Teluk Tomini dan Jalan Menuju Ekonomi Biru Gorontalo

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Wisata Hiu Paus Botubarani, salah satu ikon ekonomi biru di pesisir Gorontalo, (sumber: Fityan Halid)

Teluk Tomini tidak hanya dikenal sebagai salah satu teluk terbesar di Indonesia dengan kekayaan sumber daya laut nan melimpah, tetapi juga sebagai ruang hidup bagi ribuan masyarakat pesisir nan menggantungkan kehidupannya pada sektor perikanan, perdagangan, pariwisata, dan upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di Gorontalo, aktivitas ekonomi masyarakat pesisir tidak lagi semata-mata ditopang oleh hasil tangkapan laut, tetapi juga oleh tumbuhnya beragam upaya pengolahan hasil perikanan, kuliner lokal, kerajinan, hingga jasa wisata nan berkembang di area pesisir. Fenomena ini menunjukkan bahwa UMKM telah menjadi degub utama ekonomi lokal sekaligus penggerak transformasi ekonomi masyarakat pesisir.

Ironisnya, kekayaan sumber daya laut nan dimiliki Indonesia belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Maret 2022 terdapat sekitar 3,9 juta masyarakat pesisir nan hidup dalam kemiskinan ekstrem, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 1,65 juta masyarakat di wilayah non-pesisir. Bahkan, jumlah masyarakat miskin di area pesisir mencapai 17,74 juta orang, sementara di wilayah non-pesisir sekitar 8,4 juta orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi kelautan nan besar tetap menyisakan tantangan serius dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Situasi tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan pesisir tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan pemanfaatan sumber daya laut. Diperlukan pendekatan nan bisa menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan. Dalam konteks inilah ekonomi biru menjadi semakin relevan. Ekonomi biru tidak hanya menempatkan laut sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai aset nan kudu dijaga keberlanjutannya agar terus memberikan faedah bagi generasi sekarang maupun nan bakal datang.

Dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut, UMKM menjadi salah satu instrumen krusial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap nyaris 97 persen tenaga kerja Indonesia. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa upaya mengurangi kemiskinan dan memperkuat ekonomi pesisir tidak dapat dilepaskan dari penguatan kapabilitas dan daya saing UMKM.

Bagi Gorontalo, peran UMKM menjadi semakin krusial lantaran struktur ekonomi wilayah tetap ditopang oleh sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan nan merupakan kontributor utama terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sekaligus penyerap tenaga kerja terbesar. Di kembali sektor-sektor tersebut, terdapat ribuan pelaku UMKM nan mengolah hasil laut, memasarkan produk lokal, dan menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Bahkan, geliat UMKM sekarang menjadi bagian krusial dari transformasi ekonomi pesisir nan mulai berkembang di area Teluk Tomini.

Salah satu contoh nyata dapat dilihat dari berkembangnya wisata hiu paus di Desa Botubarani. Kehadiran wisata bahari ini tidak hanya menarik visitor domestik dan mancanegara, tetapi juga menciptakan kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat melalui jasa wisata, kuliner, transportasi lokal, dan penjualan produk UMKM. Wisata hiu paus menunjukkan bahwa area pesisir mempunyai kesempatan untuk mengembangkan sumber-sumber ekonomi baru nan melengkapi aktivitas perikanan dan pemanfaatan sumber daya laut.

Nilai positif ini semakin kuat lantaran ditopang oleh kearifan lokal Gorontalo, ialah huyula alias semangat gotong royong. Melalui tradisi huyula, masyarakat secara swadaya bekerja sama menjaga kebersihan pantai, mendukung aktivitas ekonomi lokal, serta ikut mengawasi aktivitas wisata agar tetap selaras dengan kelestarian lingkungan. Di tengah beragam tantangan pembangunan, modal sosial seperti huyula menjadi kekuatan krusial nan memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi penerima faedah pembangunan, tetapi juga pelaku utama dalam menjaga keberlanjutannya.

Meski demikian, perjalanan UMKM pesisir menuju kemandirian dan daya saing nan lebih tinggi tetap menghadapi beragam tantangan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan akses modal tetap menjadi halangan utama pengembangan upaya di area pesisir. Selain itu, minimnya promosi pemasaran, rendahnya keahlian manajerial, serta lemahnya keahlian beradaptasi terhadap perubahan pasar membikin banyak UMKM susah berkembang secara optimal.

Tantangan lain nan semakin mendesak adalah kesenjangan digital. Studi mengenai UMKM pesisir menunjukkan bahwa rendahnya literasi digital dan keterbatasan prasarana teknologi tetap menjadi hambatan utama dalam proses transformasi usaha. Akibatnya, banyak pelaku UMKM belum bisa menjangkau pasar nan lebih luas dan tetap berjuntai pada metode pemasaran konvensional. Padahal, perkembangan ekonomi saat ini menuntut pelaku upaya untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan efisiensi usaha, dan memperkuat daya saing di tengah persaingan nan semakin ketat.

Permasalahan tersebut diperkuat oleh lemahnya pengelolaan finansial usaha. Banyak pelaku UMKM pesisir tetap menjalankan upaya tanpa pencatatan finansial nan sistematis sehingga mengalami kesulitan dalam mengakses pembiayaan dari lembaga finansial formal. Padahal, pengelolaan finansial nan baik merupakan prasyarat krusial untuk memperoleh tambahan modal, meningkatkan kapabilitas usaha, dan menjaga keberlanjutan upaya dalam jangka panjang.

Karena itu, penguatan UMKM pesisir tidak cukup hanya melalui support modal alias training sesaat. nan dibutuhkan adalah ekosistem pemberdayaan nan berkepanjangan melalui pendampingan, peningkatan literasi digital, akses pembiayaan nan inklusif, serta support kebijakan nan berpihak pada pengembangan upaya lokal. Upaya tersebut krusial agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa berkembang dan beradaptasi dengan perubahan ekonomi nan semakin dinamis.

Di tengah beragam tantangan tersebut, transformasi digital menjadi salah satu jalan nan menjanjikan. Digitalisasi memungkinkan UMKM memperluas akses pasar, meningkatkan efisiensi usaha, serta membuka kesempatan pembiayaan nan lebih luas. Di Gorontalo, beragam program pembinaan telah diarahkan pada penguatan UMKM melalui digitalisasi, termasuk penggunaan QRIS, e-commerce, dan sistem pembayaran digital lainnya. Langkah ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi instrumen krusial untuk mendorong UMKM naik kelas dan beradaptasi dengan perubahan ekonomi global.

Namun, penguatan UMKM pesisir tidak cukup hanya melalui digitalisasi dan peningkatan produktivitas. Pembangunan area pesisir saat ini juga menghadapi tantangan besar berupa perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan menurunnya kualitas ekosistem laut. Karena itu, orientasi pembangunan perlu bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi menuju pembangunan nan bisa menjaga keseimbangan antara faedah ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam konteks inilah ekonomi biru menjadi arah pembangunan nan perlu diperkuat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan UMKM pesisir sangat berjuntai pada kualitas ekosistem laut dan pesisir nan menjadi sumber utama aktivitas ekonomi mereka. Kesadaran pelaku upaya terhadap pentingnya menjaga lingkungan juga mulai tumbuh lantaran mereka memahami bahwa keberlangsungan upaya tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan sumber daya alam.

Oleh lantaran itu, masa depan ekonomi pesisir tidak ditentukan oleh seberapa besar sumber daya nan dieksploitasi, melainkan oleh keahlian masyarakat mengelolanya menjadi nilai ekonomi nan berkelanjutan. Sebagai area nan menopang beragam aktivitas perikanan, pariwisata, dan perdagangan pesisir. Dengan beragam potensi nan dimilikinya, Teluk Tomini mempunyai kesempatan besar untuk berkembang menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi biru sekaligus pusat penemuan pembangunan pesisir berkepanjangan di Indonesia bagian timur.

Gorontalo sesungguhnya mempunyai modal nan kuat untuk mengembangkan ekonomi biru. Selain wisata hiu paus Botubarani, area pesisir Bone Bolango juga menunjukkan gimana ekowisata dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru nan tetap memperhatikan aspek konservasi lingkungan. Kehadiran visitor mendorong berkembangnya upaya kuliner, penyewaan perahu, penjualan cendera mata, dan beragam aktivitas ekonomi lainnya nan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Di sisi lain, pengelolaan nan berbasis konservasi membantu menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir sebagai aset ekonomi jangka panjang.

Karena itu, masa depan ekonomi pesisir Gorontalo tidak lagi dapat hanya diukur dari banyaknya hasil tangkapan ikan alias besarnya investasi nan masuk ke area pesisir. Keberhasilan pembangunan kudu diukur dari keahlian menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut nan menjadi fondasinya. UMKM pesisir mempunyai peran sentral dalam proses tersebut lantaran mereka berada di titik pertemuan antara aktivitas ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Dari pesisir Teluk Tomini, Gorontalo mempunyai kesempatan untuk menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan bukanlah dua tujuan nan saling bertentangan. Melalui penguatan UMKM, transformasi digital, pemanfaatan modal sosial huyula, dan penerapan prinsip ekonomi biru, area pesisir dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan nan tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga berkepanjangan secara sosial dan ekologis.

Pada akhirnya, masa depan ekonomi pesisir Gorontalo tidak ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya laut dieksploitasi, melainkan oleh seberapa bijak sumber daya tersebut dikelola untuk kesejahteraan generasi hari ini dan generasi mendatang. Jika dikelola dengan visi nan tepat, Teluk Tomini tidak hanya bakal menjadi kebanggaan lantaran kekayaan lautnya, tetapi juga lantaran kemampuannya menunjukkan bahwa pembangunan nan menyejahterakan masyarakat sekaligus menjaga lingkungan bukanlah utopia, melainkan sebuah keniscayaan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan