Jakarta, CNBC Indonesia - Ibu kota Rusia, Moskow, dihantam gelombang serangan pesawat tanpa awak (drone) besar-besaran nan diluncurkan oleh militer Ukraina hingga memicu kebakaran dahsyat di kilang minyak utama kota tersebut. Serangan udara jarak jauh ini tercatat sebagai salah satu operasi ofensif terdahsyat milik Kyiv ke jantung pertahanan Rusia dalam dua tahun terakhir.
Mengutip The Guardian, Kamis (18/6/2026), rentetan serangan drone ini sengaja menyasar akomodasi daya vital di area Kapotno, Moskow, dan memaksa otoritas berkuasa melakukan pemindahan massal di airport terbesar Rusia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menegaskan bahwa serangan presisi ini merupakan tindakan jawaban setimpal atas kebrutalan Rusia nan menghancurkan kompleks biara berhistoris warisan budaya UNESCO di Kyiv pada awal pekan ini.
Skala serangan udara nan masif ini betul-betul mengejutkan penduduk Moskow dan memicu kepanikan luar biasa di jejaring media sosial lantaran kota tersebut biasanya jarang mengaktifkan sirene sirine peringatan dini. Berdasarkan rekaman video nan beredar, kepulan asap hitam pekat tampak membumbung tinggi dari kompleks kilang minyak Kapotno, nan merupakan penyokong utama bagi 40% kebutuhan bensin dan 50% bahan bakar diesel di ibu kota Rusia.
Serangan ini langsung memicu kekacauan transportasi darat dan udara di Moskow, di mana jalur tol lingkar luar di dekat kilang ditutup total oleh Kementerian Dalam Negeri. Selain itu, Bandara Udara Sheremetyevo-bandara tersibuk di Moskow-bersama dengan Bandara Vnukovo dan Zhukovsky terpaksa menghentikan seluruh agenda penerbangan serta mengevakuasi para calon penumpang ke area parkir terbuka demi keselamatan.
"Pasukan pertahanan udara terus menghalau serangan berskala besar ini. Beberapa drone sukses mencapai kilang minyak Moskow dan merusak pusat perbelanjaan Sadovod di bagian tenggara kota. Setidaknya ada sekitar 180 drone nan mengarah ke ibu kota sukses kami jatuhkan," klaim Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin, mengenai situasi darurat di wilayahnya.
Kementerian Pertahanan Rusia mengeklaim bahwa sistem artileri pertahanan udara mereka secara total telah mencegat dan menghancurkan 555 drone Ukraina di beberapa wilayah sepanjang malam. Kendati demikian, hantaman drone berteknologi rudal hibrida Bars milik Kyiv ini terbukti sukses melumpuhkan operasional kilang Kapotno, memperparah krisis pasokan BBM domestik, dan memaksa Kremlin untuk mulai mengimpor bahan bakar melalui jalur laut bulan ini.
Keberhasilan Ukraina menembus tembok pertahanan udara Moskow memicu kemarahan mendalam di kalangan elite politik dan golongan radikal kanan Rusia. Sejumlah tokoh berpengaruh mendesak agar Presiden Vladimir Putin-yang saat ini tengah berada di Kazan untuk menjamu para pemimpin ASEAN-segera mengambil tindakan pembalasan nan kejam.
"Apa lagi nan kudu terjadi sebelum kita mulai bertempur dengan sungguhan? Mengapa kita tidak menggunakan senjata nuklir nan telah diciptakan dan ditimbun oleh para leluhur kita melalui jerih payah seluruh negeri justru untuk momen-momen seperti ini?" tulis miliarder ultrakonservatif Rusia, Konstantin Malofeev, melalui saluran Telegram pribadinya.
Kecaman serupa juga dilayangkan oleh Andrey Gurulyov selaku pensiunan Letnan Jenderal sekaligus perwakilan parlemen Rusia, nan meminta militer untuk menghantam Ukraina tanpa belas iba dan tanpa perlu berpikir terlalu lama. Di sisi lain, eskalasi di garis depan terus menyantap korban jiwa dari kedua belah pihak, termasuk kejadian jatuhnya korban sipil akibat serangan drone di wilayah Sumy, Enerhodar, Rostov, hingga wilayah perbatasan Belgorod.
Serangan mematikan ke Moskow ini terjadi hanya berselang beberapa jam setelah Zelensky mengumumkan adanya koordinasi krusial melalui sambungan telepon berbareng Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di sela-sela KTT G7 di Versailles. Prancis dan AS menegaskan kembali persatuan negara-negara Kelompok Tujuh untuk menyalurkan komitmen support pertahanan finansial serta militer baru nan lebih besar guna mendukung kedaulatan Ukraina.
(tps/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·