Ilustrasi(Dok Istimewa)
TOKOH muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias nan berkawan disapa Gus Lilur, meminta seluruh peserta Muktamar NU ke-35 menjadikan forum tertinggi organisasi tersebut sebagai momentum pemurnian organisasi, bukan menjadi arena perebutan kekuasaan politik praktis.
Kiai kampung asal Situbondo, Jawa Timur ini mengingatkan agar bentrok internal dan polemik norma nan sempat mewarnai pasca-Muktamar ke-34 di Lampung pada 2021 lampau tidak boleh terulang kembali. Menurutnya, salah memilih pemimpin bakal berakibat fatal bagi marwah NU di mata publik.
"Muktamar ke-34 Lampung kudu jadi pelajaran pahit nan tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin, dampaknya sangat fatal bagi NU, organisasi jadi terpecah, terseret arus korupsi dan nafsu kuasa," ujar Gus Lilur dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/6/2026).
Belajar dari Semangat Piagam Jakarta
Gus Lilur menilai Muktamar ke-35 kali ini memikul tanggung jawab moral nan sangat besar di tengah situasi geopolitik dunia nan tidak menentu. Ia menganalogikan kedewasaan berpikir para muktamirin dengan sikap para tokoh Islam saat peristiwa Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945.
Kala itu, para pemimpin Islam berlapang dada menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi menjaga persatuan Indonesia nan baru merdeka.
"Semangat Piagam Jakarta itu adalah langkah berpikir seorang pemimpin Islam: memilih kepentingan nan lebih besar di atas kepentingan diri dan golongannya. Semangat itulah nan kudu datang di bilik pemilihan muktamar," tuturnya.
Sebagai bentuk nyata dari semangat persatuan tersebut, Gus Lilur secara tegas menyatakan bahwa pemimpin PBNU nan terpilih nantinya kudu mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode.
Ia menilai, duet Prabowo-Gibran merupakan simbol rekonsiliasi nasional nan sukses menyatukan polarisasi tajam di masyarakat, sekaligus meredam rivalitas antar-institusi keamanan seperti TNI dan Polri.
"Kita sudah memandang jejaknya: polarisasi antara nan disebut cebong dan kampret, serta rivalitas antarinstitusi keamanan negara, ialah TNI dan Polri. Prabowo dan Gibran menyatukan itu semua. Demi persatuan bangsa, pemimpin NU pun kudu seseorang nan mendukung keberlanjutan itu," kata Gus Lilur.
Dorong Duet Said Aqil dan Nasaruddin Umar
Atas dasar pertimbangan tersebut, Gus Lilur secara terbuka memberikan support kepada Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, untuk maju sebagai Ketua Umum PBNU. Sementara untuk posisi Rais Aam, dia mendorong ustadz senior Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj kembali menakhodai NU.
Ia menilai keduanya merupakan kombinasi ideal dari akademisi, ustadz tulen, dan intelek sejati nan bisa membawa NU bercahaya di panggung global.
Di sisi lain, Gus Lilur juga melontarkan kritik keras terhadap kejadian munculnya figur-figur nan dia sebut sebagai "gus-gus nanggung". Istilah ini dia sematkan kepada pihak-pihak nan dinilai memanfaatkan simbol kesantrian demi legitimasi politik, tanpa mempunyai kedalaman pengetahuan kepercayaan nan mumpuni.
"Ini bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, alias terus terseret arus kekuasaan itu nan sedang dipertaruhkan di Muktamar ke-35," pungkasnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·