Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono mengakui industri udang nasional tetap menghadapi sejumlah persoalan mendasar, nan membikin daya saing sektor tersebut belum optimal. Salah satu dampaknya, nilai udang di sejumlah wilayah tetap mengalami tekanan meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sedang berada di level tinggi.
Trenggono menjelaskan, keahlian ekspor udang Indonesia sebenarnya tetap cukup baik. Bahkan, setelah sempat terganggu akibat kasus Cesium-137, ekspor udang nasional sekarang telah kembali melangkah normal.
"Kita ekspor udang itu cukup tinggi, US$6,7 miliar. Kita sempat tersendat sedikit akibat kasus Cesium 137, lampau alhamdulillah atas negosiasi kita dan kepercayaan nan kita berikan kepada pasar, akhirnya kita sudah bisa melangkah normal kembali," kata Trenggono dalam rapat kerja berbareng Komisi IV DPR RI di kompleks parlemen
Namun demikian, dia mengakui tetap ada persoalan nan menyebabkan nilai udang di sejumlah wilayah mengalami penurunan. Menurutnya, masalah tersebut bukan terjadi di seluruh daerah, melainkan hanya di beberapa titik tertentu.
"Bahwa kemudian sekarang ini, kenapa ketika nilai tukarnya tinggi, kemudian kenapa nilai udang kita di beberapa titik ya, tidak semua sebenarnya, itu mengalami penurunan. Memang benar, kita tetap lemah semua Pak," ujarnya.
Trenggono mengungkapkan, salah satu kelemahan utama industri udang nasional berada pada sektor hatchery alias pembenihan. Menurut dia, Indonesia hingga saat ini belum mempunyai industri hatchery nan memadai untuk menopang kebutuhan budidaya udang nasional.
"Di hatchery, kita belum mempunyai industri hatchery nan memadai. Ini nan acapkali jika secara informal, selalu saya sampaikan kepada teman-teman di perguruan tinggi, khususnya di IPB, Universitas Brawijaya, UNDIP, untuk coba lho, dilakukan satu penelitian-penelitian. Juga kepada BRIN. Mudah-mudahan BRIN segera menangkap juga, lantaran kepala BRIN-nya sekarang kan dari IPB," tutur dia.
Selain benih, persoalan lain nan menjadi sorotan adalah industri pakan. Trenggono mengatakan, bahan baku pakan udang tetap sangat berjuntai pada impor, terutama untuk tepung ikan nan menjadi salah satu komponen utama.
"Nah, hatchery itu juga persoalan. Lalu nan kedua, pakan. Pakan ini boleh dibilang, saya bisa nyebut 100 persen pakan itu tetap bahan bakunya impor. Sudah sekian tahun KKP lahir, 26 tahun sudah. Tetapi kemudian substitusi bahan baku, bahan baku tepung ikan sebagai satu komponen utama, sampai hari ini belum bisa dilakukan dengan baik," kata Trenggono.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengaku tengah melakukan beragam langkah transformasi, termasuk memperkuat pendidikan vokasi nan lebih dekat dengan kebutuhan industri.
"Ini kita langsung bergerak melakukan transformasi. Kita menggeser paradigma politeknik. Politeknik kita jangan sampai belajar teori terus, kita bakal geser, kita transformasi," pungkasnya.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·