
Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan (Foto: Amman)
JAKARTA - Hampir 100.000 ton bijih hasil penambangan bergerak setiap hari di tambang Batu Hijau. Batuan hasil penambangan itu melaju di atas conveyor menuju SAG Mill, mesin raksasa nan menggilingnya menjadi material lebih lembut sebelum mineral berbobot dipisahkan dan diolah.
Di tengah arus material sebesar itu, sebuah batu berukuran ekstrem bisa menjadi masalah. Material asing non-batuan nan ikut terbawa dapat mengganggu proses. Perubahan kondisi operasi nan terjadi dalam hitungan menit dapat memengaruhi hasil pengolahan. Bahkan sedikit mineral berbobot nan luput dipulihkan mempunyai makna ketika terjadi berulang pada skala sebesar itu.
Karena itu, semuanya kudu diketahui sedini mungkin. Di pertambangan modern, persoalannya bukan lagi sekadar gimana mengambil mineral dari bumi, tetapi gimana memaksimalkan setiap ton nan diambil.
Pertanyaannya jauh lebih besar: gimana mengambilnya seefisien mungkin, seaman mungkin, dengan akibat sekecil mungkin, dan menghasilkan faedah sebesar mungkin bagi manusia serta lingkungan?
Di Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), jawaban atas pertanyaan itu tidak hanya ditemukan di kedalaman tambang, tetapi juga di ruang kendali, jalur conveyor, laboratorium, area reklamasi hingga akomodasi pengolahan.
Semuanya berjumpa pada satu hal: teknologi nan membikin operasi lebih pandai sekaligus lebih bertanggung jawab.
Kecerdasan buatan membaca jutaan info operasional, laser tiga dimensi memindai material nan bergerak di atas conveyor, gambaran satelit membantu membaca perubahan lahan, panel surya menghasilkan daya dengan emisi lebih rendah hingga reklamasi mengembalikan kegunaan lahan. Sementara smelter membawa mineral dari tambang menuju produk berbobot tambah di dalam negeri.
Namun ada satu perihal nan membikin perjalanan teknologi itu penting: teknologi tidak bekerja sendirian. Di belakang setiap algoritma ada manusia.
Di kembali setiap sensor ada pengalaman, dan di kembali setiap penemuan ada tanggung jawab untuk memastikan sumber daya nan diambil hari ini tidak meninggalkan beban bagi hari esok.
Itulah wajah baru pertambangan nan sedang dibangun PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).
Ketika Jutaan Data Membaca Batu
Setiap ton bijih membawa mineral berharga. Tetapi tidak seluruh mineral itu otomatis dapat dipulihkan.
Bagi operasi pertambangan berskala besar seperti Batu Hijau, peningkatan mini dalam tingkat perolehan mineral dapat mempunyai makna besar. Semakin banyak mineral berbobot nan sukses dipulihkan, semakin optimal sumber daya alam dimanfaatkan dan semakin sedikit nan tertinggal dalam limbah.
Tantangannya: gimana membikin pabrik mengambil keputusan terbaik ketika kondisi operasi terus berubah? Jawabannya datang dari data.
Lebih dari 25 tahun pengalaman operasional menjadi fondasi pengembangan Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA), sistem pendukung keputusan berbasis kepintaran buatan nan dikembangkan AMMAN untuk membantu mengoptimalkan proses pengolahan mineral di pabrik pengolahan (processing plant).
AIDA memanfaatkan jutaan titik info historis dan info waktu nyata. Sistem membaca kondisi pabrik secara terus-menerus, kemudian memberikan rekomendasi parameter operasi nan dinilai paling optimal.
Salah satu fitur pentingnya adalah Set Point Optimizer. Sistem memberikan rekomendasi terhadap variabel proses kritis, antara lain dosis reagen dan laju aliran air.
Dengan langkah itu, operator tidak kudu berhadapan dengan ribuan variabel secara manual untuk menentukan penyesuaian nan diperlukan.
Tetapi AMMAN tidak menyerahkan keputusan kepada mesin. Setiap empat jam, tim operasional dan metalurgi meninjau rekomendasi AIDA. Data dari algoritma dipertemukan dengan pengalaman manusia sebelum keputusan diterapkan di lapangan.
Di sinilah teknologi menemukan pemisah sekaligus kekuatannya. AI dapat membaca pola, manusia memahami konteks. AI dapat memberikan rekomendasi dan manusia tetap bertanggung jawab atas keputusan.
Vice President Corporate Communications AMMAN Kartika Octaviana mengatakan, pengembangan AIDA merupakan bagian dari transformasi digital perusahaan dalam membangun operasi pertambangan nan semakin cerdas, efisien, dan berkelanjutan.
Melalui transformasi digital, AMMAN tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat komitmen terhadap konservasi sumber daya mineral. Keberhasilan inisiatif ini bukan hanya terletak pada teknologinya, melainkan pada sinergi antara data, inovasi, dan skill tim kami.
"Ketika teknologi dan pengalaman manusia melangkah beriringan, kami bisa menghasilkan keputusan nan lebih baik dan menciptakan nilai nan lebih besar," kata Kartika di Jakarta belum lama ini.
Hasilnya bukan sekadar nomor di layar. Dengan menggabungkan peningkatan proses dan optimasi berbasis AI, AMMAN sukses meningkatkan perolehan mineral sekitar 2,5 persen.
Bagi operasi nan tingkat perolehannya telah termasuk tinggi di industri, tambahan tersebut bukan nomor kecil. Ada mineral nan sebelumnya berpotensi hilang, sekarang dapat dimanfaatkan.
Di titik itu, kepintaran buatan bukan lagi sekadar simbol transformasi digital. Ia menjadi langkah baru untuk menghargai setiap ton batu nan diambil dari bumi.
Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·