Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan perjanjian minyak baru dengan presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez. Menurut Trump, Amerika Serikat (AS) bakal memegang kendali kebanyakan atas persediaan minyak terbukti Venezuela sebesar 65 miliar barel.
Rincian syarat perjanjian tersebut belum sepenuhnya terungkap. Namun, mengutip The Guardian, Presiden Trump menyampaikan melalui media sosialnya bahwa perjanjian ini diperantarai "melalui kemitraan dengan sektor swasta" oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
"Kami telah mengamankan kendali kebanyakan AS atas lebih dari 65 MILIAR BAREL persediaan minyak terbukti di Venezuela, tanpa biaya bagi rakyat pembayar pajak Amerika." terang pemerintahan AS, mengutip The Guardian, Minggu (30/8/2026).
Trump menyatakan perjanjian ini bakal lebih dari melipatgandakan persediaan minyak Amerika Serikat.
"Ini adalah kemenangan besar bagi rakyat Amerika maupun rakyat Venezuela," tulis Marco Rubio di media sosial.
Pengumuman Trump belum menyertakan rincian mengenai struktur perjanjian, letak ladang minyak, perusahaan nan terlibat, maupun sistem gimana AS bakal menjalankan kendali kebanyakan atas persediaan tersebut.
Sebagai informasi, Venezuela mempunyai sekitar 303 miliar barel persediaan minyak terbukti - terbesar di dunia.
Sejak AS menggulingkan mantan presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari lalu, Washington berupaya menjaga aliran minyak mentah Venezuela tetap mengalir ke kilang-kilang AS, sekaligus mendorong investasi Amerika ke sektor daya negara tersebut nan sedang memburuk. Saat ini produksi minyak mentah Venezuela mencapai 1,25 juta barel per hari.
Trump juga sedang menghadapi tekanan menjelang pemilihan paruh waktu November mengenai kenaikan nilai bensin. Akses terhadap minyak nan lebih murah dan peningkatan produksi diharapkan dapat meredakan tekanan tersebut. Selain itu, AS juga sedang mencari langkah untuk mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis nasionalnya.
Sebelumnya, pada awal minggu ini, Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang dalam pembicaraan lanjutan untuk mengambil saham langsung di lebih dari selusin ladang minyak Venezuela nan menyimpan sekitar sepertiga dari total persediaan daya negara itu. Media lain, Axios, juga melaporkan negosiasi tersebut dengan menyebut kesepakatan ini bakal "sangat besar".
Pembicaraan berpusat pada ladang minyak dan gas paling potensial di Venezuela nan mempunyai persediaan sekitar 90 miliar barel.
Rencana ini memicu kemarahan kalangan oposisi Venezuela, nan kecewa lantaran Trump belum mewujudkan perubahan politik nan nyata pasca-penggulingan Maduro.
"Ini adalah perampasan tanah - perampasan tanah besar-besaran," ujar seorang tokoh oposisi terkenal nan enggan disebut namanya. "Ini memuakkan... Ini bukan Amerika Serikat nan kami harapkan. Bukan Amerika Serikat semasa Rencana Marshall. Ini Amerika Serikat nan serakah dan ibaratkan mafia."
Pengumuman ini muncul berbarengan dengan berita bahwa perusahaan daya AS seperti Chevron dijadwalkan bakal menandatangani kesepakatan investasi berbobot miliaran dolar di ladang minyak Venezuela pada minggu depan.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·