Generasi AI: Pendidikan Maju, Kemampuan Berpikir Mundur?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilutrasi Penggunaan AI dapat Melemahkan Daya Pikir. Source: GeminiAI

Alat ukur kemajuan pendidikan sering kali dilihat dari sisi kemajuan teknologi. Namun, apa gunanya pendidikan nan semakin modern jika keahlian berpikir kritis siswanya justru semakin melemah? Lantas, apakah kita sedang mencetak generasi nan lebih cerdas, alias hanya generasi nan semakin berjuntai pada mesin untuk berpikir?

Pertanyaan ini menjadi semakin mengusik kita di tengah hadirnya Artificial Intelligence (AI) nan nyaris digunakan di setiap aspek pembelajaran. Kini, siswa tidak lagi kudu membaca banyak kitab alias menghabiskan waktu berjam-jam mencari referensi. Cukup mengetik satu pertanyaan, AI dapat memberikan jawaban nan tampak logis, terstruktur, apalagi menyerupai tulisan akademik dalam hitungan detik saja. Kemudahan ini sering kali dipuji sebagai kemajuan pendidikan. Namun, di kembali kemudahan tersebut membikin kita semakin bertanya. Apakah teknologi betul-betul membikin siswa lebih cerdas, alias hanya membikin mereka lebih sigap mendapatkan jawaban?

AI Membantu Belajar alias Menggantikan Proses Berpikir?

Tidak dapat dipungkiri bahwa AI membawa banyak faedah bagi kemajuan bumi pendidikan. Teknologi canggih ini membantu siswa menyelami materi lebih cepat, mengakses info lebih luas, dan memperoleh mentor belajar nan tersedia selama 24 jam. Penggunaan dan pemanfaatan AI memang susah dihindari di tengah perkembangan digital nan sangat pesat.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa 72,78% masyarakat Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024. Angka ini menjadi nan tertinggi dalam satu dasawarsa terakhir. Sebagian besar pengguna internet berasal dari golongan usia muda sekaligus menjadi pengguna teknologi Artificial Intelligence (AI) paling aktif. Semakin banyak siswa nan menjadikan teknologi digital sebagai bagian dari aktivitas belajar sehari-hari.

Namun, semakin luas akses info tidak selalu menghasilkan keahlian berpikir nan semakin kritis dan kuat. Kemudahan memperoleh jawaban sering kali membikin proses berpikir menjadi sesuatu nan dianggap tidak lagi penting. Banyak siswa lebih tertarik menemukan jawaban tercepat daripada memahami gimana jawaban tersebut diperoleh.

Di sinilah timbul kejadian nan dapat disebut sebagai ilusi kecerdasan. Seseorang terlihat pandai lantaran bisa menghasilkan jawaban nan baik, cepat, dan akurat. Tetapi belum tentu memahami isi dari jawaban tersebut. AI bisa menyusun esai, merangkum buku, apalagi menjawab soal nan cukup kompleks. Akan tetapi, keahlian itu adalah keahlian mesin, bukan keahlian manusia. Ketika siswa hanya menyalin hasil nan diberikan AI tanpa proses kajian kritis, maka nan berkembang bukanlah daya pikir, melainkan ketergantungan mereka terhadap teknologi.

Masalah ini menjadi semakin serius lantaran keahlian berpikir kritis siswa Indonesia memang tetap menghadapi tantangan besar. Berbagai hasil asesmen pendidikan menunjukkan bahwa keahlian memahami informasi, menarik kesimpulan, dan mengevaluasi argumen tetap perlu ditingkatkan. Jika kondisi ini berjumpa dengan penggunaan AI nan tidak kritis, pendidikan berisiko kehilangan kegunaan utamanya, ialah melatih manusia untuk berpikir secara berdikari dan kritis.

Karena itu, pertanyaan di awal tulisan dapat mulai dijawab. Di era kemajuan teknologi digital saat ini, AI memang dapat membantu belajar, tetapi tanpa pengawasan dan literasi nan baik, AI juga dapat menggantikan proses berpikir nan semestinya dilakukan oleh siswa sendiri.

Ketika Sekolah Mengejar Teknologi, Tetapi Lupa Melatih Nalar

Menurut info lapangan, beberapa tahun terakhir, sekolah-sekolah di Indonesia berkompetisi mengangkat teknologi. Pembelajaran digital dijadikan metode utama, perangkat komputer diperbarui dan diperbanyak, dan beragam platform berbasis Artificial Intelligence (AI) mulai diperkenalkan. Secara keseluruhan, perihal ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia sedang berupaya beradaptasi dengan perubahan era nan semakin maju.

Namun, ada satu perihal nan sering terlupakan dalam euforia digitalisasi tersebut. Yaitu keahlian bernalar.

Data Rapor Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan bahwa proporsi siswa nan mencapai kompetensi minimum literasi pada tahun 2024 berada di nomor 70,03%, sedangkan numerasi mencapai 67,94%. Artinya, tetap ada sekitar tiga dari sepuluh siswa nan belum mencapai kompetensi minimum pada keahlian dasar tersebut. Data Faktual ini menunjukkan bahwa tantangan pendidikan Indonesia bukan hanya soal akses teknologi, tetapi juga pada kualitas keahlian berpikir siswa.

Banyak sekolah lebih bangga menunjukkan penggunaan teknologi terbaru dibandingkan membangun budaya diskusi, debat ilmiah, alias pembelajaran berbasis kajian kritis. Padahal keahlian menggunakan teknologi tidak otomatis membikin seseorang bisa berpikir kritis. Seseorang dapat sangat mahir menggunakan AI, tetapi tetap kesulitan membedakan kebenaran dan opini, mudah percaya info nan salah, alias tidak bisa mempertanggungjawabkan argumennya sendiri.

Pendidikan nan terlalu konsentrasi pada teknologi berisiko menghasilkan lulusan nan terampil menggunakan alat, tetapi lemah dalam memahami makna. Mereka sigap menemukan informasi, tetapi lambat mengevaluasi kebenarannya. Mereka bisa menghasilkan jawaban, tetapi tidak memahami argumen di kembali jawaban tersebut.

Pada titik inilah pendidikan menghadapi tantangan besar di era AI. Sekolah tidak cukup jika hanya mengajarkan langkah menggunakan teknologi, tetapi juga kudu mengajarkan langkah mempertanyakan teknologi. Siswa perlu dilatih untuk memverifikasi informasi, mengkritisi jawaban nan diberikan AI, serta membangun argumen berasas penalaran mereka sendiri.

Pada akhirnya, kemajuan pendidikan tidak dapat diukur hanya dari seberapa canggih teknologi nan digunakan di ruang kelas. Pendidikan nan betul-betul maju adalah pendidikan nan bisa melahirkan manusia nan berpikir kritis, kreatif, dan mandiri. Jika AI digunakan sebagai perangkat untuk memperkuat keahlian berpikir, maka teknologi bakal menjadi sekutu pendidikan. Namun jika AI justru menggantikan proses berpikir itu sendiri, kita mungkin sedang menyaksikan sebuah paradoks. Bagaimana pendidikan semakin modern, tetapi keahlian berakal manusianya semakin mundur.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan