Berdasarkan info Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, di Kabupaten Rote Ndao prevalensi stunting tercatat sebesar 32,4 persen; sementara nomor stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur mencapai 37 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya upaya perbaikan sumber pangan sehat agar melangkah beriringan dengan penguatan pengasuhan dan perubahan perilaku keluarga.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Yayasan Selancar Arungi Indonesia (ARUNGI), hubungan dari SurfAid International, berbareng Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menyelenggarakan Festival Keluarga Malole.
“Tema besar nan didukung oleh Festival Keluarga Malole sangat relevan dengan tantangan nan sedang kita hadapi saat ini, ialah persoalan stunting, kesehatan family dan kualitas pengasuhan anak. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menyambut baik aktivitas #BapaHebat #MamaBijak #KeluargaMalole nan mendorong keterlibatan ayah dan ibu secara bersama-sama untuk membangun generasi masa depan Rote Ndao,” ujar Paulus Henuk, S.H., Bupati Rote Ndao, seperti dikutip dari siaran resmi nan diterima kumparan, Selasa (16/6).
Stunting Bukan Hanya soal Makanan
Dalam aktivitas tersebut, dipaparkan pula bahwa stunting bukan hanya persoalan kurangnya asupan gizi, tetapi juga berangkaian dengan pola pengasuhan, kesehatan ibu dan anak, serta perilaku family dalam memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.
Berbagai penelitian menunjukkan, keterlibatan ayah dalam pengasuhan berkontribusi terhadap kesehatan, perkembangan, dan kesejahteraan anak. Sayangnya, berasas Focus Group Discussions (FGD) dengan 73 ayah di 6 desa dampingan ARUNGI pada bulan Februari 2026, kebanyakan ayah tidak secara aktif terlibat dalam aktivitas pengasuhan. Hampir semua peserta FGD juga menyampaikan bahwa mereka tidak pernah menyiapkan makanan untuk anak.
“Pencegahan stunting bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga berangkaian dengan pola asuh, keterlibatan orang tua, kesehatan ibu, serta lingkungan family nan mendukung tumbuh kembang anak. Karena itu, keterlibatan ayah dan ibu secara bersama-sama dalam pengasuhan menjadi sangat penting,” tambah Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN, Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, S.Si., M.Eng.,.
Maka itu, salah satu pendekatan nan bakal diperkuat melalui pagelaran ini adalah integrasi antara kelas pengasuhan dan kintal gizi. Kintal gizi adalah julukan lokal untuk kebun gizi pekarangan rumah. Program ini diharapkan dapat menjadi sumber pangan family nan menyediakan bahan makanan bergizi untuk mendukung kebutuhan rumah tangga melalui aktivitas kelas memasak.
Saat ini, model kintal gizi nan dikembangkan berbareng masyarakat telah diterapkan di 6 desa dan menjangkau sekitar 118 family di Kabupaten Rote Ndao.
Melalui kelas pengasuhan dan kintal gizi, masyarakat memperoleh pengetahuan sekaligus akses terhadap sumber pangan sehat. Pendekatan ini menghubungkan pengasuhan, perubahan perilaku, dan akses terhadap pangan bergizi sebagai bagian dari upaya membangun family nan lebih sehat.
“Dari family nan saat ini sudah menerapkan kintal gizi, kami menargetkan 50 persen family dampingan dapat meningkatkan jumlah tanaman nan bergizi tinggi dan meningkatkan jumlah rumah tangga baru nan menerapkan kintal gizi sebesar 20 persen,” ujar Dinnia.
Pada kesempatan nan sama, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao mengumumkan komitmennya untuk mengalokasikan anggaran tahun 2027 guna mereplikasi 1.200 kintal gizi di seluruh wilayah Kabupaten Rote Ndao dengan mengangkat model nan dikembangkan berbareng ARUNGI.
“Kami memandang bahwa pendekatan ini tidak hanya membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber pangan bergizi, tetapi juga mendorong perubahan perilaku family menuju kehidupan nan lebih sehat dan mandiri,” pungkas Paulus.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·