Tentara Urus Pertanian Dipertanyakan, Mentan Buka Suaraamp;nbsp;

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Tentara Urus Pertanian Dipertanyakan, Mentan Buka Suara 

Tentara Urus Pertanian Dipertanyakan, Mentan Buka Suara (Foto: Kementan)

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman buka bunyi soal tentara urus pertanian nan banyak dipertanyakan banyak pihak. 

Mentan menegaskan bahwa keterlibatan prajurit TNI membantu petani di tengah upaya memperkuat produksi pangan merupakan corak pengabdian untuk membantu petani, terutama dalam menghadapi kondisi El Niño ekstrem nan memerlukan respon sigap di lapangan.

Mentan menjelaskan, prajurit TNI nan membantu aktivitas pertanian tidak memperoleh tambahan honor atas pekerjaan nan dilakukan di luar tugas rutinnya. Prajurit tetap menerima penghasilan sebagai personil TNI, sementara beragam aktivitas membantu petani, seperti mendorong traktor, mengolah lahan hingga mengangkat dan memasang pompa, dilakukan sebagai corak pengabdian.

“Ini selalu ditanyakan mahasiswa, wartawan, dan ditanyakan juga di Komisi IV. Inilah membantu siang malam. Tidak ada tambahan honor, membantu mendorong traktor, mengolah lahan, mengangkat pompa, itu tidak ada,” ujar Mentan, Rabu (12/8/2026). 

Mentan menegaskan, tidak ada tambahan pembayaran bagi prajurit nan bekerja pada Sabtu, Minggu, hari libur, maupun pada waktu malam untuk membantu percepatan pekerjaan pertanian di lapangan.

“Jadi gajinya ada, tapi penghasilan TNI-nya. Tapi untuk kerja Sabtu, Minggu, hari libur, siang malam, memasang pompa, itu tidak ada. Tidak ada, tidak diberikan gaji,” tegasnya.

Menurut Mentan, support TNI dibutuhkan lantaran pemerintah tengah menghadapi tantangan besar dalam menjaga produksi pangan, khususnya memasuki kondisi El Nino ekstrem. Dalam situasi tersebut, kebutuhan terhadap support tenaga di lapangan meningkat, terutama untuk mempercepat pengolahan lahan dan penanganan irigasi dengan pompa.

Di sisi lain, jumlah tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL) nan tersedia tetap belum mencukupi kebutuhan. Mentan Amran menyebut kebutuhan ideal tenaga pendamping jauh lebih besar dibandingkan jumlah nan tersedia saat ini.

“PPL kita 37ribu, kita butuh 80 ribu lebih. Kita kurang sekitar 50 ribu,” katanya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com