Jakarta - Ikhtiar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam menuntaskan persoalan banjir dan genangan di wilayah Surabaya Selatan dan Timur mulai menunjukkan hasil nyata. Sejak Januari 2026, tiga rumah pompa baru telah beraksi sebagai bagian dari strategi penguatan sistem pengendalian banjir.
Tiga rumah pompa tersebut berada di area Margorejo Indah, Dukuh Menanggal, dan Ahmad Yani. Masing-masing mempunyai kapabilitas 6,5 meter kubik per detik dan dilengkapi tiga unit pompa serta screen penyaring sampah untuk mendukung percepatan aliran air.
Saat meninjau Rumah Pompa Dukuh Menanggal pada Senin (4/5/2026), Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menuturkan, penanganan banjir di wilayah selatan dan timur menjadi salah satu prioritas pemkot nan ditargetkan tuntas pada tahun ini.
Untuk mendukung sasaran tersebut, Pemkot Surabaya menjalankan beragam langkah strategis secara bertahap. Upaya itu meliputi pembangunan rumah pompa, pengerukan saluran, pengaturan elevasi air, hingga pembangunan storage alias box penampungan air.
"Ini adalah (program) pembangunan nan dilakukan Pemkot Surabaya di tahun 2026. Karena kelak sasaran di tahun 2026 tidak ada lagi banjir," ujar Eri dalam keterangan tertulis, Senin (25/12/2026).
Menurutnya, keberadaan tiga rumah pompa baru tersebut, bisa mempercepat surutnya air sekaligus mengurangi beban saluran di area padat pemukiman. Bahkan, pemkot juga menambah rumah pompa baru di sejumlah titik rawan genangan, seperti Panjang Jiwo dan Jalan Nginden Intan Timur alias depan Gereja Bethany Nginden.
"Jadi kelak kita bakal bangun rumah pompa baru di Panjang Jiwo depan SPBU, satu di depannya Gereja Bethany Nginden di tahun ini," ujarnya.
Eri menjelaskan salah satu persoalan utama banjir di wilayah selatan berasal dari penumpukan beban aliran air nan tidak proporsional. Selama ini, aliran air dari area Karah dan Jambangan bermuara ke Avour Wonorejo sehingga memicu banjir dan antrean air.
"Kalau di Margorejo banjir, otomatis air bakal kembali dan menyebabkan wilayah Karah serta Jambangan ikut banjir," katanya.
Berdasarkan pertimbangan di lapangan, Pemkot Surabaya kemudian memanfaatkan saluran Kebon Agung nan mempunyai kapabilitas lebih longgar. Karena itu, pemkot menghubungkan saluran Kebon Agung dengan Kali Surabaya menggunakan pompa. Dengan skema tersebut, aliran dari area Karah dan Jambangan tidak lagi dialirkan ke Margorejo dan menuju Avour Wonorejo.
"Maka saya minta (aliran dari Karah-Jambangan) nan menuju Margorejo ditutup, lampau dialihkan menuju Kebon Agung. Sementara aliran di Margorejo diteruskan ke Avour Wonorejo. Kita bagi bebannya agar setara dan tidak menumpuk di satu titik," paparnya.
Ia menekankan pemetaan aliran air menjadi aspek krusial dalam penanganan banjir. Perubahan arah aliran, elevasi saluran, hingga posisi rumah pompa kudu dihitung secara perincian agar sistem pengendalian banjir melangkah optimal.
"Makanya saya juga membujuk teman-teman lurah, camat, dan kepala dinas (ke lokasi) untuk memastikan dan memahami aliran air. Jadi ada nan kita balik-aliran airnya, maka secara otomatis elevasinya juga kudu tahu," katanya.
Foto: Pemkot Surabaya
Dalam tinjauan tersebut, para camat dan lurah juga diminta memahami teknis pengukuran elevasi menggunakan perangkat seperti theodolite dan waterpass. Pemahaman menyeluruh dari hulu hingga hilir dinilainya menjadi kunci penyelesaian genangan di tingkat wilayah.
Selain membangun rumah pompa baru, pemkot juga menyesuaikan metode pembangunan berasas kondisi saluran di wilayah timur. Pada sisi saluran Jemursari sampai Sarono Jiwo, pembangunan bakal dilakukan menggunakan metode Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP).
Sementara di area Panjang Jiwo, pelebaran saluran tidak memungkinkan dilakukan lantaran terhalang jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kiloVolt. Sebagai solusi alternatif, Pemkot Surabaya bakal membangun storage air di jalan untuk membagi aliran menuju sungai besar maupun rumah pompa. "Fungsi storage itu adalah untuk pembagian air," katanya.
Selain persoalan infrastruktur, Pemkot Surabaya juga menilai genangan dipengaruhi perubahan kegunaan lahan dan berkurangnya area resapan akibat semakin padatnya pemukiman. "Jadi ketika semua resapan lenyap dengan rumah, maka air hujan langsung masuk ke irigasi," tuturnya.
Meski demikian, Wali Kota Eri optimistis titik-titik genangan nan saat ini menjadi konsentrasi penanganan dapat bebas banjir pada November 2026. Menurutnya, langkah penanganan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka pendek penanganan genangan di wilayah selatan dan timur.
"Insyaallah bulan November jikalau terjadi hujan, maka titik-titik nan telah kita datangi, tidak terjadi lagi genangan. Jadi jangka pendeknya dikerjakan tahun ini, lantaran kelak tahun depan kita pindah (tangani) wilayah lain," terangnya.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah, mengatakan pembangunan rumah pompa disesuaikan dengan perubahan titik genangan akibat pesatnya pembangunan.
"Dulu lahan terbuka hijau tetap banyak. Sekarang dengan bertambahnya permukiman, air hujan tidak lagi terserap ke tanah melainkan langsung lari ke saluran (paving/aspal). Jadi beban saluran kita otomatis jauh lebih tinggi," ujar Hidayat.
Menurut Hidayat, selama beberapa bulan difungsikan, ketiga rumah pompa baru itu terbukti efektif meminimalisir genangan di wilayah sekitarnya. Rumah Pompa Ahmad Yani misalnya, difungsikan untuk mengatasi genangan di area Jalan Gayung Kebonsari (Injoko) dan Kebonsari Barat. Sedangkan Rumah Pompa Margorejo, mengatasi genangan di area Margorejo, Bendul Merisi dan Sidosermo.
"Sejak Januari lalu, area Sidoresmo menunjukkan tren penurunan genangan nan signifikan dan air menjadi lebih sigap surut. Sedangkan saluran di area Margorejo saat ini tengah memasuki tahap penyempurnaan," terangnya.
Foto: Pemkot Surabaya
Sementara itu, Rumah Pompa Dukuh Menanggal difokuskan untuk mengurangi genangan di area Gayungsari Timur, Wisma Pagesangan, dan Jalan Menanggal dengan mengalirkan air langsung menuju Kali Perbatasan (Surabaya - Sidoarjo).
Selain membangun rumah pompa baru, Hidayat menyebut, Pemkot Surabaya juga meningkatkan kapabilitas rumah pompa nan telah ada untuk mengimbangi peningkatan debit air. "Sifatnya ada nan peningkatan kapasitas. Dari nan semula kapasitasnya 6 kubik, beban salurannya kita upgrade menjadi 9 kubik," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menambahkan hingga saat ini Surabaya telah mempunyai total 90 rumah pompa nan tersebar di beragam wilayah. "Pada tahun 2026, pembangunan rumah pompa baru terus dikebut di beberapa area padat, seperti Nginden Intan, Panjang Jiwo, Ketintang, Tambak Segaran, dan Margomulyo," ujar Adi.
Akan tetapi, Adi mengingatkan kecanggihan teknologi rumah pompa tidak bakal melangkah maksimal tanpa support masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air. "Harapan kami titik genangan nan sudah dipetakan sejak 2020 bisa kita selesaikan bertahap. Namun, kami juga sangat meminta partisipasi masyarakat," kata Adi.
Karenanya, pihaknya juga meminta masyarakat menghentikan kebiasaan membuang sampah ke saluran air lantaran dapat menghalang keahlian rumah pompa. "Tolong jangan buang sampah di saluran, lantaran jika sampah menumpuk di penyaringan rumah pompa, proses penyedotan air otomatis bakal terhambat," pungkasnya. (ADV) (akd/ega)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·