Stok Rudal AS Menipis Parah, Trump Batal Serang Iran Usai Peringatan Komandan Militer

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Stok Rudal AS Menipis Parah, Trump Batal Serang Iran Usai Peringatan Komandan Militer ilustrasi(Centcom)

PERSEDIAAN amunisi militer Amerika Serikat dilaporkan berada pada tingkat nan "sangat rendah" setelah menghabiskan sebagian besar sistem pertahanan udara dan rudal jarak jauhnya selama perang dengan Iran. Kondisi persediaan nan makin menipis ini memicu kekhawatiran para komandan senior Pentagon serta negara-negara sekutu di Teluk.

Menurut laporan inventaris terbaru, militer AS telah menguras nyaris empat per lima (80 persen) persediaan rudal THAAD dan sekitar separuh dari pencegat Patriot sejak perang dimulai. Sebelum konflik, Center for Strategic and International Studies mengestimasi AS mempunyai sekitar 2.200 rudal Patriot dan 452 rudal THAAD. Selain itu, sekitar separuh dari stok rudal Tomahawk juga telah digunakan, sementara persediaan senjata permukaan-ke-udara jarak jauh seperti ATACMS dan Precision Strike Missiles (PrSM) nyaris lenyap seluruhnya.

Kekhawatiran atas kesiapan amunisi ini menjadi salah satu argumen utama Presiden Donald Trump memutuskan untuk membatalkan rencana serangan besar-besaran terhadap sasaran prasarana kritis Iran pada akhir pekan lalu. Selain peringatan dari penasihat militernya, negara-negara Teluk turut menyampaikan kekhawatiran kekurangan sistem pertahanan udara dapat menyebabkan mereka rentan terhadap serangan jawaban Iran.

Bantah Keterbatasan Stok

Meskipun demikian, pejabat pemerintah AS membantah keterbatasan stok mengganggu kesiapan tempur mereka.

"Militer Amerika adalah nan terkuat di bumi dan mempunyai semua nan dibutuhkan untuk mengeksekusi pada waktu dan tempat nan dipilih Presiden," kata ahli bicara utama Pentagon, Sean Parnell.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, juga menambahkan militer AS mempunyai persediaan nan lebih dari cukup untuk melayani seluruh tujuan strategis Presiden Trump. Kelly menyebut bahwa Trump telah mendesak para kontraktor pertahanan untuk terus meningkatkan produksi senjata buatan dalam negeri.

Meskipun Departemen Pertahanan telah mempercepat upaya ekspansi produksi rudal pencegat, para analis memperkirakan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkan stok amunisi ke tingkat sebelum perang. Untuk persediaan THAAD saja, proses pemulihan diperkirakan memerlukan waktu tiga tahun alias lebih, mengingat agenda pengiriman saat ini hanya menghasilkan sekitar 15 rudal Tomahawk dan 20 rudal Patriot baru per bulan. Para mahir memperingatkan bahwa kelangkaan ini dapat memengaruhi keahlian militer AS jika kudu menghadapi potensi bentrok masa depan dengan Tiongkok, Rusia, alias Korea Utara. (CNN/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia