ilustrasi neraca perdagangan(MI)
TEKANAN dan ketidakpastian pasar finansial dunia mendorong Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit pada triwulan I 2026. Bank Indonesia mencatat NPI defisit sebesar 9,1 miliar dolar AS, terutama dipengaruhi tekanan pada transaksi modal dan finansial di tengah meningkatnya volatilitas pasar global. Meski demikian, defisit transaksi melangkah tetap rendah dan posisi persediaan devisa Indonesia tetap terjaga tinggi.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, defisit transaksi melangkah tetap berada pada level nan terkendali meskipun ekonomi dunia melambat. “Defisit transaksi melangkah tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global,” ujar Denny dalam keterangan resmi, Jumat (22/5).
Pada triwulan I-2026, transaksi melangkah mencatat defisit sebesar 4,0 miliar dolar AS alias 1,1% dari produk domestik bruto (PDB), meningkat dibandingkan defisit triwulan IV-2025 sebesar 2,5 miliar dolar AS alias 0,7% dari produk domestik bruto (PDB). Meski begitu, neraca perdagangan nonmigas tetap mencatat surplus, walaupun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara.
Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas tercatat menurun seiring aktivitas ekonomi domestik nan tetap terjaga. “Defisit neraca perdagangan migas juga menurun di tengah aktivitas ekonomi domestik nan tetap terjaga,” jelasnya.
Bank Indonesia juga mencatat defisit neraca pendapatan primer meningkat akibat kenaikan pembayaran kupon dan bunga. Sementara itu, keahlian neraca jasa membaik sejalan dengan penurunan impor jasa freight.
Dari sisi transaksi modal dan finansial, kinerjanya dinilai tetap cukup terjaga meskipun dibayangi ketidakpastian pasar finansial global. Investasi langsung tetap mencatat surplus sebagai gambaran persepsi positif penanammodal terhadap prospek ekonomi dan suasana investasi domestik. Investasi portofolio juga tetap membukukan surplus, meski lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya akibat meningkatnya ketidakpastian global.
Namun, investasi lainnya mencatat defisit nan dipengaruhi pembayaran pinjaman luar negeri nan jatuh tempo, penempatan kas dan simpanan, serta aset lainnya di luar negeri. Kondisi tersebut membikin transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2026 mencatat defisit sebesar 4,9 miliar dolar AS, berbalik dari surplus 9,0 miliar dolar AS pada triwulan IV-2025.
Dengan perkembangan tersebut, NPI triwulan I 2026 mencatat defisit sebesar 9,1 miliar dolar AS. Meski begitu, posisi persediaan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar 148,2 miliar dolar AS alias setara pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. “Posisi persediaan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” kata Denny.
Ke depan, Bank Indonesia bakal terus mencermati dinamika ekonomi dunia nan berpotensi memengaruhi prospek NPI, sekaligus memperkuat respons bauran kebijakan berbareng pemerintah dan otoritas mengenai untuk menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional. “Pemerintah dan otoritas mengenai untuk memperkuat ketahanan eksternal,” imbuhnya.
Secara keseluruhan, keahlian NPI sepanjang 2026 diprakirakan tetap baik dengan defisit transaksi melangkah nan rendah, berada dalam kisaran 0,5% hingga 1,3% terhadap PDB. (Ins/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·