Jakarta, CNBC Indonesia - Tentara penghasilan Rusia nan didukung Kremlin dipukul mundur dari kota strategis Kidal di Mali utara. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Presiden Rusia Vladimir Putin dan memperlihatkan mulai retaknya pengaruh Moskow di area Sahel Afrika.
Laporan CNN International menyebut Korps Afrika, ialah pasukan penerus Grup Wagner nan sekarang berada di bawah Kementerian Pertahanan Rusia, terpaksa meninggalkan Kidal bulan lampau setelah mendapat tekanan besar dari golongan pemberontak Tuareg dan militan mengenai Al Qaeda. Ironisnya, pasukan Rusia hengkang di bawah cemoohan para pemberontak nan sebelumnya justru mau mereka hancurkan.
Kekalahan ini dinilai memalukan bagi Kremlin. Sebab, selama beberapa tahun terakhir Rusia berupaya memosisikan diri sebagai mitra keamanan utama negara-negara Afrika setelah pengaruh Barat merosot di area tersebut.
Video dilaporkan beredar di media sosial. Dalam potongan gambar diperlihatkan gimana konvoi kendaraan Rusia diejek pejuang Tuareg saat keluar dari pangkalan mereka di Kidal.
Serangan besar dimulai pada 25 April ketika golongan separatis Tuareg nan tergabung dalam Front Pembebasan Azawad (FLA) beraliansi dengan militan mengenai Al Qaeda. Serangan campuran itu disebut sebagai salah satu nan paling berani dalam lebih dari satu dasawarsa terakhir di Mali.
Aliansi tersebut sukses merebut sejumlah pangkalan militer di Mali utara dan memaksa Korps Afrika Rusia bermusyawarah demi mendapatkan jalur kondusif keluar dari Kidal. Padahal, Kidal sebelumnya direbut pasukan Mali berbareng tentara penghasilan Rusia pada 2023.
Kemenangan itu sempat dianggap simbol keberhasilan Moskow menggeser kekuasaan Barat di Sahel. Sahel sendiri merupakan area luas di bawah Gurun Sahara nan mencakup negara-negara seperti Mali, Burkina Faso, Niger, Chad, hingga Sudan, nan sekarang dikenal sebagai salah satu pusat terorisme paling mematikan di dunia.
Krisis Mali semakin memburuk setelah Menteri Pertahanan Mali, Sadio Camara, tewas dalam serangan peledak bunuh diri di dekat ibu kota Bamako. Camara dikenal sebagai tokoh krusial di kembali kedekatan rezim junta Mali dengan Rusia.
Kelompok Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) nan berafiliasi dengan Al Qaeda menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kondisi ini membikin janji Rusia untuk menstabilkan Mali mulai dipertanyakan.
Analis senior Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED), Héni Nsaibia, juga menilai strategi keamanan Rusia kandas menyelesaikan akar persoalan di Sahel. "Dukungan militer Rusia memang cepat, tetapi sangat sedikit mengatasi pendorong utama militansi seperti lemahnya tata kelola, korupsi, marginalisasi sosial-ekonomi, ketegangan etnis, dan rendahnya legitimasi negara," kata Nsaibia.
Selama ini Rusia memperluas pengaruh di Afrika melalui model kerja sama keamanan sebagai hadiah akses sumber daya alam. Pendekatan itu diperkuat lewat Grup Wagner nan aktif di Libya, Mozambik, hingga Republik Afrika Tengah.
Namun, transisi dari Wagner ke Korps Afrika belum bisa menghentikan meningkatnya ketidakamanan di Mali, Burkina Faso, dan Niger. Di tengah situasi tersebut, Mali berbareng Burkina Faso dan Niger sekarang mulai mencari pengganti baru dengan memperluas kerja sama pertahanan ke negara seperti China dan Turkey.
(sef/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·