FAO Perkirakan Harga Daging Global Tetap Tinggi Sepanjang 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi toko daging. Foto: Shutterstock

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) memperkirakan nilai daging bumi bakal tetap berada pada level tinggi sepanjang 2026 di tengah terbatasnya pasokan ekspor global, kuatnya permintaan impor, dan akibat ketegangan geopolitik nan tetap membayangi perdagangan internasional.

Dalam laporan Food Outlook Biannual Report on Global Food Markets jenis Juni 2026, FAO memperkirakan produksi daging bumi hanya tumbuh 1 persen secara tahunan menjadi 391 juta ton dalam satuan setara berat karkas (carcass weight equivalent).

“Produksi daging bumi diperkirakan tumbuh dengan laju nan lebih lambat pada 2026, meningkat 1,0% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 391 juta ton (setara berat karkas),” tulis arsip FAO, dikutip Minggu (21/6).

Pertumbuhan produksi ini lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan tetap menghadapi beragam risiko, mulai dari pandemi penyakit hewan hingga meningkatnya biaya produksi akibat ketidakpastian geopolitik.

FAO menyebut daging unggas bakal tetap jadi motor utama pertumbuhan produksi global. Harga nan relatif lebih terjangkau dan siklus produksi nan lebih singkat membikin industri unggas lebih sigap merespons perubahan permintaan pasar maupun pemulihan setelah pandemi penyakit.

“Produksi daging babi diperkirakan meningkat secara moderat, lantaran peningkatan produktivitas dari perbaikan genetika dan manajemen peternakan nan lebih baik sebagian diimbangi oleh pengurangan populasi indukan, terutama di China,” lanjut arsip itu.

Di sisi lain, produksi daging sapi dunia justru diperkirakan menurun pada 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh upaya pembangunan kembali populasi ternak sapi di AS dan mulai munculnya tren serupa di Brasil nan menyebabkan pasokan ke pasar menjadi lebih terbatas.

Produksi daging domba juga diproyeksikan turun akibat berkurangnya populasi ternak dan penurunan aktivitas pemotongan hewan, khususnya di area Oceania.

Meski produksi tumbuh terbatas, perdagangan daging bumi diperkirakan tetap meningkat 1,1 persen menjadi 43,9 juta ton pada 2026.

“Pola perdagangan semakin dipengaruhi oleh kondisi pasokan domestik dan perubahan kebijakan di masing-masing negara,” jelas FAO.

Kondisi pedagang daging sapi di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, dan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Negara-negara nan mengalami keterbatasan produksi dalam negeri akibat aspek struktural, penyakit ternak, maupun siklus populasi hewan diperkirakan tetap mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Selain aspek pasokan, ketegangan geopolitik tetap menjadi sumber akibat utama bagi perdagangan daging dunia.

Menurut FAO, bentrok nan meningkat di area Timur Tengah telah mengganggu jalur pelayaran dan logistik internasional, mendorong kenaikan nilai daya dan biaya pengangkutan, serta membatasi akses ke sejumlah pasar penting.

Jika bentrok dapat diselesaikan, tekanan terhadap rantai pasok diperkirakan bakal mereda. Namun, FAO mengingatkan bahwa proses normalisasi perdagangan dunia kemungkinan memerlukan waktu nan tidak singkat.

instagram embed

Bagi negara-negara nan berjuntai pada impor energi, lonjakan nilai daya juga berpotensi memperburuk inflasi, menekan daya beli masyarakat, dan mengurangi permintaan terhadap produk daging nan mempunyai nilai relatif lebih mahal.

Sejalan dengan kondisi tersebut, FAO mencatat Indeks Harga Daging FAO mengalami kenaikan selama lima bulan pertama 2026. Kenaikan nilai didukung oleh terbatasnya pasokan ekspor dunia serta tetap kuatnya permintaan impor di beragam negara.

FAO juga menyoroti pandemi penyakit hewan nan tetap berjalan di sejumlah wilayah dan perubahan kebijakan perdagangan internasional telah meningkatkan volatilitas pasar, sehingga memperkuat tekanan kenaikan nilai daging bumi sepanjang tahun ini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan