ilustrasi(Magnific)
PEMERIKSAAN kebugaran medis pada lansia umumnya berfokus pada kegunaan jantung dan paru-paru. Namun, riset terbaru menunjukkan keahlian menjaga keseimbangan tubuh dan kelincahan mobilitas rupanya menjadi parameter nan lebih kuat dalam memprediksi angan hidup seseorang di usia lanjut.
Penelitian ini dipimpin Li-Lin Liang dari National nan Ming Chiao Tung University di Taipei berbareng Chen-Te Hsu dari National Taiwan University of Sport. Tim peneliti menganalisis info 13.423 lansia berumur 65 tahun ke atas dari program kebugaran nasional Taiwan, lampau menghubungkannya dengan catatan asuransi kesehatan nasional hingga akhir 2022. Selama periode pemantauan rata-rata nyaris tujuh tahun tersebut, tercatat sebanyak 1.631 peserta meninggal dunia.
Dalam riset ini, para peserta menjalani tujuh corak tes kebugaran nan mencakup empat kategori: daya tahan jantung-paru (jalan di tempat selama dua menit), kekuatan otot (angkat beban tangan 30 detik dan bangun dari kursi), kelenturan (jangkauan tangan di bahu dan punggung), serta keseimbangan dan kelincahan (berdiri satu kaki dengan mata terbuka dan tes 8-foot up-and-go).
Tes 8-foot up-and-go, ialah tes beranjak dari kursi, melangkah sejauh 2,44 meter mengelilingi kerucut, lampau kembali duduk, menjadi parameter tunggal paling dominan. Lansia pada golongan seperlima tercepat dalam tes ini mempunyai akibat kematian 59% lebih rendah (risiko 41% dibanding golongan terlambat) setelah disesuaikan dengan aspek usia, jenis kelamin, pendapatan, tingkat pendidikan, riwayat penyakit, hingga kebiasaan olahraga.
Tes berdiri satu kaki berada di urutan berikutnya dengan akibat kematian 50%, diikuti tes bangun dari bangku (55%), dan tes jalan di tempat dua menit (58%). Secara keseluruhan, lansia nan mencatatkan hasil baik pada seluruh tes mempunyai akibat kematian 39% dibanding golongan dengan performa terendah.
Liang mengaku sempat terkejut dengan hasil kekuasaan tes keseimbangan tersebut. Menurutnya, keahlian menjaga keseimbangan tidak hanya berjuntai pada satu organ tubuh saja.
“Keseimbangan bukanlah hasil dari satu sistem fisiologis tunggal,” ujar Liang kepada Earth.com.
Kemampuan berdiri satu kaki melibatkan penglihatan, kekuatan otot kaki, sistem telinga dalam, hingga kesadaran posisi tubuh (proprioception) nan semuanya dikoordinasikan oleh otak. Hasil tes nan jelek dapat menjadi petunjuk awal adanya gangguan pada beberapa sistem tersebut sebelum indikasi penyakit muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Riset ini juga menunjukkan bahwa pengukuran kebugaran objektif memberikan gambaran kesehatan nan tidak sepenuhnya terekam dari pemeriksaan penyakit maupun laporan aktivitas mandiri.
“Temuan kami menunjukkan bahwa kebugaran nan diukur secara objektif menangkap dimensi kesehatan nan tidak sepenuhnya tercermin dalam beban penyakit alias aktivitas nan dilaporkan sendiri,” kata Liang.
Namun, Liang menegaskan batas dari studi ini lantaran pemindaian kebugaran hanya dilakukan satu kali pada awal penelitian.
“Kami mengukur kebugaran hanya satu kali di awal (baseline), sehingga studi kami tidak dapat memastikan bahwa meningkatkan skor tes secara otomatis bakal mengurangi akibat kematian,” tutur Liang.
Meski begitu, temuan nan dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open ini menegaskan pentingnya intervensi latihan bentuk pada golongan lansia dengan tingkat kebugaran terendah guna menjaga kegunaan motorik dan keseimbangan mereka. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·