Tokoh Dayak Panglima Jilah Tegaskan Ladang Adat Bukan Pemicu Karhutla

Sedang Trending 45 menit yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Tokoh Dayak nan juga Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneu Bangkule Rajakng (TBBR) Panglima Jilah mengatakan praktik bertani masyarakat budaya di Kalimantan telah berjalan selama ribuan tahun tanpa menjadi penyebab kebakaran rimba dan lahan (karhutla) seperti nan terjadi belakangan ini.

Menurutnya, masyarakat Dayak mempunyai pola bertani nan berbeda dengan aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan. Ia mengatakan masyarakat budaya tidak membuka ladang di lahan gambut.

"Orang Dayak tidak bertani di lahan gambut. Gambut itu tebal asapnya, gambutnya tebal, 12 meter," kata Panglima Jilah dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut praktik bertani telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kalimantan sejak lama. Karena itu, menurutnya, kebakaran rimba nan terjadi saat ini tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan aktivitas ladang masyarakat adat.

"Sebelum adanya perkebunan ya, di Kalimantan itu sudah ada namanya bertani dari era dulu, ribuan tahun nan lampau bahkan. Dan tidak pernah kita memandang namanya kejadian-kejadian nan seperti ini," ujarnya.

Panglima Jilah mengatakan letak bertani masyarakat budaya umumnya berada di lahan mineral. Kondisi tersebut berbeda dengan lahan gambut nan menurutnya dapat menghasilkan asap tebal ketika terbakar.

"Orang bertani tidak bakal mungkin mau nanam padinya ke tempat nan gambut. Itu saja logikanya," katanya.

Menurut Panglima Jilah, masyarakat budaya juga mempunyai sistem pengawasan terhadap lahan nan digunakan untuk berladang. Ia mengatakan penduduk nan melakukan pembakaran untuk membuka ladang bakal ikut memantau letak tersebut.

"Jadi jika kita membakar di mana lahan ladang kita dibakar, di situlah kita nan bakal monitoringnya," imbuhnya.

Ia mengatakan masyarakat budaya juga terus melakukan sosialisasi melalui tokoh-tokoh budaya agar pembakaran tidak dilakukan sembarangan.

"Masyarakat budaya bersosialisasi lewat tokoh-tokoh budaya agar tidak sembarangan membakar hutan. Karena masyarakat budaya itu identik dengan dekat dengan alam. Tentunya tidak ada alam, tidak ada masyarakat adat, begitu dia. Kita menjaga," ucap Panglima Jilah.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Panglima Jilah berjumpa Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8). Dalam pertemuan itu, persoalan karhutla di Kalimantan Barat menjadi salah satu pembahasan.

Panglima Jilah mengatakan pemerintah telah memberikan support personel untuk membantu penanganan karhutla di wilayah tersebut. Ia juga menyebut pembuatan hujan dan penambahan helikopter telah dilakukan.

Di Kalimantan Barat sendiri, pemerintah tengah menangani sejumlah kasus karhutla dan dugaan perambahan area hutan. Salah satunya adalah kasus di Kabupaten Mempawah, di mana PT MAP telah ditetapkan sebagai tersangka korporasi pada 14 Agustus 2026.

(del/wis)

placeholder

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional