Tradi-Pop, Upaya Menghidupkan Tari Tradisional di Tengah Tren Hiburan Modern

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Tradi-Pop, Upaya Menghidupkan Tari Tradisional di Tengah Tren Hiburan Modern Tradi-Pop(MI/Rifaldi Putra Irianto)

DI tengah gempuran tren intermezo dunia nan serba cepat, bumi tari tradisional Indonesia perlu segera beradaptasi agar tidak tergerus zaman. Melihat tantangan tersebut, penari muda sekaligus penggerak Swargaloka, Bathara Saverigadi, menemukan sebuah kesempatan agar seni tari tradisional tetap relevan dan bisa bertahan.

Tradi-Pop datang sebagai sebuah konsep baru nan diyakini oleh Bathara dapat menjadi gerbang pembuka bagi seni tari tradisional untuk merangkul audiens nan lebih luas, terutama anak muda Indonesia. Singkatnya, konsep ini mengawinkan tari tradisional dengan industri intermezo modern sebagai upaya memangkas jarak antara kesenian tradisional dan Generasi Z (Gen Z).

"Ada satu istilah nan kami sedang kembangkan tahun ini, itu namanya Tradi-Pop. Tradi-Pop itu sebenarnya adalah langkah baru kami, sebagai gerbang pembuka bagi orang-orang awam untuk memandang kekayaan seni tradisi dengan langkah nan dinamis, atraktif, dan juga dengan sesuatu nan fresh gitu," kata Bathara di Jakarta, Kamis (18/6).

Lebih lanjut, Bathara menjelaskan bahwa konsep ini bukan bermaksud untuk merusak pakem, melainkan mengemas nilai-nilai tradisi dengan langkah nan dinamis, atraktif, dan fresh agar bisa masuk ke ranah industri populer. Bagi penari kelahiran 1997 ini, setiap era mempunyai ‘napas pop-nya’ sendiri. Dengan mengawinkan tradisi ke dalam estetika industri modern, keelokan budaya Nusantara diharapkan tidak lagi terasa berjarak dengan orang-orang awam, khususnya anak-anak muda.

"Pada prinsipnya, kehadiran kita sebagai seniman sebenarnya krusial untuk membaca alias mempertanyakan kembali tradisi tersebut, apa kaitannya dengan sekarang dan apa nan tetap relevan. Ini adalah saatnya kita untuk membawa tren-tren baru dan memandang tradisi itu bukan sebagai barang mati, tapi dia adalah sesuatu nan hidup berbareng kita di setiap zaman," jelasnya.

Hadirkan Ksatria Fest

Langkah nyata menerapkan Tradi-Pop pun diterapkan Bathara dalam penyelenggaraan Ksatria Fest 3.0, sebuah arena kejuaraan tari tradipop tingkat nasional nan mengedepankan sinergi antara nilai tradisi dan pendekatan terkenal dalam seni pertunjukan. Program ini diinisiasi oleh Kelompok Tari Ksatria, nan dikenal sebagai Juara 1 Indonesia Mencari Bakat tahun 2021.

Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, Ksatria Fest menunjukkan konsistensinya sebagai ruang lahirnya talenta-talenta unggulan di bagian tari. Pada jenis sebelumnya, arena ini sukses melahirkan golongan Silak dari Yogyakarta sebagai pemenang tahun 2022, serta Eyes On Us (EOU) dari Kalimantan Barat sebagai pemenang tahun 2023.

“Kegiatan Kesatria Fest ini sebagai wadah memunculkan pujaan baru terutama di bagian tari, seorang penari nan bisa membawa tren baru dan bisa diikuti oleh banyak orang,” jelas Bathara nan merupakan inisiator Ksatria Fest.

Peraih Gold Medal PON pada bagian Traditional Dance Sport itu menambahkan, bahwa Ksatria Fest tidak hanya berakhir pada kompetisi, tetapi juga membangun identitas dan tanggung jawab bagi para pemenangnya.

“Para pemenang Ksatria Fest bakal mendapatkan gelar kehormatan, ialah Laskar Ksatria Tari Indonesia untuk kategori kelompok, Garda Ksatria Tari Indonesia untuk duet, dan Wira Ksatria Tari Indonesia untuk solo. Gelar ini bukan sekadar simbol, tetapi corak tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam perkembangan industri tari serta menginspirasi generasi berikutnya,” jelasnya.

Ksatria Fest 3.0 bakal berjalan pada 17 Juni - 4 Juli 2026 dengan 15 finalis dari beragam wilayah di Indonesia bersiap memperebutkan gelar juara. Ajang ini diharapkan bisa melahirkan generasi baru penari nan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mempunyai daya jual dan relevansi budaya di tengah perubahan era nan cepat. (Rif)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia