Tribut kepada 8 Ksatria Peliput Anak Krakatau

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Tribut kepada 8 Ksatria Peliput Anak Krakatau Eben E Siadari, Penulis dan Editor Bersertifikat, Mahasiswa Program Magister Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta(Dok. Pribadi)

SAYA tidak pernah melupakan percakapan di hari  pertama bekerja sebagai wartawan 36 tahun lalu.

Setelah melewati serangkaian tes tertulis dan wawancara, kami berlima, semuanya fresh graduate (tiga lulusan IPB, satu lulusan Unpad, dan satu lulusan Unand) resmi diterima sebagai calon reporter.
Hari itu kami diarahkan berkumpul ke ruang rapat. Kami dijadwalkan  berkenalan dengan redaktur pelaksana (redpel) sekaligus mendapat pengarahan darinya. Itulah awal dari masa perkenalan selama sepekan. Lalu dilanjutkan dengan  masa magang, percobaan, dan training selama sembilan bulan.

Saya ingat Pak Redpel memasuki ruang rapat membawa selembar kertas karton tergulung. Setelah saling memperkenalkan diri, dia membuka lembaran kertas karton nan dia bawa tadi. Sebuah kalimat tertulis di sana: “No News in This Room.”
Ia menggunakan kalimat di karton itu untuk memperkenalkan tugas utama seorang reporter: wartawan kudu di lapangan, sedekat mungkin dengan peristiwa. Wartawan, menurut beliau, tempatnya di jalan, di pasar, di ruang mayat, di reruntuhan gempa, dan seterusnya. Belakangan saya tahu bahwa no news in this room memang sebuah frasa nan cukup popular di bumi jurnalistik.

Di awal abad 20 berita-berita keras (hard news) menjadi jualan utama surat kabar. Para penyunting bakal sangat marah jika reporter terlalu lama mengobrol dan mengetik di instansi lantaran itu berfaedah mereka tidak bakal pernah bisa mendapatkan breaking news. Filosofi kerja reporter ketika itu sangat radikal. Sebuah buletin hanya tercipta jika wartawan meninggalkan ruangan dan pergi ke tempat kejadian perkara (TKP).

Muncul julukan shoe-leather journalism, jurnalisme sol sepatu, metafora menggambarkan gimana reporter menghabiskan sebagian besar waktunya melangkah kaki dari satu pintu ke pintu lain, mengejar dan menggali buletin sampai-sampai sol sepatu kulit mereka betul-betul aus.

Jurnalisme sol sepatu mengharuskan reporter betul-betul datang dalam peristiwa. Mereka jadi saksi mata. Informasi nan diperoleh kudu dari tangan pertama. No News in This Room (atau No News in the Newsroom) menjadi nasihat standar bagi para reporter pemula.
“Sangat susah mendapatkan apa pun jika hanya duduk di belakang meja,” kata Bill Wundram, seorang wartawan The Quad-City Times nan baru berakhir dari bumi jurnalistik di usia 93 pada 2022 setelah bekerja lebih dari 74 tahun.

Spirit No News in This Room

Nasihat No News in This Room itu menyembul di akal tatkala saya membaca buletin tentang hilangnya lima wartawan berserta tiga kru kapal nan mereka tumpangi dalam upaya meliput letusan Gunung Anak Krakatau 7 September lalu.

Di sela-sela membaca banyak buletin tentang beragam golongan masyarakat nan memanjatkan angan bagi keselamatan Bagus, Arbas, Yudis, Daus, Donal, Warta, Surakman, dan Heriyanto, saya membayangkan mereka sebagai sosok-sosok nan digerakkan oleh antusiasme ‘No News in This Room.’ Profil Bagus dkk memperlihatkan mereka bukan orang baru di pekerjaan masing-masing. Mereka juga tampaknya sudah berilmu meliput bencana.

Bagus (Muhammad Bagus Khoirunas), pewarta foto dari LKBN Antara, sudah menjadi wartawan sejak 2018. Ia pernah meliput tsunami di Banten. Ayahnya mengenal anak tunggalnya itu sebagai seorang pemberani.

Pengalaman Arbas (Arie Basuki), wartawan dari Merdeka.com, lebih panjang lagi. Ia sudah jadi wartawan sejak 1998. Arbas tercatat pernah meliput Tsunami Aceh 2004, Konflik Poso, Gempa dan Tsunami Palu,  hingga meliput Perang Sipil Libya pada 2011. Ia telah meraih beragam penghargaan dari dalam dan luar negeri, termasuk dari  World Press Photo.

Yudis (Yudistiro Pranoto), wartawan dari iNews, bekerja sebagai wartawan sejak 19 tahun lalu. Rekan-rekannya mengakui ketajamannya mengabadikan sisi emosinal peristiwa. Simpatinya pada kemanusiaan dia tuangkan dalam satu postingannya di akun medsosnya saat meliput unjuk rasa Agustus 2026 nan menjadi viral. "Tidak Ada Berita Seharga Nyawa."

Daus (Firdaus Wajidi), tercatat pernah bekerja penuh waktu untuk Anadolu Agency —kantor buletin internasional milik pemerintah Turki—pada rentang waktu Maret 2018 hingga Agustus 2023 di Jakarta. Saat peristiwa peliputan Gunung Anak Krakatau, dia bekerja sebagai kamerawan lepas untuk instansi buletin tersebut.

Donal (Donal Husni), pekerja media alias wartawan foto lepas, sudah menekuni pekerjaannya sejak 2010. Lulusan Diploma Kesehatan Masyarakat UI 1998 ini memperdalam keahlian jurnalistiknya secara umum dengan menempuh pendidikan di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA).  Karya-karyanya didistribusikan secara global, antara lain melalui agensi foto internasional NurPhoto dan Reuters Connect.

Bersama kelima wartawan tersebut,  tiga kru kapal nan ikut lenyap dalam rombongan juga mempunyai jam terbang tinggi.
Warta, 55 tahun, kapten kapal, dikenal sebagai  pelaut lokal senior. Ia cukup lama menekuni pekerjaannya, menavigasi ombak dan arus Selat Sunda.

Surakman, 60 tahun, mempunyai pengalaman puluhan tahun dalam pemeliharaan teknis kapal serta mitigasi keselamatan darurat di laut.

Sedangkan Heriyanto, 49 tahun, pemandu wisata lokal senior nan berbasis di area Carita, Pandeglang. Ia  sering mengantarkan rombongan visitor maupun kunjungan dinas menuju wilayah Gunung Anak Krakatau.

Dengan rekam jejak demikian, susah mengatakan bahwa para wartawan dan pelaut nan luar biasa ini tidak memperhitungkan beragam akibat nan mereka hadapi.

Maju Ketika Semua Mundur

Ketika negara memerintahkan semua orang untuk mundur, berlindung di dalam rumah, dan mengunci pintu dari paparan abu, mereka melangkah maju menembus ombak Selat Sunda. Mereka meninggalkan kenyamanan newsroom dan mendekat sedekat mungkin ke TKP. Ketika penduduk Jakarta cukup puas menyaksikan para news anchor membaca teks buletin di bawah pendar lampu studio nan hangat dan steril, Bagus dkk pergi untuk memperoleh buletin dari tangan pertama.

Tatkala para pejabat mengarahkan pandangan pada layar digital lebar di war room, nan sekali sentuh menampilkan beragam info dan gambar satelit, delapan kesatria itu pergi untuk memastikan tombol-tombol layar sentuh itu mengatakan kebenaran sebenarnya.
Bagus dkk meruntuhkan stereotip media di era digital nan sering dituduh hanya pemburu klik, penyebar sensasi, alias perpanjang tangan rilis resmi penguasa.

Di saat publik dilanda demam logika imitasi (AI) dan pemujaan berlebih pada info makro, Bagus dkk meneguhkan pameo klasik bahwa masalah tidak bisa diselesaikan dari belakang meja. Ketika bumi semakin percaya  pada algoritma big data, Bagus dkk menyampaikan pesan penting: datang langsung ke akar masalah sangat perlu selain membaca info dari jarak aman.

Di era nan ditandai oleh arus info cepat, peliputan digital, dan konten buatan AI, kewartawanan sol sepatu alias kewartawanan lapangan menjadi sangat krusial meskipun berisiko tinggi. Jurnalisme info memang sekarang sedang naik daun, dengan kajian dan peliputan jarak jauh nan membikin langkah kerja ruang redaksi memusatkan perhatian pada monitor komputer dan gawai digital sebagai pusat aktivitas reportase.

Namun, letusan Gunung Anak Krakatau menunjukkan bahwa peliputan berbasis elektronik saja tidak dapat menggantikan kedalaman, akurasi, dan pemahaman manusiawi nan diperoleh dengan datang dan bergesekan langsung dengan letak saat peristiwa berlangsung.

Hanya dengan peliputan lapangan wartawan dapat mengumpulkan kebenaran dari sumbernya dan melaporkan berasas bukti primer. Ini adalah langkah paling telak untuk mengeliminasi unsur-unsur spekulatif nan beredar masif di ranah publik saat bencana.

Liputan lapangan juga memberikan konteks nan tidak dapat disediakan peliputan jarak jauh. Mereka nan duduk di belakang meja kerap menyederhanakan masalah menjadi hitam dan putih, betul dan salah, lantaran terbiasa membaca info nan telah diekstraksi dan diabstraksi. Ini menyebabkan perangkap bias nan ekstrem: terlalu kritis alias terlalu optimistis pada laporan berita.

Di sini peran krusial peliputan dari pintu ke pintu, kendati sol sepatu kudu menipis. Di lapangan para wartawan menghadapi dan mengalami konteks, nan memberi mereka lensa untuk memandang nuansa. Konteks sosial, budaya, politik, apalagi ganasnya alam memberi wartawan pemahaman lebih kaya untuk tidak segera memberi penghakiman atas realitas.

Tanpa kehadiran wartawan langsung di lapangan, tulis Free Press Alliance dalam artikelnya ''Why field research matters: The foundation of credible journalism'' (2026) lapisan-lapisan krusial dari sebuah cerita bakal tetap tersembunyi. Peliputan lapangan memberi kesempatan para wartawan mengoreksi bias nan ada di bawah sadar mereka. Dengan menghadapi kondisi bumi nyata, wartawan terdorong untuk meninjau kembali dugaan mereka nan terbentuk bertahun-tahun di newsroom. Berkonfrontasi dengan kebenaran di lapangan mengurangi akibat melanggengkan stereotip alias narasi nan tidak lengkap.

Di atas semua itu, menangkap dimensi manusiawi adalah aspek nan paling tak tergantikan oleh laporan dari lapangan. Statistik dapat memaparkan tren, kata Free Press Alliance, namun tidak dapat sepenuhnya menyampaikan pengalaman hidup nan nyata.

Dimensi manusiawi ini sangat penting, tidak hanya untuk penyampaian cerita tetapi juga untuk akuntabilitas. Ia memastikan kewartawanan tetap terhubung dengan publik nan dilayaninya, alih-alih menjadi terasing dari mereka.

Ketika para wartawan datang dari lapangan dan menunjukkan gimana duduk perkara sebenarnya, mereka menjadi pahlawan bagi pekerjaan mereka. Kontribusi otentik mereka dapat merengkuh kembali kepercayaan publik terhadap media nan sudah cukup lama tergerus.

Mencintai Kebenaran Mengalahkan Rasa Takut

Bagus dkk berangkat ke medan tugas dengan mengambil akibat nan tidak biasa. Saya menyebut mereka sebagai kesatria-kesatria nan mencintai kebenaran melampaui rasa takut mereka sendiri.

Mereka mempertaruhkan nyawa, seperti para tenaga medis nan berjuang membantu penderita Covid-19, para kru Damkar nan berjuang memadamkan api, dan profesi-profesi lain nan sering kudu berhadap-hadapan dengan maut.
Mereka adalah manusia-manusia dengan integritas tegak lurus kepada panggilan tugas nan tidak bisa dibeli oleh algoritma mana pun. Musibah nan mereka hadapi memberi banyak pelajaran, tetapi bukan untuk menebalkan rasa takut.

Sebagai sebuah tribut, esai ini mau berpesan agar peristiwa hilangnya para wartawan dan tiga kru kapal nan membantu mereka menjadi kurikulum kehidupan bagi anak-anak nan hari ini belajar di rumah melalui layar gawai mereka. Di kembali setiap info bersih nan mereka baca ada manusia nan menembus angin besar abu untuk memverifikasinya.

Peristiwa ini memberi pelajaran literasi dan empati: bahwa berita  bukan sesuatu nan dikerjakan sembari lalu, melainkan hasil dari keringat, komitmen etis, dan terkadang pertaruhan nyawa.

Ini menjadi momen nan baik untuk mendidik generasi muda agar menghargai kebenaran di atas rumor, dan menghormati pekerjaan pers sebagai penjaga gerbang kebenaran bagi publik.

Bagi para mahasiswa jurnalistik nan tengah menatap pekerjaan mereka di masa depan, kewartawanan sol sepatu nan dipraktikkan oleh para kesatria Gunung Anak Krakatau ini menjadi inspirasi. Ia layak dibangkitkan kembali dalam dimensi masa kini.

Di tengah disrupsi teknologi dengan segala kemudahan dan tantangannya, kewartawanan adalah sains tentang verifikasi dan saksi mata terkini.  Jurnalisme bekerja untuk dekat dan setia pada realitas apalagi ketika bumi memilih bersembunyi. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia