Cerita Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba, Suarakan Kepedulian terhadap Gajah dan Hutan

Sedang Trending 53 menit yang lalu
Cerita Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba, Suarakan Kepedulian terhadap Gajah dan Hutan Gelar Karya dan Festival Cerita "Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba" nan digelar di Aula H.B. Jassin Perpustakaan Jakarta, Minggu (19/7/2026).(Dok Istimewa )

ANAK-ANAK membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat disuarakan melalui karya, seni, dan kreativitas. Hal itu terlihat dalam Gelar Karya dan Festival Cerita "Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba" nan digelar di Aula H.B. Jassin Perpustakaan Jakarta, Minggu (19/7). 

Kegiatan nan diselenggarakan oleh Ranger Bumi bekerja-sama dengan Readocil N Grandung dan Kurcaci Dongeng ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan pesan pelestarian gajah dan rimba melalui karya literasi, pagelaran seni, dan beragam aktivitas edukatif.

Festival ini diikuti oleh 158 anak nan terbagi dalam dua sesi, ialah 74 peserta pada sesi pertama dan 84 peserta pada sesi kedua. Juga diikuti oleh orangtua peserta nan turut datang memeriahkan suasana. Selain menghadirkan pagelaran seni, aktivitas ini juga menjadi wadah apresiasi terhadap produktivitas anak melalui pameran 12 karya lukisan, 1 kitab antologi cerpen, 1 kitab antologi puisi, serta 9 kitab cerita bergambar nan seluruhnya mengangkat tema pelestarian gajah, hutan, dan lingkungan.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kondisi satwa liar Indonesia nan semakin memprihatinkan. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan RI, Satyawan Pudyatmoko, mengungkapkan bahwa populasi dan kediaman gajah di Indonesia terus mengalami penurunan. Gajah Sumatra apalagi telah dikategorikan sebagai satwa Critically Endangered alias sangat terancam punah. Berangkat dari kondisi tersebut, Ranger Bumi membujuk anak-anak untuk mengenal pentingnya menjaga rimba sebagai rumah bagi gajah dan beragam satwa lainnya melalui pendekatan seni, literasi, dan kreativitas.

Festival diawali dengan pameran karya anak nan menampilkan kitab antologi cerpen, antologi puisi, kitab cerita bergambar, serta lukisan bertema gajah dan hutan. Seluruh karya merupakan hasil produktivitas anak-anak nan mengangkat pesan tentang pentingnya menjaga ekosistem rimba sebagai kediaman satwa liar. Pameran secara resmi dibuka oleh Ketua Subkelompok Pembudayaan Kegemaran Membaca Priyambodo nan mengapresiasi literasi sebagai sarana membangun kepedulian lingkungan sejak usia dini.

Suasana pagelaran semakin semarak dengan dipandunya aktivitas oleh MC cilik Nabhan dan Kayisa, Co-Founder Ranger Bumi, berbareng Kak Andes dari Kurcaci Dongeng. Kehadiran para pembawa aktivitas cilik menghadirkan suasana hangat sekaligus menunjukkan bahwa anak-anak bisa menjadi pemasok perubahan melalui tindakan nyata dan produktivitas mereka.

Pada sesi pagi, visitor disuguhkan drama musikal "Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba" nan diperankan oleh anak-anak Ranger Bumi. Melalui perpaduan akting, tari, musik, dan narasi nan menyentuh, pagelaran ini mengisahkan perjuangan seekor gajah mini nan kehilangan rumah akibat kerusakan hutan. 

Drama musikal tersebut menjadi refleksi atas semakin terancamnya kediaman satwa liar akibat deforestasi serta membujuk penonton menyadari bahwa rimba bukan sekadar kumpulan pepohonan, melainkan rumah bagi jutaan makhluk hidup. Penampilan para pemeran cilik sukses menyampaikan pesan pelestarian lingkungan dengan langkah nan sederhana, menyentuh, dan mudah dipahami oleh seluruh keluarga.

Usai pertunjukan, aktivitas dilanjutkan dengan sesi bincang inspiratif berbareng pegiat lingkungan Kak Saifuddin nan membujuk peserta memahami beragam tantangan pelestarian lingkungan sekaligus mendorong langkah-langkah sederhana nan dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. 

Suasana semakin hidup ketika Kayisa membawakan lagu edukatif "Ayo, Memilah Sampah", nan membujuk anak-anak membangun kebiasaan peduli terhadap kebersihan dan pengelolaan sampah sejak dini. Penampilan tersebut semakin meriah dengan pedoman mobilitas dan tarian nan membujuk seluruh peserta bernyanyi, menari, dan berinteraksi bersama. 

Antusiasme anak-anak terlihat sepanjang pertunjukan, menciptakan suasana nan ceria sekaligus memperkuat penyampaian pesan bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana nan dilakukan dengan penuh kegembiraan. Setelah itu ada tour karya nan dipandu oleh tim READOCIL ialah kak Awa. Anak-anak diajak berkeliling memandang karya mereka dan menceritakan karya mereka pada teman-teman lainnya.

Memasuki sesi siang, rangkaian aktivitas menghadirkan beragam pagelaran edukatif nan memadukan seni, cerita, dan pesan pelestarian alam. Salah satu penampilan nan mencuri perhatian adalah drama musikal dari Kurcaci Cilik nan diperankan dengan penuh penghayatan oleh anak-anak Kurcaci Dongeng. 

Melalui kisah nan menyentuh, drama ini menggambarkan akibat kerusakan rimba nan menyebabkan gajah dan satwa liar lainnya kehilangan kediaman mereka. Pesan tersebut disampaikan dengan bahasa nan dekat dengan bumi anak sehingga membujuk para penonton, khususnya generasi muda, untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap hutan, menghargai kehidupan satwa liar, serta menyadari pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.

Penampilan dilanjutkan dengan cerita musikal bertema gajah dan rimba oleh Kak Wulan dari Sastra Svara. Melalui perpaduan cerita, musik, dan ekspresi nan dikemas secara apik, pagelaran ini membujuk anak-anak berimajinasi sekaligus memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. 

Alur cerita nan hangat dan menyentuh sukses membikin para peserta larut dalam setiap adegan, menyimak jalannya cerita dengan penuh perhatian, serta menangkap pesan tentang pentingnya mencintai rimba dan melindungi satwa nan hidup di dalamnya.

Suasana semakin semarak dengan pagelaran puppet show dan hand shadow oleh Kak Dwi dan Kak Iman nan menghadirkan kisah-kisah inspiratif tentang alam melalui media nan imajinatif dan menghibur. Tidak hanya menyaksikan pertunjukan, peserta juga diajak berkarya melalui aktivitas mewarnai tas ramah lingkungan berbareng Kelas Vicky Poppi. 

Beragam aktivitas tersebut menjadikan pagelaran ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang belajar nan menyenangkan, tempat anak-anak dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui pengalaman nan kreatif, interaktif, dan penuh makna.

Melalui pagelaran ini, Ranger Bumi mau menunjukkan bahwa rumor pelestarian lingkungan dapat dikenalkan kepada anak-anak dengan pendekatan nan dekat dengan bumi mereka. Seni, cerita, musik, dan karya imajinatif menjadi media nan efektif untuk menanamkan nilai kepedulian terhadap alam sekaligus menumbuhkan keberanian anak-anak dalam menyampaikan pesan positif kepada masyarakat.

"Kami percaya setiap anak mempunyai bunyi nan berarti. Melalui cerita, gambar, musik, dan pagelaran seni, mereka dapat menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya untuk lebih peduli terhadap kelestarian rimba dan satwa. Semoga aktivitas mini ini dapat membujuk semakin banyak pihak bersama-sama menjaga bumi untuk generasi mendatang," ujar Kayisa.

Festival ini terselenggara berkah support beragam pihak. PT PLN Indonesia Power dan MASKIT datang sebagai sponsor utama, didukung oleh PT PLN Indonesia Power UBP Cilegon, Dompet Dhuafa, Buku Hamu, Kelas Vicky Poppy, dan Sparkle Face Painting sebagai sponsor pendukung. 

Kegiatan ini juga didukung oleh para media partner, ialah Media Indonesia, Majalah CIA, Rumpun Asa, Bank Sampah 102, Read Aloud Tangerang, Sastra Svara, dan Gerobak Baca, nan turut membantu memperluas gaung kampanye pelestarian lingkungan kepada masyarakat.

Melalui kerjasama beragam komunitas, sponsor, media partner, relawan, serta family nan hadir, Gelar Karya dan Festival Cerita "Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba" diharapkan menjadi aktivitas berkepanjangan nan memperkuat literasi lingkungan sekaligus menginspirasi lebih banyak anak Indonesia untuk mencintai alam melalui karya, kreativitas, dan tindakan nyata. Festival ini menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah mini ketika anak-anak diberi ruang untuk berkarya, bersuara, dan menginspirasi masyarakat dalam menjaga bumi. (RO/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia