Feby Novalius
, Jurnalis-Rabu, 09 September 2026 |08:32 WIB

Pengelohaan Mineral (Foto: Okezone)
JAKARTA – Pengelolaan mineral strategis di Indonesia tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan produksi. Pemerintah dan pelaku industri juga mendorong pengolahan mineral hingga menghasilkan produk berbobot tambah nan dapat mendukung kebutuhan industri dalam negeri.
Tembaga menjadi salah satu mineral nan mempunyai peran krusial dalam penguatan industri nasional. Mineral ini digunakan dalam beragam sektor, mulai dari kelistrikan, jaringan transmisi, dan elektronik hingga kendaraan listrik serta daya baru terbarukan.
Kebutuhan terhadap tembaga diperkirakan terus meningkat seiring percepatan elektrifikasi dan transisi daya global. Kondisi tersebut membikin penguasaan sumber daya dan rantai pasok tembaga menjadi bagian krusial dari ketahanan mineral suatu negara.
Di Indonesia, kepemilikan kebanyakan MIND ID di PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat penguasaan nasional atas sumber daya tembaga. Pengelolaan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan faedah ekonomi dari hasil tambang di dalam negeri.
Upaya memperpanjang rantai nilai mineral itu dilakukan PTFI melalui Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik, Jawa Timur. Fasilitas tersebut mengolah anode slime, produk samping dari pengolahan konsentrat tembaga, menjadi logam mulia.
PMR mempunyai kapabilitas produksi sekitar 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun. Dengan adanya akomodasi tersebut, pengolahan hasil tambang PTFI tidak berakhir pada produksi tembaga, tetapi juga menghasilkan produk logam mulia.
Pemanfaatan hasil produksi PMR untuk pasar domestik terlihat pada Februari 2025. Saat itu, PTFI mengirimkan 125 kilogram emas batangan berkadar 99,99 persen kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM).
Pengiriman tersebut mempunyai nilai sekitar Rp207 miliar.
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·