UGM Duga Gas Hidrogen dari Limbah Ayam Picu Kebakaran 'Misterius' Rumah Sleman

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, alami 51 kebakaran misterius selama seminggu terakhir. Api membakar sembarang barang nan terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu, Jumat (29/5/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM merilis konklusi sementara mengenai puluhan kebakaran misterius nan terjadi di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.

Tim nan dipimpin Prof. Alva Edy Tontowi ini menemukan pemicu api berasosiasi dengan gas hidrogen.

"Kesimpulan sementara, keluarnya api berasosiasi dengan gas hidrogen," kata Alva dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6).

Dugaannya, gas hidrogen ini berasal dari fermentasi limbah pemotongan ayam. Diketahui, pemilik rumah mempunyai upaya pemotongan ayam nan berada di samping rumah sisi utara.

"Gas hidrogen diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam," katanya.

Lanjutnya, ada kemungkinan gas hidrogen itu berjumpa dengan gas nan mudah terbakar pada suhu kamar.

"Sangat dimungkinkan, berbareng dengan gas hidrogen tersebut ada gas lain nan lebih mudah terbakar pada suhu kamar, ialah gas fosfin (PH3), nan diduga bisa terbentuk dari material nan kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam," katanya.

"Gas fosfin ini sayangnya tidak mudah terdeteksi dan bakal lenyap terbakar jika berjumpa oksigen. Sangat dimungkinkan gas fosfin tersebut nan memicu terbakarnya gas hidrogen nan keluar bersamaan. Hal ini tetap perlu diselidiki secara lebih mendalam," katanya.

Rekomendasi dari UGM

Peneliti UGM pun mengeluarkan rekomendasi mengenai peristiwa ini sebagai berikut:

  • Sirkulasi udara dalam rumah dibuka selebar-lebarnya.

  • Pasang blower dan/atau kipas angin untuk menghalau kemungkinan rembesan gas berkumpul dalam kadar nan cukup untuk memantik api.

  • Mengeluarkan barang-barang nan mudah terbakar dari dalam rumah.

  • Tim UGM bakal membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah untuk menekan kemungkinan adanya kuman Clostridium nan berkedudukan dalam menghasilkan gas hidrogen.

Penelusuran UGM Sebelumnya

UGM meneliti di letak tersebut dari 30 Mei sampai 3 Juni.

Awalnya, UGM mendapat info dari Gegana Polda DIY bahwa terdeteksi adanya gas CH4 alias metana pada titik munculnya api.

"Kamera termal nan dibawa tim UGM mengindikasikan adanya anomali suhu pada letak munculnya api, namun tidak signifikan, hanya berkisar sampai 29 derajat Celsius. Artinya, suhu di area rumah dan sekitarnya tetap berada pada rentang suhu ambien dan tidak dijumpai anomali tinggi," katanya.

Pada 1 Juni, tim PKPE FT UGM melakukan penemuan gas.

Anomali gas nan terbaca cukup tinggi adalah gas H2 (hidrogen). Pada letak bilik mandi nan sempat keluar api, terbaca sampai 0,11.

"Pada waktu nan sama, terjadi kemunculan api di salah satu kamar. Tim mengukur kandungan gas di dekat titik api dan hasilnya terbaca adanya gas hidrogen nan sangat tinggi, sampai 0,40," katanya.

Pada Rabu, 3 Juni, pengukuran kembali dilakukan dengan perangkat lain dari Fakultas Teknik Kimia.

"Tidak terdeteksi adanya gas nan mudah terbakar selain gas hidrogen. Tim beranggapan bahwa kunci dari penyelesaian masalah ini adalah mengetahui sumber gas. Terdapat dua kandidat sumber gas, ialah limbah cair alias gas tanah," katanya.

Lebih lanjut, tim bakal memastikan keberadaan gas dalam tanah dengan melakukan penggalian dangkal di beberapa titik dan mengukur keberadaan gas. Sementara itu, dugaan sumber gas dari limbah cair tetap dalam tahap kajian laboratorium.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan