Jakarta, CNBC Indonesia - Laporan mengenai ketegangan hubungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan. Namun, sejumlah analis menilai beragam kebocoran info mengenai perselisihan keduanya lebih merupakan bagian dari strategi komunikasi politik daripada mencerminkan perubahan nyata dalam kebijakan Washington terhadap Israel.
Media Axios melaporkan bahwa Trump sempat menyebut Netanyahu "sangat gila" dan memarahinya mengenai eskalasi operasi militer Israel di Lebanon. Namun, para pengamat menegaskan bahwa nan lebih krusial bukanlah isi percakapan tertutup para pemimpin, melainkan kebijakan nan diterapkan di lapangan.
"Yang betul-betul krusial adalah apa nan sebenarnya terjadi dalam praktiknya," kata Direktur Kebijakan National Iranian American Council Action (NIAC) Ryan Costello kepada Al Jazeera, dikutip Rabu (3/6/2026).
Laporan mengenai ketegangan antara pemimpin AS dan Israel sebenarnya bukan perihal baru. Pada masa pemerintahan Joe Biden, sejumlah media juga beberapa kali mengabarkan adanya hubungan nan memburuk antara Gedung Putih dan Netanyahu, terutama di tengah perang Gaza nan dimulai pada Oktober 2023. Namun, support AS terhadap Israel tetap bersambung tanpa perubahan berarti.
Manajer Advokasi organisasi kewenangan asasi manusia DAWN, Isabelle Hayslip, menilai narasi bahwa Trump bersikap keras terhadap Netanyahu tidak sejalan dengan realitas kebijakan nan terjadi. Menurutnya, pemerintah Israel tetap memperoleh support nan diinginkan dari Washington.
"Laporan nan menggambarkan Trump mengangkat telepon dan meneriaki Netanyahu bertentangan dengan hasil kebijakan nan menunjukkan Netanyahu mendapatkan persis apa nan diinginkannya," ujar Hayslip.
Kontroversi ini muncul ketika Trump menghadapi tekanan politik mengenai perang melawan Iran nan diluncurkan berbareng Israel pada Februari lalu. Konflik tersebut memicu gangguan di Selat Hormuz, mendorong kenaikan nilai daya global, serta meningkatkan tekanan inflasi di AS.
Di saat nan sama, upaya diplomatik untuk mengakhiri bentrok tetap mengalami kebuntuan. Eskalasi militer Israel di Lebanon apalagi dinilai berisiko menggagalkan gencatan senjata rentan nan mulai bertindak pada April lalu.
Meski Trump sebelumnya menyatakan telah berbincang dengan Netanyahu dan perwakilan Hizbullah mengenai penghentian tembak-menembak, pemerintah Israel tetap menegaskan operasi militernya di Lebanon selatan bakal terus bersambung sesuai rencana.
Para pendukung Palestina dan sejumlah golongan kewenangan asasi manusia beranggapan operasi militer Israel di Gaza maupun Lebanon tidak bakal berjalan tanpa support politik, diplomatik, dan militer dari AS. Sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, Washington telah memberikan support militer nyaris US$25 miliar kepada Israel.
Peneliti senior Center for International Policy, Negar Mortazavi, menilai kebocoran mengenai percakapan tegang antara Trump dan Netanyahu kemungkinan bermaksud meredakan kritik publik terhadap keterlibatan AS dalam bentrok area Timur Tengah.
"Ini bisa menjadi langkah untuk meredam kemarahan atas perang nan tidak populer, ilegal, dan tidak perlu ini," kata Mortazavi.
Namun, dia menegaskan bahwa retorika dan laporan anonim tidak cukup untuk mengukur arah kebijakan suatu negara. Menurutnya, nan terpenting adalah apakah terdapat perubahan nyata di lapangan setelah beragam laporan tersebut muncul.
Sementara itu, Costello mempunyai pandangan berbeda. Ia menilai kebocoran tersebut mungkin ditujukan kepada Iran sebagai sinyal bahwa Trump tetap berupaya memisahkan negosiasi dengan Teheran dari tindakan militer Israel di Lebanon.
Mortazavi juga mengingatkan bahwa bentrok antara AS, Israel, dan Iran tidak hanya berjalan di medan perang, tetapi juga di ranah informasi. Menurutnya, beragam pihak berupaya membentuk persepsi publik melalui narasi, disinformasi, separuh kebenaran, hingga kebocoran strategis nan sengaja disebarkan kepada media.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·