560 Juta Anak Kini Kena Panas Ekstrem Lebih Banyak daripada Generasi Sebelumnya

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Seorang wanita dan dua orang anak menyiramkan air ke badan mereka akibat cuaca panas ekstrem nan melanda India. Foto: SANJAY KANOJIA / AFP

Sebuah studi baru nan dilakukan peneliti dari Vrije Universiteit Brussel menyebut perubahan iklim membikin 560 juta anak di seluruh bumi saat ini terancam paparan panas ekstrem setiap tahun lebih banyak daripada generasi sebelumnya. Kondisi ini dapat meningkatkan akibat kesehatan, mulai dari gangguan keahlian tubuh mengatur suhu hingga akibat penyakit serius panas ekstrem.

Studi nan terbit di jurnal Science Advance menemukan anak-anak saat ini mengalami jauh lebih banyak hari dengan tekanan panas (heat stress) dibandingkan generasi sebelumnya. Beban tersebut diperkirakan bakal terus meningkat seiring kenaikan suhu global. Perubahan suasana akibat aktivitas manusia telah membikin setidaknya 560 juta anak usia 0 hingga 9 tahun mengalami setidaknya satu bulan tambahan paparan heat stress setiap tahun.

“Perubahan suasana saat ini sudah menyebabkan ratusan juta anak di seluruh bumi mengalami panas rawan nan menimbulkan akibat serius bagi kesehatan mereka,” kata Rosa Pietroiusti, penulis utama studi tersebut, dikutip Euro News.

Menurut Pietroiusti, ancaman tersebut menjadi lebih serius lantaran banyak anak hidup dalam kondisi nan membikin mereka susah melindungi diri dari panas. Kemiskinan, kualitas kediaman nan buruk, keterbatasan akses terhadap pendingin, serta sistem jasa kesehatan nan terbebani membikin keahlian anak menghadapi suhu ekstrem semakin terbatas.

Anak Lebih Rentan terhadap Panas Ekstrem

Kerentanan terhadap heat stress berbeda-beda berasas usia. Namun, bayi baru lahir, anak-anak, dan golongan lanjut usia termasuk nan paling berisiko mengalami akibat kesehatan akibat panas.

Seorang anak mengguyur badannya dengan air dari ember selama gelombang panas di Jacobabad, di Sindh Selatan, Pakistan, Rabu (11/5/2022). Foto: Aamir Qureshi/AFP

“Anak-anak sangat rentan terhadap akibat perubahan suasana dan bakal menghadapi akibat perubahan suasana nan semakin intens sepanjang hidup mereka,” tulis para peneliti dalam studinya.

Paparan panas nan dialami anak-anak apalagi jauh lebih besar dibandingkan golongan usia lainnya. Jumlah anak nan menghadapi tambahan paparan panas tersebut nyaris tiga kali lipat dibandingkan sekitar 190 juta orang berumur 60–69 tahun nan mengalami ancaman serupa.

Panas ekstrem rawan bagi tubuh lantaran dapat mengganggu keahlian manusia dalam mengatur suhu tubuh. Kondisi ini juga dapat memperburuk penyakit nan sudah ada dan meningkatkan akibat serangan panas (heatstroke), kandas ginjal, hingga kerusakan paru-paru.

Risikonya semakin besar pada anak-anak lantaran tubuh mereka tetap berkembang dan keahlian mengatur suhu tubuh belum sebaik orang dewasa. Anak-anak juga menghasilkan lebih sedikit keringat per kilogram berat badan dan mempunyai tingkat metabolisme lebih tinggi. Akibatnya, tubuh mereka dapat memanas lebih sigap ketika menghadapi suhu ekstrem.

Para peneliti menyebut ada sejumlah aspek nan membikin anak-anak semakin sering terpapar panas berbahaya. Peningkatan panas lembap akibat perubahan suasana paling besar terjadi di wilayah tropis dan negara-negara dengan tingkat kemiskinan lebih tinggi serta populasi nan relatif muda. Kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan Afrika Barat saat ini menjadi wilayah dengan jumlah anak nan paling banyak menghadapi heat stress berbahaya.

Anak-anak nan tinggal di wilayah paling terdampak juga condong menghadapi kerentanan sosial dan ekonomi nan lebih tinggi. Dampak panas dapat dirasakan secara langsung melalui tekanan panas pada tubuh maupun secara tidak langsung.

Ancaman tidak langsung tersebut antara lain peningkatan penyebaran penyakit nan ditularkan nyamuk, terganggunya pola pemberian makanan kepada anak, hingga meningkatnya akibat komplikasi saat persalinan.

Ilustrasi perubahan iklim. Foto: Shutter Stock

Ancaman nan Semakin Besar di Masa Depan

Proyeksi suhu dunia menunjukkan bahwa anak-anak kemungkinan bakal tetap menjadi golongan nan mengalami paparan panas secara tidak proporsional, apalagi ketika populasi bumi semakin menua.

Dalam skenario ketika suhu rata-rata dunia meningkat 1,5 derajat Celsius, diperkirakan sekitar 620 juta anak berumur 0 sampai 9 tahun bakal mengalami setidaknya satu bulan tambahan heat stress setiap tahun. Sementara sekitar 390 juta anak diperkirakan bakal mengalami total sedikitnya lima bulan heat stress setiap tahun.

Situasinya bakal semakin parah jika kenaikan suhu dunia mencapai 2 derajat Celsius. Dalam skenario tersebut, jumlah anak nan mengalami setidaknya satu bulan tambahan heat stress per tahun diperkirakan mencapai 650 juta orang. Adapun sekitar 420 juta anak diproyeksikan bakal mengalami sedikitnya lima bulan heat stress setiap tahun.

Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan suasana bukan sekadar persoalan kenaikan suhu rata-rata Bumi. Bagi anak-anak, semakin panasnya planet juga berfaedah semakin besar akibat terhadap kesehatan nan kudu mereka tanggung sepanjang hidup.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan