Religion of Twenty (R20) dan ISORA, menjadi wadah bagi NU untuk memperluas diplomasi dan perbincangan dengan beragam negara.
Di bagian kemanusiaan, kontribusi dunia juga dilakukan melalui LAZISNU. Berbagai langkah tersebut diarahkan untuk membawa pendapat Islam *Rahmatan lil ‘Alamin* ke dalam percakapan internasional sekaligus meningkatkan kontribusi NU terhadap persoalan kemanusiaan lintas negara.
Meski demikian, Gus Yahya menegaskan bahwa keterlibatan di tingkat dunia tidak boleh membikin NU melepaskan perhatian terhadap persoalan di dalam negeri. "Tidak bisa kita berpikir tentang NU, selain pada saat nan sama kita berpikir dan bertindak tentang Indonesia," tutur Yahya.
Muktamar ke-35 dengan tema Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa bakal menjadi salah satu tahapan krusial dalam merumuskan arah perjalanan NU menuju Visi NU 2051.
Dalam agenda tersebut, PBNU menyiapkan dua arsip strategis untuk menjadi injakan pembangunan organisasi dalam jangka panjang. Dokumen pertama adalah Roadmap 25 Tahun NU. Peta jalan ini dirancang untuk menyelaraskan arah pengembangan seluruh lembaga dan badan otonom agar bergerak dalam kerangka pembangunan organisasi nan terintegrasi.
Dokumen kedua berupa Piagam Nilai Keulamaan. Panduan tersebut bakal mengatur pemahaman mengenai otoritas keilmuan dan dakwah, sekaligus membantu masyarakat menyikapi derasnya info keagamaan di ruang digital. Dokumen itu juga diharapkan dapat menjadi rujukan masyarakat dalam mengenali penceramah nan mempunyai landasan sanad keilmuan nan sah.
Selain agenda tersebut, kemandirian ekonomi menjadi salah satu perhatian melalui pengembangan unit upaya strategis NUCONOMIC. PBNU juga mendorong pemanfaatan teknologi agar semakin terhubung hingga tingkat desa.
Setelah membangun sejumlah fondasi selama lima tahun, pekerjaan berikutnya adalah memastikan sistem nan telah dibuat betul-betul melangkah dan menjadi bagian permanen dari sistem organisasi.
Transformasi tidak boleh berakhir sebagai kebijakan nan hanya melangkah di tingkat pusat. Implementasinya perlu diperluas hingga bagian dan ranting agar perubahan tersebut terasa langsung di tingkat masyarakat.
Penguatan sistem digital, kaderisasi, akuntabilitas tata kelola, serta kemandirian ekonomi menjadi bagian dari upaya tersebut. Fokusnya bukan lagi sekadar menambah program baru, melainkan memastikan beragam perubahan nan sudah dimulai dapat memperkuat dan menjadi budaya kerja organisasi.
"Tujuan akhir dari transformasi ini adalah menciptakan sistem tata kelola dan kemandirian ekonomi nan bekerja secara otomatis. Dengan begitu, faedah kehadiran NU sebagai lembaga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat hingga ke tingkat Ranting di desa-desa," jabar Yahya.
Memasuki abad kedua, tantangan NU pada akhirnya bukan hanya mempertahankan besarnya organisasi. Lebih dari itu, NU perlu memastikan skala tersebut ditopang tata kelola nan kuat, kader nan memadai, kesinambungan tradisi keulamaan, serta visi jangka panjang nan bisa menjawab perubahan kebutuhan masyarakat dan bangsa. (Mir/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·