Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) nyaris mencatat sejarah baru dengan menjadi pengekspor bersih minyak mentah untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II. Lonjakan ekspor terjadi di tengah meningkatnya permintaan dunia akibat terganggunya pasokan daya dari Timur Tengah imbas bentrok Iran.
Reuters melaporkan pengiriman minyak mentah AS melonjak mendekati rekor tertinggi pekan lalu, seiring negara-negara di Asia dan Eropa berebut pasokan pengganti untuk menggantikan pengedaran nan terhambat. Gangguan ini dipicu oleh bentrok nan melibatkan Iran, nan turut menakut-nakuti jalur vital daya bumi di Selat Hormuz.
Data pemerintah AS menunjukkan impor bersih minyak mentah menyusut drastis menjadi hanya 66.000 barel per hari pekan lalu, jumlah terendah sejak pencatatan dimulai pada 2001. Sementara itu, ekspor melonjak ke 5,2 juta barel per hari, tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
"Peningkatan ekspor minyak mentah AS mencerminkan pembeli di Atlantik dan Asia nan semakin aktif mencari pasokan nan tersedia, terutama lantaran selisih nilai minyak regional tetap menutup biaya pengiriman," ujar Wakil Presiden Pasar Minyak Rystad Energy, Janiv Shah, dikutip Jumat (17/4/2025).
Negara-negara Eropa menjadi tujuan utama ekspor, menyerap sekitar 2,4 juta barel per hari alias 47% dari total pengiriman. Sementara Asia menyerap sekitar 1,49 juta barel per hari alias 37%, meningkat dari 30% pada tahun sebelumnya. Pembeli utama meliputi Belanda, Jepang, Prancis, Jerman, dan Korea Selatan.
Di sisi lain, impor minyak AS justru turun lebih dari 1 juta barel per hari menjadi 5,3 juta barel per hari. Meski demikian, AS tetap memerlukan impor lantaran kilangnya dirancang untuk mengolah minyak jenis berat dan asam, berbeda dengan produksi domestik nan condong ringan.
Kondisi pasar juga dipengaruhi lonjakan nilai minyak global. Premi minyak mentah Brent terhadap West Texas Intermediate (WTI) sempat mencapai US$20,69 per barel alias sekitar Rp351.730. Hal ini membikin minyak AS lebih kompetitif di pasar internasional.
Bahkan, nilai kargo minyak mentah untuk pengiriman sigap ke Eropa sempat mendekati US$150 per barel alias sekitar Rp2,55 juta, mencerminkan ketatnya pasokan global.
Meski ekspor melonjak, para analis mengingatkan kapabilitas AS mulai mencapai batas. Ekspor diperkirakan berada di kisaran 5,2 juta barel per hari sepanjang April, mendekati kapabilitas maksimal sekitar 6 juta barel per hari.
(tfa/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·