Uang Beredar selama Dieng Culture Festival 2026 Diperkirakan Rp50 Miliar 

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Uang Beredar selama Dieng Culture Festival 2026 Diperkirakan Rp50 Miliar  Dieng Culture Festival (DCF) 2026 resmi digelar di area dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada Jumat (28/8)(MI/Lilik Darmawan)

DIENG Culture Festival (DCF) 2026 resmi digelar di area dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Jumat (28/8). Memasuki penyelenggaraan ke-16, pagelaran tahunan tersebut tidak hanya menjadi panggung untuk memperkenalkan tradisi masyarakat Dieng, tetapi juga diarahkan sebagai penggerak ekonomi lokal. Diperkirakan duit nan beredar selama tiga hari event berjalan senilai Rp50 miliar.

Bupati Banjarnegara Amalia Desiana mengapresiasi konsistensi Pokdarwis dalam mempertahankan penyelenggaraan DCF hingga memasuki tahun ke-16.

Menurut Amalia, konsistensi tersebut menjadi kekuatan utama lantaran DCF sejak awal lebih menempatkan budaya sebagai roh utama festival. "Yang luar biasa dari aktivitas ini adalah rekan-rekan Pokdarwis dari awal sampai dengan tahun ke-16 ini konsisten untuk mengembangkan dan memperkenalkan budaya," kata Amalia.

DCF 2026 juga diperkuat dengan Festival Kopi Pegunungan Dieng. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah wilayah mengembangkan komoditas kopi nan mempunyai keterkaitan dengan agenda konservasi. "Banjarnegara kami mau menjadi kabupaten konservasi. Kami membawa rumor lingkungan, dan salah satunya melalui kopi," katanya.

Amalia juga membujuk masyarakat memandang area Dieng bukan berasas pemisah administratif antara Banjarnegara dan Wonosobo. Menurut dia, pengembangan area tersebut memerlukan kerjasama lintas wilayah.

"Ketika bertanya Dieng ini milik Wonosobo alias Banjarnegara, ini milik kita bersama. Tentunya kebudayaan ini milik kita bersama, pariwisata ini milik kita bersama," tegasnya.

Ia optimistis kerja sama beragam pihak dalam mengembangkan Dieng bakal memberikan faedah nan semakin luas bagi masyarakat. "Ketika kebersamaan ini kita rawat, kita gotong royong untuk mengembangkannya, insyaallah kemanfaatannya luar biasa dirasakan oleh masyarakat di sekitar dataran tinggi Dieng," katanya.

Amalia menyebut DCF sebelumnya telah memberikan akibat ekonomi nan cukup besar. Berdasarkan rilis Bank Indonesia, perputaran ekonomi nan muncul dari aktivitas tersebut di wilayah Banjarnegara mencapai sekitar Rp50 miliar. "Alhamdulillah berasas rilis Bank Indonesia, multiplier effect perputaran duit nan ada di wilayah Banjarnegara itu kurang lebih Rp50 miliar nan dirasakan oleh masyarakat," ujarnya.

Karena itu, pemerintah wilayah berambisi support masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan beragam pemangku kepentingan terus diperkuat. "Semangat terus menyukseskan Dieng Culture Festival ini menjadi arena melestarikan budaya dan gimana event-event ke depan bisa dirasakan kemanfaatannya, baik secara ekonomi maupun non-ekonomi, oleh masyarakat Banjarnegara," pungkasnya.

Sementara Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto Aswin Gantina menilai DCF mempunyai kapabilitas besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Salah satu indikatornya adalah masuknya pagelaran tersebut dalam 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.

Menurut Aswin, KEN mempunyai proses seleksi dan kurasi sehingga event nan masuk dalam program tersebut tidak hanya dinilai dari sisi daya tarik, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat dan perekonomian.

"DCF ini merupakan 10 besar dari Karisma Event Nusantara. Karisma Event Nusantara itu tidak sembarangan, diseleksi dan dikurasi. Selain acaranya memikat dan menarik, juga ada pertimbangan bahwa dampaknya besar," kata Aswin.

Ia berambisi perputaran ekonomi nan ditimbulkan DCF tahun ini dapat melampaui capaian tahun sebelumnya nan mencapai sekitar Rp50 miliar. "Kita berambisi tahun ini juga bisa lebih baik lagi," ujarnya.

Aswin memandang akibat tersebut tidak hanya muncul dari transaksi selama pagelaran berlangsung. Sektor penginapan, transportasi, kuliner, perdagangan, hingga UMKM turut mendapatkan faedah dari meningkatnya kunjungan wisatawan. "Selama tiga hari penyelenggaraan Dieng Culture Festival, promosinya lantaran menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara itu sampai luar negeri juga. Kita harapkan ini bisa memberikan akibat nan luas," katanya.

Tingginya aktivitas visitor juga terlihat dari tingkat keterisian penginapan dan penggunaan transportasi selama festival.

Di sisi lain, pelaku UMKM memperoleh ruang untuk menawarkan beragam produk kepada pengunjung. "UMKM kita lihat dari titik nol Dieng tadi, sudah banyak nan berdagang dan banyak juga pengunjungnya. Nah, ini kita lihat bahwa memang DCF ini bisa menggerakkan ekonomi," ujar Aswin.

Menurut dia, keterlibatan UMKM menjadi krusial lantaran menunjukkan bahwa akibat ekonomi pagelaran berkarakter inklusif. "Ini inklusif, tidak hanya nan besar-besar saja, perusahaan-perusahaan, tetapi juga mulai dari UMKM," katanya.

Festival tersebut sekaligus menjadi contoh gimana sebuah event budaya dapat melangkah beriringan dengan upaya pelestarian tradisi, perlindungan lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat.

Mengusung tema “Spirit of Harmony”, DCF 2026 mempertemukan unsur budaya, alam, seni, dan masyarakat nan selama ini menjaga tradisi leluhur. Sejumlah aktivitas budaya dan tradisi lokal disiapkan untuk dinikmati masyarakat serta visitor nan datang ke Dieng.

Ketua Pokdarwis Pandawa sekaligus Ketua Pelaksana DCF 2026, Alif Faozi, mengatakan tema “Spirit of Harmony” menggambarkan pentingnya membangun hubungan nan selaras antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam.

Menurut dia, DCF tidak semata-mata diarahkan menjadi aktivitas intermezo alias pariwisata. Festival tersebut mempunyai misi utama menjaga keberlangsungan budaya lokal sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Salah satu tradisi nan menjadi bagian utama DCF adalah Kirab Budaya dan Ruwatan Anak Gimbal. Ritual pencukuran rambut anak berbulu gimbal tersebut menjadi salah satu ikon budaya Dieng dan tahun ini direncanakan melibatkan 13 anak.

Rangkaian ritual dipusatkan di Kompleks Candi Arjuna dan diawali dengan kirab budaya. Wisatawan juga diajak berperan-serta dengan mengenakan busana budaya Nusantara.
 elain itu, DCF 2026 menghadirkan Kongkow Budaya sebagai ruang perbincangan nan mempertemukan tokoh masyarakat dan budayawan. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah untuk membahas sekaligus merawat kearifan lokal agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia