
Perang Iran-Israel (Foto BBC)
(Penulis: Ridwan Al-Makassary, Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII)
PERANG acap dimulai dengan kepercayaan penuh bahwa dia bisa dimenangkan. Para jenderal sibuk menyusun peta operasi, politisi menghitung biaya dan faedah perang dan analis memperkirakan lama konflik. Semua tampak rasional, seolah-olah perang hanyalah persoalan strategi. Namun, sejarah acap mengajarkan ironi bahwa perang nyaris selalu berkembang melampaui rencana para pelakunya. Israel-Amerika Serikat (AS) mengalaminya saat ini. Mereka menyangka bahwa dengan membunuh pemimpin Iran, nan dikenal dengan teori “decapitation strike” (pemenggalan kepala rezim), bakal mengakibatkan Iran lumpuh dan rakyat bangkit melawan. Singkatnya rezim berganti dalam waktu singkat.
Namun, nan terjadi adalah sebaliknya. Di luar perkiraan Isreal-AS. Serangan militer nan awalnya dimaksudkan sebagai operasi terbatas sekarang berpotensi membuka babak baru bentrok di Timur Tengah, lantaran Iran tidak menyerah apalagi menunjukkan ketangguhan dalam perang nan berlangsung. Gugurnya sang rahbar Khamenei telah menjadi situs perlawanan. Terpilihnya Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, menandai babak baru bentrok nan tidak bakal berakhir segera. Pertanyaan nan bisa diajukan adalah seberapa besar perang bakal meluas dan hingga kapan? Tulisan ini hendak mengulas, paling tidak, ada tiga skenario masa depan nan mungkin muncul dari perang ini, dan juga rapuhnya kemanusiaan.
Skenario Pertama: Perang Timur Tengah
Jika Iran memutuskan untuk melakukan jawaban penuh, perang tidak bakal berakhir di Israel, namun meluas ke Kawasan Teluk. Iran mempunyai jaringan pengaruh nan luas di Kawasan, sejak dari Lebanon, Irak, Suriah, hingga Yaman. Kelompok-kelompok bersenjata nan selama ini menjadi sekutu strategisnya bisa membuka front baru secara simultan. Karenanya, dalam situasi seperti itu, Israel tidak hanya menghadapi satu musuh, tetapi lingkaran bentrok regional.
Sementara itu, AS nyaris pasti bakal memperluas keterlibatannya untuk melindungi sekutunya. Pangkalan militer AS di Teluk Persia dapat menjadi sasaran serangan rudak Iran. Selat Hormuz, jalur daya paling vital di dunia, dapat berubah menjadi arena konfrontasi militer. Sebagai satu akibat, jika jalur ini terganggu, nilai minyak bumi bisa melonjak tajam. Inflasi dunia bakal meningkat. Ekonomi bumi nan sudah rentan bisa kembali terguncang. Singkatnya, dalam skenario ini, Timur Tengah tidak lagi sekadar area konflik. Ia berubah menjadi epicentrum krisis global.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·