Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menjatuhkan hukuman baru kepada sejumlah perseorangan dan perusahaan nan dituduh membantu ekspor minyak Teheran ke China. Langkah ini diambil di tengah memanasnya bentrok area Teluk dan menjelang pertemuan krusial Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini.
Sanksi terbaru tersebut memperlihatkan gimana Washington sekarang semakin garang membidik jaringan finansial dan perusahaan cangkang nan diduga menjadi jalur utama Iran menjual minyaknya di tengah embargo Barat. Fokus AS tidak hanya tertuju pada Iran, tetapi juga pada entitas-entitas di Hong Kong, Uni Emirat Arab (UEA), dan Oman nan disebut membantu operasi tersebut.
Langkah itu juga datang ketika hubungan AS dan Iran tetap diliputi ketegangan mengenai perang nan berjalan sejak Februari lalu, termasuk sengketa mengenai Selat Hormuz nan menjadi jalur vital perdagangan daya dunia. Washington berambisi tekanan ekonomi tambahan dapat mempersempit ruang mobilitas Teheran sekaligus memaksa Iran kembali ke meja negosiasi.
Pemerintah AS pada Senin (11/5/2026) mengumumkan hukuman terhadap tiga perseorangan dan sembilan perusahaan lantaran dianggap membantu pengiriman minyak Iran ke China. Dari sembilan perusahaan tersebut, empat berbasis di Hong Kong, empat lainnya di Uni Emirat Arab, dan satu perusahaan berada di Oman.
Departemen Keuangan AS menyebut hukuman itu dijatuhkan melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC) dan ditujukan kepada perseorangan maupun entitas nan membantu Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menjual serta mengirim jatah minyak Iran ke China menggunakan jaringan perusahaan cangkang.
Langkah terbaru ini menyusul hukuman nan diumumkan Washington pada Jumat lampau terhadap perseorangan dan perusahaan nan membantu pembelian senjata Iran serta komponen nan digunakan untuk membikin drone dan rudal balistik.
Pengumuman tersebut muncul hanya beberapa hari sebelum Presiden Donald Trump dijadwalkan berjumpa Presiden China Xi Jinping. Dalam pertemuan itu, Trump diperkirakan bakal mendesak Beijing agar membantu menyelesaikan kebuntuan dengan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis nan selama ini menjadi salah satu titik utama konflik.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintahan Trump bakal terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran untuk memutus sumber pendanaan pemerintah dan militer Iran.
"Departemen Keuangan bakal terus memutus hubungan rezim Iran dari jaringan finansial nan digunakannya untuk melakukan tindakan terorisme dan menggoyahkan perekonomian global," kata Bessent, dilansir Reuters.
Menurut Departemen Keuangan AS, IRGC nan telah ditetapkan Washington sebagai organisasi teroris mengandalkan perusahaan-perusahaan cangkang untuk mengatur dan menerima pembayaran dari penjualan minyak Iran.
Sanksi pada Senin ini juga disebut sebagai kelanjutan dari langkah AS pada Juli 2025 terhadap Golden Globe, perusahaan berbasis di Turki nan menurut Washington menangani penjualan minyak IRGC senilai ratusan juta dolar setiap tahun.
Departemen Keuangan menyebut tiga perseorangan nan dikenai hukuman bekerja untuk markas minyak Shaid Purja'fari milik IRGC dan bekerja mengoordinasikan pembayaran melalui Golden Globe.
Sejumlah perusahaan nan masuk daftar hukuman antara lain Hong Kong Blue Ocean Ltd dan Hong Kong Sanmu Ltd nan berbasis di Hong Kong. Pemerintah AS menyebut keduanya sebagai perusahaan cangkang nan mengatur penjualan dan pengiriman minyak Iran.
Selain itu, perusahaan berbasis Dubai Ocean Allianz Shipping LLC dan Atic Energy FZE nan berbasis di Sharjah juga dikenai hukuman lantaran disebut memfasilitasi pengiriman minyak Iran menggunakan lima kapal tanker "shadow fleet" nan telah dijatuhi hukuman sepanjang 2025.
Perusahaan Oman Zeus Logistics Group juga masuk daftar hitam lantaran dituduh mengatur kapal pengangkut kargo minyak Iran.
Washington turut menjatuhkan hukuman kepada Jiandi HK Ltd nan berbasis di Hong Kong lantaran disebut menandatangani kesepakatan dengan IRGC untuk membeli minyak Iran senilai puluhan juta dolar AS.
Perusahaan lain nan juga masuk daftar adalah Max Honor International Trade Co Ltd nan disebut membeli jutaan barel minyak Iran dari IRGC sepanjang 2025.
Dua perusahaan berbasis Dubai, ialah Blanca Goods Wholesaler LLC dan Universal Fortune Trading LLC, juga menjadi sasaran. Departemen Keuangan AS mengatakan Universal Fortune Trading LLC turut digunakan sebagai perusahaan cangkang oleh National Iranian Oil Company (NIOC).
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·