Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah sekutu Amerika Serikat (AS), menolak blokade Selat Hormuz. Sebelumnya blokade diumumkan Presiden AS Donald Trump, Minggu, di mana penutupan bakal dimulai Senin (13/42026) ini.
Inggris misalnya, menegaskan tidak bakal berasosiasi dalam rencana Trump di tengah eskalasi ketegangan ASdengan Iran. Mengutip Bloomberg dan The Guardian, pemerintah Inggris menyatakan tetap berkomitmen menjaga keterbukaan jalur pelayaran vital tersebut.
"Kami bakal terus mendukung kebebasan navigasi dan keterbukaan Selat Hormuz, nan sangat dibutuhkan untuk stabilitas ekonomi dunia dan biaya hidup domestik," kata ahli bicara pemerintah Inggris.
Meski begitu, London juga menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak boleh dikenakan pungutan sepihak. Sebelumnya Iran mewacanakan memungut US$ 2 juta per kapal.
"Selat Hormuz tidak boleh dikenakan bea masuk. Kami segera bekerja sama dengan Prancis dan mitra lainnya untuk membentuk koalisi luas guna melindungi kebebasan navigasi," lanjutnya.
Sikap ini menandai perbedaan pendekatan nan kian jelas antara Inggris dan AS. Jika Washington mendorong langkah militer melalui blokade, Inggris justru memilih jalur kerja sama multilateral untuk menjaga keamanan maritim.
Komentar sama juga dikatakan Spanyol. Blokade angkatan laut Selat Hormuz nan diumumkan Trump disebut "tidak masuk akal".
"Saya juga berpikir itu sesuatu nan tidak masuk akal... Ini satu lagi bagian dalam spiral penurunan nan telah kita alami," kata Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles
dalam sebuah wawancara di televisi publik Spanyol, dimuat AFP.
Sementara itu, Turki menyerukan Selat Hormuz kudu dibuka "sesegera mungkin". Negosiasi dengan Iran kudu dilakukan.
"Metode persuasi kudu digunakan, dan selat kudu dibuka sesegera mungkin," kata menteri luar negeri Turki Hakan Fidan kepada instansi buletin resmi Anadolu.
(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·