Ilustrasi(Dok istimewa)
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) saat ini mendorong teknologi budi daya padi terbaru ialah Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS). Dengan menghadirkan penemuan budi daya padi berbasis mekanisasi dan teknologi modern, teknologi ini diharapkan bisa meningkatkan produktivitas, menekan biaya modal dan biaya produksi, serta meningkatkan efisiensi upaya tani.
Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi) Amin Nur mengatakan, sebernarnya teknologi budi daya PM-AAS bukan teknologi baru, apalagi sering diterapkan petani. Namun, terdapat beberapa input nan dimasukkan agar budi aya padi petani lebih efsisien dan efektif, serta terjadi peningkatan produksi padi.
“Tahun ini kami harapkan penyebarannya bisa mencapai 1 juta hektare dan secara memperkuat tahun depan luasnya menjadi 3 juta hektare,” kata Amin saat Webinar: Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) nan diselenggarakan Tabloid Sinar Tani berbareng PT Pupuk Indonesia di Jakarta, Rabu (5/8).
Amin menjelaskan, dalam budi daya PM-AAS ada enam prinsif utama. Pertama, dengan metode tanam bibit langsung (tabela) tanaman lebih rapat dalam barisan. Namun dari hasil kajian BRMP, potensi paling bagus selama 2 musim adalah dengan penanaman jajar legowo 6:1.
“Meski petani ada nan menerapkan jarwo 4:1 alias 2:1, apalagi di Papua 8:1, tapi intinya dalam barisan tanaman bakal lebih rapat,” sebutnya.
Kedua, efisiensi penggunaan air, pupuk dan input dan tepat sasaran. Ketiga, penggunaan mekanisasi pertanian untuk mempercepat dan peningkatan efisiensi kerja. Keempat, penerapan berbasis korporasi. ”Jadi pengelolaan dilaksanakan secara kolektif dalam satu hamparan,” katanya.
Prinsip kelima, pengelolan budi daya padi nan intensif untuk mencapai hasil maksimal. Keenam, spesifik lokasi. Penggunaan teknologi nantinya bisa disesuaikan karakter lahan dan agroekosistem setempat.
”PM-AAS ini menghadirkan sistem budi daya padi modern berbasisteknologi, presisi dan korporasi. Dengan PM AAS diharapkan bakal terjadi peningkatan produksi, tapi biaya tidak terlalu besar,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Saptorini mengatakan, keberhasilan teknologi budi daya padi PM-AAS memang tidak lepas dari peran penyuluh pertanian nan berada di lapangan. Bagaimana penyuluh pertanian menyiapkan CP-CL petani dan mengawal penyelenggaraan budi daya padi PM-AAS.
”Jadi peran penyuluh pertanian dari mulai persiapan, penyelenggaraan hingga monitoring dan pengawalan aktivitas di lapangan,” katanya.
Karena itu, lanjutnya, BPPSDMP melakukan pendampingan dan training PM-AAS bagi penyuluh pertanian. Pihaknya juga telah menerbitkan modul training dan pendampingan budi daya padi PM-AAS nan merujuk pada juklak dari BRMP.
Sesuai perintah Menteri Pertanian, Rini menungkapkan, penyuluh pertanian mendapatkan sasaran pendampingan lahan budi daya PM-AAS. Di Jawa, setiap penyuluh pertanian mendapat sasaran pendampingan 100 hektare dan di luar Jawa seluas 50 hektare.
”Peran BPPSDMP adalah memastikan penerapan PM-AAS melangkah lebih terarah, berkepanjangan dan berdampak,” tuturnya.
Sementara itu, SVP Indonesia Agrichemical Research Institute PT Pupuk Indonesia, Gita Bina Nugraha mengatakan, PM-AAS bisa sukses dengan support beragam pihak, termasuk kesiapan pupuk. Elemen pupuk menjadi aspek krusial dalam budi daya padi.
“Selama ini kita ketahui banyak petani nan berlebihan dalam penggunaan pupuk,” ungkapnya.
Guna mendukung program PM-AAS, Gita menegaskan, secara volume pupuk cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan petani dalam negeri. Totalnya kapabilitas produksi pupuk urea sebanyak 9,4 juta ton, NPK 4,6 juta ton, pupuk lainnya sekita 0,8 juta ton.
“Secara kapabilitas produksi dan prasarana kami siap mendukung program pemerintah, swasembada pangan,” imbuhnya.
Sementara stok pupuk bersubsidi per 3 Agustus sebanyak 1,076 juta ton nan trsebar di penyimpanan dan distributor. Dengan volume tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 36 hari dengan rata-rata pelunasan harian sebanyak 30 ribu ton.
“Kami juga menyiapkan pupuk nan non subsidi dengan stok sebanyak 405.880 ton,” tambah Gita.
Untuk pengawasan pengedaran pupuk subsidi, Gita mengatakan,Pupuk Indonesia telah mempunyai sistem nan sudah terintegrasi. Dengan demikian resiko keterlambatan bisa terdeteksi dengan sigap dan tepat.
“Kami telah mempunyai aplikasi iPubers untuk memantau realisasi penyaluran pupuk bersubsidi ke petani dan golongan tani,” pungkasnya.
Gita berambisi dalam program PM-AAS ini ada koordinasi dengan baik, dari mulai info petani nan melaksanakan budi daya tersebut, khususnya CP/CL-nya dan letak penyelenggaraan serta sinkronisasi agenda tanam bulanan dengan rencana produksi, stok, dan pasokan pupuk.
Selain itu, adanya kesiapan jaringan PPTS (penerima pupuk pada titik serah) serta pemantauan pelunasan bulanan berbasis NIK (Nomor Induk Kependudukan) per jenis produk.
”Dengan kebutuhan pupuk organik nan bertambah, kudu ada pengawalan pemakaian organik nan penggunaannya oleh petani tetap jauh di bawah pupuk Urea dan NPK,” tambahnya.
Dengan kebutuhan bibit nan lebih banyak dalam budidaya padi PM-AAS ialah 70-80 kg/hektare, VP Supply Chain Manangement PT. Sang Hyang Seri (SHS), Dias Agriana memperkirakan pada 2026-2027 diperlukan bibit padi sebanyak 50.066 ton. Sementara itu, perkiraan kesiapan bibit PT SHS pada semester 2 tahun 2026 hanya 14.063 ton. SHS saat ini mempunyai unit produksi bibit padi nan tersebar di 17 provinsi dan didukung areal produksi Sukamandi seluas 3.162 hektare.
Dalam program PM-AAS, bibit padi nan direkomendasikan adalah tahan rebah, tahan (benih)penyakit daur kuman (HBD), tahan blast dan mempunyai produktivitas hingga 10 ton/ha. Beberapa jenis bibit padi nan tahan rebah yakni, Inpari 42 Agritan, Inpari 47 WBC, Cakrabuawa Agritan dan Padjajaran Agritan. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·