The Fed Kembali Tahan Suku Bunga pada Kisaran 3,5% hingga 3,75%

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ketua Federal Reserve (The Fed) nan baru, Kevin Warsh, meninggalkan East Room di Gedung Putih setelah upacara pelantikannya di Washington, DC, Jumat (22/5/2026). Foto: AARON SCHWARTZ/AFP

Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga referensi federal funds di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Keputusan tersebut diambil Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) melalui pemungutan bunyi dengan hasil 9 personil mendukung dan 3 personil menolak.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan keputusan para kreator kebijakan untuk mempertahankan suku kembang tidak mencerminkan sikap pasif bank sentral. Ia kembali menyatakan The Fed tetap berkomitmen mengendalikan inflasi.

Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, dan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari menyatakan perbedaan pendapat dengan mendukung kenaikan suku kembang sebesar 25 pedoman poin.

Perbedaan bunyi tersebut menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan sebagian kreator kebijakan bahwa suku kembang nan lebih tinggi diperlukan untuk menahan kembali tekanan inflasi nan meningkat.

Pernyataan FOMC setelah rapat pun pada dasarnya tidak berubah dibandingkan pernyataan setelah pertemuan Juni. Para pejabat kembali menegaskan komitmen mereka untuk mewujudkan stabilitas harga.

“Bagi sebagian rumah tangga, pelaku usaha, dan pelaku pasar, lima tahun inflasi nan tinggi telah menimbulkan kesan nan keliru, dan susah dihilangkan bahwa sasaran inflasi implisit The Fed berada di atas 2 persen,” kata Warsh kepada wartawan setelah keputusan tersebut, dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/7).

Federal Reserve. Foto: Shutterstock

“Izinkan saya menegaskan kembali, tidak ada sasaran inflasi nan lunak. Tidak ada sasaran implisit nan lunak, setidaknya selama komite ini menjabat,” lanjutnya.

Keputusan itu menjadi kali kelima berturut-turut para pejabat memilih mempertahankan suku bunga. Namun, adanya perbedaan pendapat itu menunjukkan bahwa bakal semakin susah bagi Warsh, nan mulai menjabat pada Mei ini, untuk terus mempertahankan suku kembang jika kekhawatiran terhadap inflasi terus meningkat.

Meski sebelumnya berjanji mengembalikan inflasi ke sasaran The Fed sebesar 2 persen, Warsh belum secara tegas mengatakan bakal meningkatkan suku bunga. Ia sedikit lebih terbuka terhadap kemungkinan tersebut saat menjawab pertanyaan wartawan pada Rabu (29/7).

“Jika inflasi terus berada pada level tinggi sepanjang periode proyeksi, suku kembang bisa saja menjadi bagian dari solusi, tetapi saya tidak bakal mengatakan bahwa itu merupakan satu-satunya solusi,” tutur Warsh.

Saat ditanya kenapa The Fed tidak meningkatkan suku kembang pada hari itu, Warsh mengatakan suku kembang pasar telah meningkat sejak pertemuan kebijakan sebelumnya, nan menunjukkan penanammodal telah melakukan sebagian pekerjaan bank sentral. Ia pun mengaitkan perihal itu dengan keputusannya mengurangi pedoman nan biasanya diberikan The Fed mengenai arah suku kembang ke depan.

“Pasar telah mengambil keputusan lantaran kami mengambil langkah mundur dari upaya memengaruhi mereka. Penilaian pasar terhadap tingkat suku kembang nominal di sepanjang kurva imbal hasil Treasury telah meningkat,” kata Warsh.

Tekanan nan Semakin Besar

Sebelum rapat berlangsung, beberapa pejabat mengatakan kebijakan moneter saat ini sudah berada pada posisi nan tepat, tetapi juga mengisyaratkan support terhadap kenaikan suku kembang andaikan tekanan inflasi tidak segera mereda.

Indikator inflasi pilihan The Fed meningkat dalam beberapa bulan terakhir hingga mencapai 3,4 persen pada Mei secara tahunan. Para pejabat bakal memperoleh info inflasi terbaru pada Kamis (30/7).

Data inflasi Juni nan lebih rendah dari perkiraan mengurangi tekanan terhadap para kreator kebijakan untuk meningkatkan suku kembang pada pekan ini. Harga konsumen AS turun pada bulan lampau untuk pertama kalinya dalam enam tahun akibat penurunan nilai bensin selama jarak bentrok Iran. Laporan terpisah juga menunjukkan nilai produsen naik lebih rendah dari perkiraan pada bulan lalu.

Meski demikian, para pejabat menghadapi tekanan nilai nan kembali meningkat setelah eskalasi bentrok menyebabkan nilai minyak Brent melonjak melampaui USD 100 per barel. Walaupun nilai minyak kembali turun dalam beberapa hari terakhir, Brent tetap berada di kisaran USD 90 per barel pada Rabu (29/7) pagi.

Ketidakpastian mengenai bentrok tersebut, ditambah penerapan tarif baru serta lonjakan permintaan nan didorong oleh kepintaran buatan (AI), semakin meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat memperkuat pada level tinggi dalam waktu nan lebih lama.

Sementara itu, pasar tenaga kerja terus mencatat pertumbuhan lapangan kerja nan moderat namun stabil selama beberapa bulan terakhir, dengan tingkat pengangguran nan tetap stabil.

Dalam pernyataan pascarapatnya, The Fed kembali menyatakan aktivitas ekonomi tumbuh dengan “laju nan solid”, serta kembali mencatat bahwa investasi modal dan pertumbuhan produktivitas tetap kuat. Para pejabat juga terus menggambarkan inflasi tetap berada pada level nan tinggi dibandingkan sasaran bank sentral sebesar 2 persen.

Sejumlah ahli ekonomi sebelumnya memperkirakan Warsh dapat mengejutkan penanammodal dengan mendukung kenaikan suku kembang pada pertemuan kali ini. Kontrak berjangka federal funds apalagi sempat menunjukkan probabilitas kenaikan suku kembang mencapai 40 persen pada hari-hari menjelang rapat tersebut.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan