Toyota hingga Ford 'Cemas' dengan Skala Produksi Manufaktur Otomotif China

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
President & CEO Toyota Motor Corporation, Koji Sato. Foto: Toyota

Sejumlah raksasa otomotif global mulai dari Toyota, Honda, hingga Ford menyoroti keahlian produksi kendaraan merek asal China saat ini. Skala industri dari manufaktur Negeri Tirai Bambu itu dianggap tidak boleh dihiraukan.

Mengutip Yahoo Finance, mantan CEO Toyota Motor Corporation (TMC) Koji Sato nan sekarang menjabat sebagai Vice President TMC terang-terangan bahwa perusahaan mungkin saja tidak bakal memperkuat jika transformasi internal besar-besaran tak dilakukan.

“Kecuali ada perubahan, kita tidak bakal bertahan. Saya mau semua orang menyadari krisis ini," kata Sato.

Hal nan menjadi perhatiannya adalah kecakapan produsen kendaraan China dalam meramu produk secara cepat. Ini dimulai dari ide, konsep, penelitian, pengembangan, hingga masuk ke tahap produksi massal.

Headquarter dan pabrik XPeng di Guangzhou, China. Foto: Sena Pratama/kumparan

Produsen China sekarang dianggap nan paling sigap di industri otomotif global, dibanding merek konvensional dari negara lain. Aspek nan dikhawatirkan Honda, Toyota, dan Ford lantaran mereka memerlukan waktu dua kali lebih lama mewujudkan model baru.

Kekhawatiran ini bukan hanya untuk BYD, tetapi juga beberapa perusahaan EV lainnya nan mempunyai sumber daya, ide, dan kapabilitas produksi untuk merilis model baru dalam waktu kurang dari dua tahun, dengan efisiensi biaya nan susah ditandingi oleh merek-merek dari negara lain.

Sementara Honda berupaya mempertahankan pangsa pasarnya di China, lantaran penjualan menurun untuk tahun kelima berturut-turut selama 2025. CEO dan Presiden Honda Motor Corporation, Toshihiro Mibe angkat bicara.

Dirinya disebut cukup terkejut dengan keahlian industri otomotif China setelah lawatannya ke pabrik pemasok otomotif di Shanghai, lantaran dia mau mengetahui gimana perusahaan domestik dapat memproduksi beragam model kendaraan dalam waktu singkat.

Display dan showcase BYD Di Space di Zhengzhou, China. Foto: dok. BYD

Mibe pun melontarkan pernyataan setelah kembali dari China, bahwa kondisi Honda saat ini tidak mungkin bisa menandingi kecepatan pemasok komponen negara tersebut. "Kita tidak punya kesempatan melawan ini, kita kudu bertindak cepat," katanya.

Ada lagi, pada Oktober 2025 CEO Ford Motor Company Jim Farley pernah menyatakan bahwa manufaktur kendaraan China mempunyai kapabilitas produksi nan cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar Amerika Serikat.

“Mereka mempunyai kapabilitas [produksi] nan cukup di China dengan pabrik-pabrik nan ada untuk melayani seluruh pasar Amerika Utara, dan membikin kita semua gulung tikar," terangnya.

Bahkan, Ford disebut tertinggal hingga 25 tahun dalam sejumlah aspek teknologi utama. Itu diutarakannya berasas pengalaman pribadi Farley menggunakan mobil listrik Xiaomi SU7, sedan listrik belakangan mencuri perhatian industri otomotif global.

CEO Ford Motor Company, Jim Farley. Foto: Ford Media

Farley mengaku sangat terkesan dengan pendekatan teknologi dan pengalaman pengguna nan ditawarkan Xiaomi, hingga menyebut merek tersebut sebagai 'Apple dari China'.

“Tidak mengherankan mereka bisa begitu sukses. Pengalaman nan diberikan Xiaomi sangat mulus dan terintegrasi,” ujar Farley dikutip Car News China.

Untuk memahami langsung kekuatan para pesaing, Farley apalagi mengambil langkah tak biasa. Setelah mengunjungi China tahun lalu, dia meminta tim manajemennya memilih lima kendaraan listrik terbaik asal Negeri Tirai Bambu untuk dikirim ke Amerika Serikat.

Mobil-mobil tersebut kemudian digunakan oleh jejeran ketua Ford sebagai kendaraan harian. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya membuka mata internal Ford terhadap realitas persaingan global.

Farley menegaskan, Ford tidak boleh mengulangi kesalahan masa lampau dengan meremehkan kekuatan industri otomotif Asia. “Ford pernah melewatkan Jepang dan Korea Selatan. Kita tidak boleh melewatkan China," tandasnya.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan