Telepon Ibu Ternyata Punya Efek Menenangkan bagi Anak yang Stres

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Telepon Ibu Ternyata Punya Efek Menenangkan bagi Anak nan Stres Ilustrasi(magnific)

BANYAK orang secara spontan menghubungi ibu saat merasa gugup, sedih, alias berada dalam tekanan. Kebiasaan ini rupanya bukan sekadar corak kedekatan emosional, tetapi juga mempunyai penjelasan ilmiah.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mendengar bunyi ibu lewat telepon dapat membantu menurunkan stres pada anak, apalagi efeknya nyaris setara dengan pelukan langsung.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B dan dilansir dari Scientific American. Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Child Emotion Lab, University of Wisconsin-Madison.

Peneliti utama, Leslie Seltzer, menjelaskan bahwa selama ini hormon oksitosin lebih sering dikaitkan dengan kontak fisik, seperti pelukan, sentuhan, alias hubungan dekat antara ibu dan anak. Oksitosin sendiri dikenal sebagai hormon nan berkedudukan dalam membangun rasa nyaman, ikatan emosional, dan ketenangan.

Namun, hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa bunyi ibu saja rupanya sudah cukup untuk memicu respons biologis nan serupa.

Menguji Respons Anak Saat Mengalami Stres

Dalam penelitian tersebut, sebanyak 61 anak wanita berumur 7 hingga 12 tahun diminta menjalani tes nan memicu stres, ialah mengerjakan soal matematika dan berbincang di depan orang asing. Metode ini umum digunakan untuk memandang respons tekanan psikologis pada anak.

Setelah tes selesai, para peserta dibagi menjadi tiga golongan berbeda. Kelompok pertama dipertemukan langsung dengan ibu mereka selama 15 menit dan mendapat support melalui pelukan serta sentuhan menenangkan.

Kelompok kedua tidak berjumpa langsung, tetapi berbincang dengan ibu mereka melalui telepon selama 15 menit. Sementara golongan ketiga tidak mendapat kontak sama sekali dengan ibu mereka dan hanya diminta menonton movie netral.

Para peneliti kemudian memeriksa kadar hormon stres kortisol melalui sampel air liur dan memantau hormon oksitosin melalui sampel urine.

Telepon Ibu Efektif Menurunkan Stres

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak nan berbincang dengan ibu mereka lewat telepon mengalami penurunan hormon stres nan nyaris sama dengan anak-anak nan dipeluk langsung oleh ibunya.

Meski golongan telepon memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk mencapai kondisi tenang, kadar kortisol mereka tetap jauh lebih rendah dibanding golongan nan tidak mendapat kontak sama sekali dengan ibu mereka.

Tak hanya itu, kadar oksitosin pada anak-anak nan menerima panggilan telepon dari ibu juga meningkat secara signifikan. Bahkan, peningkatan hormon tersebut nyaris sama dengan mereka nan mendapatkan kontak bentuk secara langsung.

Menurut Seltzer, temuan ini menunjukkan bahwa bunyi ibu mempunyai kekuatan emosional nan sangat besar terhadap anak.

Penjelasan Ilmuwan soal Efek Suara Ibu

Direktur Child Emotion Lab, Seth Pollak, mengatakan bahwa hasil penelitian ini membantu menjelaskan perilaku banyak anak dan remaja nan langsung menelepon orang tua mereka setelah menghadapi situasi menegangkan, seperti ujian alias tekanan emosional lainnya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut mungkin memang menjadi langkah alami tubuh untuk mencari rasa nyaman dan menurunkan stres dengan cepat.

“Panggilan telepon sederhana rupanya bisa memberikan pengaruh fisiologis terhadap hormon oksitosin, dan itu sangat menarik,” ujarnya.

Para peneliti sekarang tertarik mempelajari apakah pengaruh serupa juga terjadi pada jenis lain nan mempunyai pola komunikasi vokal kuat. Selain itu, mereka juga mulai meneliti apakah corak komunikasi lain, seperti pesan teks dari ibu, dapat memberikan pengaruh menenangkan nan sama.

Meski penelitian ini dilakukan pada anak wanita usia 7 hingga 12 tahun, hasilnya memberi gambaran bahwa support emosional dari orang tua, apalagi hanya melalui suara, mempunyai pengaruh besar terhadap kondisi psikologis anak.

Dengan kata lain, telepon singkat dari ibu rupanya bukan hanya memberi rasa nyaman secara emosional, tetapi juga dapat membantu tubuh merespons stres dengan lebih baik.

Sumber: Scientific American

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia