Peternak mengecek kondisi ayam petelurnya di area peternakan Koperasi Saudara Unggas Mandiri di Kelurahan Pengawu, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (14/5/2026).(ANTARA/Basri Marzuki)
TELUR dengan cangkang retak tidak selalu kudu dibuang. Kelaikan dan keamanan konsumsinya sangat berjuntai pada waktu terjadinya retakan serta ada alias tidaknya kebocoran pada cairan telur.
Pakar Keamanan Pangan sekaligus Direktur Alliance to Stop Foodborne Illness, Vanessa Coffman, PhD, memperingatkan bahwa telur nan sudah retak sebelum dibeli sebaiknya tidak dikonsumsi. Kerusakan cangkang sejak di toko alias pasar membuka celah besar bagi masuknya kuman patogen.
"Jika retakan terjadi sebelum Anda membawa telur pulang, sebaiknya buang telur tersebut alias hindari membeli karton telur nan rusak," kata Coffman, dikutip Senin (10/8).
Sebaliknya, jika telur baru retak saat perjalanan pulang alias ketika ditangani di rumah, bahan pangan ini tetap kondusif digunakan dengan syarat langsung dimasak hingga matang sempurna. Namun, andaikan retakan menyebabkan isi telur bocor dan keluar, telur kudu segera dibuang.
Coffman menyarankan, telur nan baru retak di rumah juga dapat segera dipecahkan ke dalam wadah bersih nan tertutup rapat, lampau disimpan di lemari pendingin (chiller) untuk digunakan maksimal dalam waktu dua hari.
Kerusakan pada cangkang menjadi pintu masuk utama kuman Salmonella nan memicu keracunan makanan. Dampak jangkitan kuman ini dapat memicu komplikasi serius, terutama pada golongan rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta perseorangan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.
Terkait telur nan retak saat proses perebusan, Coffman menilai telur tersebut tetap kondusif dikonsumsi dengan catatan dalam kondisi bersih, segar, dan dimasak hingga mencapai suhu minimal 71 derajat Celsius. Adapun telur rebus separuh matang nan retak mempunyai akibat kontaminasi lebih tinggi lantaran bagian kuningnya belum mencapai suhu steril tersebut.
Sementara itu, Ahli Gizi dari Farmington Valley Nutrition and Wellness, Amy Woodman, menambahkan bahwa perubahan bentuk seperti putih telur nan encer alias kuning telur nan memipih umumnya terjadi lantaran aspek usia simpan, bukan berfaedah telur langsung membusuk.
Meski demikian, masyarakat diimbau tidak menjadikan "uji apung" air sebagai parameter tunggal keamanan, lantaran telur nan mengapung tidak selalu menandakan telah rusak alias terkontaminasi.
Petunjuk paling andal tetap terletak pada aroma nan netral serta ketampakan bentuk cangkang. Jika telur telah retak dalam waktu lama, berbau tidak sedap, alias mengalami kebocoran isi, tindakan terbaik adalah membuangnya demi menghindari akibat keracunan pangan.
(Ant/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·