Terkesan Sepele, Kelalaian soal Selotip Renggut Nyawa Puluhan Orang

Sedang Trending 40 menit yang lalu
Jakarta -

Sebuah kecelakaan tragis pernah terjadi di lepas pantai Chancay, Lima, Peru. Sebuah pesawat jatuh lantaran kelalaian sepele tapi fatal, ialah lupa melepas selotip pada mesin.

Dikutip dari laporan Komite Penyelidikan Kecelakaan (Accident Investigation Board), kejadian ini menimpa pesawat Boeing 757-200 nan dioperasikan oleh maskapai AeroPerú (Penerbangan 603). Pesawat itu jatuh pada 2 Oktober 1996 di lepas pantai Chancay, Lima, Peru.

Kecelakaan bermulai saat pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Jorge Chávez di Lima pukul 05.42 UTC menuju Santiago de Chile.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitu lepas landas dan mencapai kecepatan tinggi, kru menyadari bahwa perangkat pembaca ketinggian (altimeter) membeku dan tidak merespons secara normal.

Tak lama setelah itu, kru mendeklarasikan situasi darurat kepada menara pengawas dan meminta pedoman radar (vektor) support untuk kembali ke bandara.

Selama penerbangan, kokpit menjadi begitu ribut lantaran beragam sirine darurat nan saling bertolak belakang.

Pengontrol lampau lintas udara mengonfirmasi ketinggian pesawat berada pada 9.700 kaki berasas apa nan tampil di layar radar. Namun, info radar tersebut sebenarnya keliru lantaran info radar diperoleh dari pemancar (transponder) pesawat nan datanya sedang rusak.

Akibat terus turun tanpa menyadari posisi ketinggian, pesawat menghantam air laut dengan kecepatan 250 knot. Pesawat sempat naik kembali secara darurat hingga ketinggian 300 kaki sebelum akhirnya terbalik dan jatuh sepenuhnya ke laut.

Korban Jiwa

Kecelakaan ini mengakibatkan pesawat hancur parah. Ada 70 orang di dalam pesawat, nan terdiri dari 9 kru (2 pilot dan 7 kru kabin) serta 61 penumpang.

Tak ada satupun nan selamat. Mereka semua dinyatakan tewas akibat kerasnya tumbukan dengan permukaan air.

Gara-gara Selotip Belum Dilepas

Penyelidikan resmi menyimpulkan bahwa kecelakaan ini disebabkan oleh kesalahan fatal staf pemeliharaan di darat. Hal ini diperparah oleh kesalahan interpretasi kru di kokpit.

Sedangkan penyebab utamanya adalah selotip nan tetap menempel pada lubang statis. Saat pesawat menjalani pemeliharaan dan pemolesan sebelum terbang, staf pemeliharaan menutup tiga lubang tetap (static ports) di sisi kiri badan pesawat menggunakan selotip pelindung (masking tape) agar tidak kemasukan material asing.

Setelah pekerjaan selesai, staf tersebut lupa melepas selotip tersebut. Akibatnya, komputer info udara (Air Data Computers) tidak mendapatkan pembacaan tekanan udara luar nan benar, sehingga menghasilkan info ketinggian, kecepatan vertikal, dan kecepatan udara nan berantakan.

Kesalahan soal selotip ini terlihat sepele. Tapi kesalahan fatal ini merenggut nyawa puluhan orang.

(rdp/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News