Trump Sesumbar Tak Butuh China Meski AS Keteteran Akhiri Perang Iran

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan dirinya tidak memerlukan support China untuk mengakhiri perang melawan Iran, di tengah makin suramnya angan tercapai kesepakatan tenteram permanen dan makin kuatnya kontrol Teheran atas Selat Hormuz, jalur vital daya dunia.

Pernyataan itu disampaikan Trump menjelang pertemuan krusial dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini. Meski Washington sebelumnya berambisi Beijing bisa menggunakan pengaruhnya terhadap Iran, Trump sekarang menegaskan AS bisa menyelesaikan bentrok tersebut tanpa support pihak lain.

"Saya rasa kami tidak memerlukan support apa pun mengenai Iran. Kami bakal menang dengan satu langkah alias langkah lain, secara tenteram alias sebaliknya," kata Trump kepada wartawan, Selasa (12/5/2026) waktu setempat, sebagaimana dilansir Reuters.

Pernyataan Trump muncul ketika perang Iran-AS nan telah berjalan lebih dari dua bulan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Gencatan senjata rentan nan bertindak sejak awal April juga dinilai kandas membuka jalan menuju kesepakatan nan lebih luas.

Di saat diplomasi mandek, Iran justru dinilai memperkuat cengkeramannya atas Selat Hormuz. Sejumlah sumber nan mengetahui persoalan tersebut mengatakan Teheran mulai menjalin kesepakatan dengan Irak dan Pakistan untuk pengiriman minyak serta gas alam cair (LNG) dari area Teluk.

Beberapa negara lain juga disebut tengah menjajaki pola kerja sama serupa. Langkah itu dinilai dapat membikin kontrol Iran atas Selat Hormuz menjadi lebih permanen.

Padahal, jalur sempit tersebut selama ini menjadi urat nadi perdagangan daya dunia lantaran menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Sejak bentrok pecah, lampau lintas kapal di area itu tersendat akibat blokade dan ketegangan militer nan terus berlangsung.

Pemerintah Trump sendiri berupaya menunjukkan adanya kesamaan pandangan dengan Beijing mengenai pentingnya akses bebas di Selat Hormuz. Pemerintahan AS pada Selasa mengatakan pejabat senior AS dan China bulan lampau sepakat bahwa tidak boleh ada negara nan memungut "biaya" atas lampau lintas kapal di area tersebut.

China, nan tetap menjalin hubungan dekat dengan Iran dan tetap menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran, tidak membantah pernyataan itu.

Meski begitu, Trump diperkirakan tetap bakal membahas Iran dalam pertemuannya dengan Xi Jinping minggu ini. Washington disebut mau mendorong Beijing menekan Teheran agar menyepakati perjanjian dengan AS guna mengakhiri perang.

Tuntutan utama AS meliputi penghentian program nuklir Iran dan diakhirinya penguasaan Teheran atas Selat Hormuz.

Sebaliknya, Iran mengusulkan tuntutan balasan, termasuk kompensasi kerusakan akibat perang, penghentian blokade AS, serta penghentian perang di seluruh front bentrok termasuk di Lebanon, tempat sekutu AS Israel tetap bertempur melawan golongan Hizbullah nan didukung Iran.

Trump menyebut tuntutan Iran itu sebagai "sampah".

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengatakan kapal induk USS Abraham Lincoln saat ini berada di Laut Arab untuk menjalankan blokade AS. Menurut CENTCOM, kapal induk tersebut telah mengalihkan rute 65 kapal komersial dan melumpuhkan empat kapal lainnya.

Sementara itu, Pentagon mengungkap biaya perang telah mencapai US$29 miliar alias naik US$4 miliar dibanding perkiraan akhir bulan lalu. Seorang pejabat mengatakan kenaikan itu mencakup biaya operasional, perbaikan, dan penggantian peralatan militer.

Konflik juga mulai menekan ekonomi domestik AS. Harga bensin terus meningkat dan mendorong inflasi tahunan naik ke level tertinggi dalam nyaris tiga tahun.

Survei menunjukkan perang Iran tidak terkenal di mata publik AS, terutama menjelang pemilu nasional nan bakal menentukan apakah Partai Republik bisa mempertahankan kebanyakan di Kongres.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos nan selesai pada Senin menunjukkan dua dari tiga penduduk AS menilai Trump belum bisa menjelaskan secara jelas argumen negaranya bertempur dengan Iran. Angka itu mencakup satu dari tiga pemilih Partai Republik dan nyaris seluruh pemilih Demokrat.

Di pihak lain, pejabat Iran tetap menunjukkan sikap keras.

Laporan instansi buletin Fars mengutip seorang pejabat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran nan mengatakan Teheran telah memperluas arti wilayah Selat Hormuz menjadi area nan membentang dari pesisir kota Jask di timur hingga Pulau Siri di barat.

Di Teheran, IRGC juga menggelar latihan militer nan disebut televisi pemerintah "berpusat pada persiapan menghadapi musuh".

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News