Dalam satu sif, jumlah pengasuh hanya berkisar antara dua hingga empat orang. Sementara itu, satu pengasuh kudu menangani tujuh hingga sepuluh anak, kondisi nan dinilai jauh dari ideal.
"Satu sif itu ada nan 2 (pengasuh), ada nan 3, ada nan 4. Artinya semestinya kan dia membatasi (jumlah anak nan diasuh)," urai Adrian.
"Karena dari keterangan dari wali murid, mereka dijanjikan satu miss (pengasuh) itu dua sampai tiga anak. Tapi kenapa tetap menampung terus, berfaedah kan ini memang ada mencari untung ya," imbuh Adrian.
Situasi ini membikin para pengasuh kewalahan dalam menjalankan tugasnya. Untuk mengatasi beban kerja nan berlebihan, kepala yayasan dan kepala sekolah justru memerintahkan tindakan nan tidak manusiawi, ialah mengikat anak-anak.
"Dari keterangan pelaku, dua miss itu bisa menghandle sampai dua puluh anak. Mereka (pengasuh) kesulitan melakukan pekerjaan sehingga diperintahkan (ketua yayasan dan kepala sekolah) untuk melakukan perbuatan-perbuatan tak manusiawi tersebut," tutup Adrian.
Sumber: Merdeka.com
Reporter: Purnomo Edi
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·