Mahasiswa ULBI berbareng sejumlah mahasiswa dari negara ASEAN berjumpa dalam Global Supply Chain Summer Camp 2026, nan mempelajari rantai pasok perikanan Indonesia.(ISTIMEWA)
RANTAI pasok perikanan menjadi masalah krusial bagi Indonesia. Negara dengan kekayaaan laut nan besar ini sangat berkepentingan lantaran perikanan merupakan urat nadi perekonomian maritim.
Rantai pasok krusial untuk menjaga kesegaran ikan berbobot gizi tinggi dari nelayan hingga ke piring konsumen, meningkatkan devisa ekspor, serta menjamin kesejahteraan jutaan nelayan dan pelaku upaya di beragam daerah.
Pentingnya soal itu membikin Universitas Logistik dan Bisnis Internasional (ULBI) menggelar aktivitas Global Supply Chain Summer Camp 2026. Kegiatan ini menghadirkan peserta dari beragam negara di Asia Tenggara.
Tujuan aktivitas adalah mempelajari rantai pasok perikanan Indonesia, mulai dari proses penangkapan hingga pengedaran ke konsumen.
Kegiatan nan mengusung tema “From Sea to Table: Indonesia Fish Supply Chain Experience” ini diikuti peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam . ULBI menjadi tuan rumah.
Selama beberapa hari, para peserta diajak memandang langsung praktik rantai pasok perikanan di Indonesia melalui kunjungan lapangan dan obrolan akademik di kampus ULBI Bandung.
Rektor ULBI, Prof I Nyoman Pujawan, menjelaskan bahwa aktivitas tersebut merupakan program internasional nan berfokus pada pembelajaran sistem rantai pasok sektor perikanan Indonesia.
“Ini namanya Global Supply Chain Summer Camp, semacam aktivitas nan membahas supply chain perikanan di Indonesia. Pesertanya dari beragam negara, terutama Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Indonesia,” ujarnya, Jumat (12/6).
Menurut dia, sebelum mengikuti sesi kelas dan obrolan di kampus, para peserta terlebih dulu melakukan kunjungan ke pelabuhan perikanan dan sejumlah perusahaan pengolahan ikan. Hasil pengamatan tersebut kemudian menjadi bahan obrolan dan presentasi selama aktivitas berlangsung.
Agenda rutin
ULBI bertindak sebagai penyelenggara sekaligus tuan rumah dalam program internasional tersebut. Melalui aktivitas ini, kampus berupaya membangun suasana internasionalisasi nan lebih kuat di lingkungan akademik.
“Kami mau menumbuhkan suasana internasionalisasi di ULBI agar mahasiswa mempunyai kesempatan berada dalam lingkungan internasional. Mahasiswa perlu dibekali dunia mindset, sehingga tidak takut berinteraksi dengan orang asing maupun beraktivitas di luar negeri,” kata Nyoman.
Dia menambahkan, kehadiran peserta dan akademisi dari beragam negara juga menjadi bagian dari proses pembelajaran nan krusial bagi mahasiswa. Interaksi langsung dengan organisasi internasional bakal memperkaya wawasan serta pengalaman mahasiswa.
Program ini merupakan penyelenggaraan perdana di ULBI. Meski demikian, pihak kampus berencana menjadikannya agenda rutin tahunan dengan cakupan peserta nan lebih luas.
“Ini pertama kali di ULBI dan ke depan bakal kami lanjutkan. Bahkan jika memungkinkan pesertanya tidak hanya dari Asia Tenggara, tetapi juga dari negara-negara lain,” ujarnya.
Nyoman menjelaskan bahwa tema perikanan dipilih lantaran waktu penyelenggaraan nan relatif singkat, sehingga pembahasan perlu difokuskan pada satu sektor. Pada penyelenggaraan berikutnya tema dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan rumor rantai pasok nan berkembang.
“Indonesia mempunyai banyak komoditas dan rumor supply chain nan beragam. Tahun-tahun mendatang temanya bisa berbeda sesuai kebutuhan dan perkembangan nan sedang menjadi perhatian,” tandasnya.
Selain memperluas wawasan akademik, aktivitas ini juga menjadi sarana membangun jejaring internasional bagi mahasiswa maupun institusi.
Menurut Nyoman, hubungan kerja sama nan terjalin dengan beragam perguruan tinggi luar negeri membuka kesempatan pertukaran mahasiswa dan kerjasama akademik.
“Mahasiswa kami juga memerlukan kesempatan untuk belajar dan berjamu ke luar negeri. Saat ini ada empat mahasiswa ULBI nan sedang mengikuti aktivitas di Bangkok. Sebaliknya, peserta dari Bangkok juga datang ke sini. Ini adalah kesempatan nan sangat baik untuk mengembangkan internasionalisasi kampus,” tuturnya.
Perkuat hubungan antarmahasiswa
Sementara itu, perwakilan Malaysia, Head of Program Logistics and International Shipping Faculty of Science Universitas Tunku Abdul Rahman (UTAR), Mohd Azam Bin Din, menilai aktivitas nan digagas ULBI memberikan pengalaman berbobot bagi peserta internasional untuk memahami rantai pasok sektor perikanan Indonesia secara langsung.
Dia mengaku terkesan setelah mengunjungi Pelabuhan Perikanan di Muara Baru, Jakarta Utara, nan merupakan salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.
“Dari kunjungan itu, saya memandang Indonesia mempunyai sumber daya perikanan nan sangat besar, terutama ikan laut. Sebagai orang Malaysia, ini pertama kali saya memandang tuna dalam skala sebesar itu. Pengalaman ini sangat menarik lantaran kami dapat memandang langsung sumber daya, sistem, dan alur logistik nan mendukung industri perikanan Indonesia,” ungkapnya.
Menurut Azam, pengalaman tersebut menjadi bahan pembelajaran krusial bagi Malaysia dalam memahami pengelolaan logistik sektor perikanan. Kegiatan ini tidak hanya memberikan faedah akademik, tetapi juga memperkuat hubungan antarmahasiswa dan lembaga pendidikan tinggi di area Asia Tenggara.
“Saya mengucapkan selamat kepada ULBI atas penyelenggaraan aktivitas ini. Program ini sangat menarik, baik dari sisi logistik maupun hubungan akademik antara para peserta. Informasi dan hasil nan kami dapatkan di sini bakal menjadi bahan obrolan lebih lanjut di Malaysia,” tandasnya.
Melalui aktivitas Focus Group Discussion nan menjadi bagian dari rangkaian acara, UTAR dan ULBI juga berkomitmen memperluas kerjasama di bagian pendidikan, penelitian, serta pengembangan jaringan mahasiswa, khususnya nan berangkaian dengan logistik dan rantai pasok sektor perikanan.
Program tersebut diharapkan menjadi langkah awal penguatan kerja sama internasional sekaligus peningkatan kualitas sumber daya manusia di bagian logistik di area Asia Tenggara.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·