Jakarta, CNBC Indonesia - Perum Bulog berencana mengusulkan kebijakan satu nilai untuk beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di seluruh Indonesia, setelah kondisi finansial perusahaan membaik.
Skema tersebut diharapkan membikin nilai beras medium sama dari Sabang hingga Merauke, seperti halnya kebijakan BBM satu nilai nan dijalankan PT Pertamina.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, rencana tersebut sebelumnya menunggu persetujuan pemerintah mengenai penetapan margin Bulog. Setelah kebijakan itu disetujui, Bulog bakal lebih dulu melaporkan usulan tersebut kepada pemerintah.
"Kami bakal laporkan dulu, memang itu dalam rencana kami di awal, andaikan sudah positif finansial kita, kita bakal buat seperti Pertamina," kata Rizal dalam konvensi pers di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Senin (3/8/2026).
"Pertamina bisa membikin nilai satu nilai dari Sabang sampai dengan Merauke, insyaallah Bulog juga jika memang sudah positif kita bakal ajukan ke pemerintah. Jika diizinkan kami buat nilai beras medium, ialah beras SPHP, insyaallah satu harga," sambungnya.
Rizal menjelaskan, penerapan kebijakan tersebut tetap menunggu keputusan pemerintah. Menurutnya, besaran nilai nantinya bakal ditetapkan setelah melalui pembahasan berbareng pemerintah.
"Ya nilai 'satu harga' kelak kita nunggu kebijakan dari pemerintah, satu harganya berapa," ucap dia.
Ia juga menegaskan rencana beras satu nilai belum menjadi kebijakan final. Bulog bakal lebih dulu menyampaikan usulan tersebut kepada pemerintah melalui rapat koordinasi terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator bagian Pangan.
"Nanti kita lapor dulu kepada pemerintah, ialah dirapatkan di Rakortas, kelak setelah diputuskan baru kita tetapkan," ujar Rizal.
Dalam kesempatan nan sama, Rizal juga menyampaikan kondisi finansial Bulog diproyeksikan membaik setelah pemerintah menyetujui perubahan skema margin perusahaan. Menurutnya, perubahan tersebut membikin margin Bulog nan sebelumnya sebesar Rp50 per kilogram (kg) menjadi setara 7% alias sekitar Rp970 per kg.
Dengan perubahan itu, Bulog memperkirakan neraca finansial perusahaan hingga akhir tahun bakal berbalik positif.
"Nah 7% itu jika dikalkulasikan dengan nomor menjadi sekitar Rp970. Sehingga dengan Rp970 tersebut jika diperhitungkan sampai dengan akhir tahun, maka diproyeksikan neraca finansial Bulog bakal menjadi positif ialah sekitar Rp1,14 triliun," katanya.
Perubahan sistem margin tersebut juga telah diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbapanas) Nomor 3 Tahun 2026, nan mengubah Perbapanas Nomor 7 Tahun 2025. Aturan itu mengatur penetapan margin Bulog dalam corak nominal rupiah per kg berasas kuantum pengadaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·