Presiden AS Donald Trump (kiri)(AFP)
DI tengah proses negosiasi nan tetap berlangsung, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras serangan militer terhadap Iran bisa kembali dilancarkan dalam waktu dekat andaikan Teheran kandas memberikan jawaban memuaskan dalam pembicaraan damai. Trump menyebut proses negosiasi saat ini berada di garis pemisah antara tercapainya kesepakatan alias pecahnya kembali perang.
Menurut dia, kesempatan diplomasi tetap terbuka, tetapi bisa tertutup sewaktu-waktu jika Iran tidak memenuhi tuntutan Washington. “Situasinya betul-betul di periode batas. Jika kami tidak mendapatkan jawaban nan tepat, semuanya bisa bergerak sangat cepat. Kami siap untuk itu,” kata Trump kepada wartawan di Joint Base Andrews, Rabu (20/5) waktu setempat.
Trump apalagi mengisyaratkan kesepakatan bisa tercapai hanya dalam hitungan hari. Namun, dia menegaskan Iran kudu memberikan jawaban agar serangan baru tidak dilakukan.
Di sisi lain, Iran mengonfirmasi telah menerima proposal terbaru dari Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di Timur Tengah nan pecah sejak Februari lalu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan pemerintahnya sedang mempelajari poin-poin nan diajukan Washington.
Meski begitu, Teheran tetap mengusulkan sejumlah syarat utama, termasuk pencairan aset Iran nan dibekukan serta penghentian blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ketegangan juga makin meningkat setelah Ketua Negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuding Amerika Serikat diam-diam tetap mau melanjutkan perang. Dia memperingatkan Iran bakal memberikan respons keras jika Washington kembali melancarkan agresi militer. “Musuh tetap mempunyai tujuan militer dan berupaya memulai perang baru,” ujar Ghalibaf.
Korps Garda Revolusi Iran juga mengeluarkan ancaman lebih keras. Mereka menyatakan perang baru tidak hanya bakal terbatas di Timur Tengah, melainkan dapat meluas ke beragam area lain.
“Jika agresi terhadap Iran kembali terjadi, perang berikutnya bakal melampaui area ini dan pukulan kami bakal menghancurkan kalian,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.
Meski saling mengancam, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Pakistan tetap berupaya menjadi mediator untuk mempertemukan kedua pihak. Kantor buletin resmi Iran melaporkan Menteri Dalam Negeri Pakistan kembali tiba di Teheran untuk melanjutkan pembicaraan damai.
Harapan terhadap tercapainya kesepakatan sempat memberi angin segar ke pasar global. Harga minyak bumi turun lebih dari lima persen setelah Trump mengisyaratkan kesempatan tenteram semakin dekat. Bursa saham Amerika Serikat juga menguat.
Namun situasi tetap rapuh. Selat Hormuz, jalur vital nan mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia, tetap belum sepenuhnya kembali normal. Iran sebelumnya memperketat lampau lintas kapal di area tersebut sedangkan Amerika Serikat menerapkan blokade tandingan terhadap pelabuhan Iran.
Militer Amerika apalagi mengumumkan telah menghentikan dan memeriksa kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman lantaran diduga melanggar pembatasan nan diberlakukan Washington.
Krisis di Selat Hormuz mulai memicu kekhawatiran lebih luas. Selain minyak dan gas, jalur tersebut juga menjadi lintasan sekitar sepertiga pengedaran pupuk dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB memperingatkan penutupan berkepanjangan bisa memicu lonjakan nilai pangan dunia dan mengguncang rantai pasok dunia.
Arab Saudi pun ikut mendesak Iran memanfaatkan kesempatan diplomasi nan tetap tersedia. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan memuji keputusan Trump nan tetap memberi ruang negosiasi. “Kami berambisi Iran memanfaatkan kesempatan ini untuk menghindari akibat rawan dari eskalasi,” ujarnya.
Sementara itu, militer Israel menyatakan tetap berada dalam status siaga tertinggi untuk mengantisipasi segala kemungkinan perkembangan situasi di kawasan. (AFP/Dhk/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·