Turun Gunung Cek Minyakita di Pasar, Mendag Akui Jumlahnya Tak Banyak

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Stok minyak goreng rakyat alias Minyakita dikabarkan langka di pasaran. Menanggapi perihal tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui stok Minyakita tidak seperti minyak goreng pada umumnya.

Budi mengatakan Minyakita merupakan produk dari skema Domestic Market Obligation (DMO). Dengan begitu, jumlahnya memang terbatas.

"Saya selalu sampaikan Minyakita itu minyak DMO itu, minyak nan didistribusikan alias mandatori lantaran adanya ekspor. Jadi jumlahnya tidak seperti jumlah minyak nan lain," ujar Budi saat ditemui di Pasar Palmerah, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kendati begitu, Budi menekankan stok Minyakita kudu dijaga. Sebab, Minyakita bisa menjadi instrumen pengendali nilai minyak goreng.

"Sebenarnya Minyakita itu instrumen untuk stabilisasi harga. Fungsinya itu penyeimbang, agar jika nilai nan lain naik, ini menjadi penyeimbang. Fungsinya itu sebenarnya," tambahnya.

Saat ditanya mengenai stok dan tingginya harga, dia memastikan bahwa secara nasional stok Minyakita dalam kondisi aman. Menurut ia, salah satu hambatan nan dihadapi saat ini mengenai distribusi, khususnya ke wilayah Timur Indonesia seperti Papua dan Maluku.

Saat ini pemerintah menyalurkan Minyakita melalui BUMN Pangan, seperti Bulog dan ID Food. Menurut Budi, pengedaran oleh BUMN Pangan ini juga mempercepat penyaluran ke daerah-daerah di mana distributornya tidak banyak.

"Minyakita memang jika di wilayah Timur terutama Papua dan Maluku, memang tinggi. Tadi juga bulog sudah siap mensuplai," imbuh ia.

Terkait adanya temuan nilai rata-rata nasional campuran minyak curah, premium, dan Minyakita nan menembus Rp 19.000, Budi mengakui adanya tren kenaikan. Hal ini dipicu oleh nilai Crude Palm Oil (CPO) bumi nan sedang merangkak naik.

"Memang jika kita lihat seperti itu, lantaran di luar Minyakita pasti menyesuaikan dengan nilai CPO nan sedang naik sekarang. Mudah-mudahan jika semua sudah normal kembali, nilai juga mulai turun," terang Budi.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pemerintah terus memantau pergerakan nilai komoditas pangan, termasuk minyak goreng di Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Ia menyebut nilai minyak goreng di Pulau Jawa dan Sumatera relatif stabil di kisaran Harga Eceran Tertinggi (HET).

"Di Pulau Jawa dan Sumatera nan dekat, memang biru. Biru-hijau itu artinya sesuai HET. Tetapi nan mahal itu di Maluku dan Papua. Artinya apa? Artinya transportasi," ujar Zulhas.

Ia telah untuk menginstruksikan Perum Bulog agar segera menyuplai daerah-daerah terpencil termasuk Papua dan Maluku. Selain itu, dia juga bakal berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk memberikan subsidi ongkos angkut agar nilai di tingkat konsumen bisa ditekan.

"Nanti juga dengan Perhubungan. Karena Perhubungan itu memberikan subsidi transportasi agar transport-nya dapet subsidi ya sehingga nilai bisa ditekan," tambah Zulhas.

Sebelumnya, stok minyak goreng, di Pasar Senen, Jakarta Pusat dilaporkan seret. Beberapa pedagang minyak goreng mengatakan pasokan Minyakita sangat langka sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bahkan, kelangkaan tersebut membikin para pedagang enggan menjual Minyakita.

Salah satunya ialah Desi, di mana Ia mengungkapkan pasokan Minyakita sangat terbatas di Pasar Senen, membikin dirinya selalu tidak mendapat jatah Minyakita untuk dijual.

"Minyakita lagi langka, ya sepertinya sejak ada program MBG, di sini selalu enggak dapat, lantaran itu saya enggak mau jual dulu Minyakita," kata Desi dikutip dari CNBC Indonesia.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance