Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa ahli ekonomi mengungkapkan kenaikan suku kembang referensi Bank Indonesia (BI) menjadi 5,5% dapat membikin kembang angsuran berpotensi terkerek naik dan dampaknya membikin daya beli masyarakat makin turun.
Hal ini lantaran kembang angsuran berasosiasi dengan angsuran pemilikan rumah (KPR) dan angsuran upaya rakyat (KUR), di mana jika kembang angsuran makin meninggi, maka masyarakat makin menahan untuk mengambil KPR dan KUR.
Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman mengungkapkan kenaikan suku kembang referensi BI alias BI Rate tentunya dapat mempengaruhi kembang angsuran perbankan, meski dampaknya tidak langsung.
"Kenaikan BI Rate nyaris pasti bakal memengaruhi kembang kredit, meski transmisinya tidak selalu langsung. Bank biasanya menyesuaikan kembang secara bertahap, terutama ketika biaya dana naik dan likuiditas mengetat," kata Rizal kepada CNBC Indonesia, Rabu (10/6/2026).
Rizal melanjutkan, akibat nan dirasakan masyarakat pun makin berat, terutama bagi sebagian debitur nan mempunyai KPR, angsuran modal kerja, dan angsuran kendaraan.
"Namun untuk KUR, dampaknya bisa lebih tertahan lantaran ada skema subsidi bunga. Tetapi bagi UMKM, tetap bisa tertekan dari sisi biaya bahan baku, pelemahan rupiah, dan perlambatan permintaan," lanjut Rizal.
Khusus angsuran kendaraan, Ia menyoroti makin tingginya kembang angsuran berpotensi melambatkan konsumsi, terutama pembelian kendaraan.
"Ketika angsuran naik, bank lebih selektif, dan daya beli melemah, maka masyarakat condong menunda pembelian peralatan tahan lama," terangnya.
Rizal menambahkan saat ini daya beli masyarakat mulai menurun pengaruh dari kenaikan nilai daya (BBM), nilai pangan, nilai plastik, dan pelemahan rupiah. Dengan naiknya kembang kredit, maka daya beli makin menurun.
"Jadi, tekanan tidak hanya datang dari suku bunga, tetapi juga dari kombinasi nilai energi, pangan, plastik, dan kurs," jelasnya.
Bahkan, ada potensi perlambatan ekonomi jika pemerintah tidak mengantisipasi. Rizal pun mengungkapkan perekonomian Indonesia berpotensi hanya tumbuh 4,8% hingga 5,0% jika tekanan tetap terus berlangsung.
"Kalau tren ini berlanjut, konsumsi rumah tangga bisa melambat dan berakibat ke pertumbuhan ekonomi. Kami memandang ekonomi tahun ini berisiko turun ke kisaran 4,8-5,0%, terutama jika tekanan rupiah, inflasi biaya, dan suku kembang tinggi berjalan lebih lama," imbuhnya.
Sementara itu, Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto juga mengungkapkan naiknya BI Rate membikin kembang angsuran semakin tidak menarik dan berakibat tidak langsung kepada masyarakat nan mengambil kredit.
"Terkait dengan kenaikan suku kembang acuan, ada dampaknya, tapi tidak langsung. Memang jika kita lihat sih untuk kembang angsuran nan tetap disubsidi oleh pemerintah, termasuk KPR bersubsidi, itu kan jumlahnya banyak juga tuh, bunganya tetap tetap, termasuk juga KUR itu juga tetap tetap. Tapi nan non-subsidi, memang jika skemanya floating rate pasti bakal menyesuaikan dengan perkembangan nan ada di pasar," kata Myrdal.
Menurutnya, ada potensi daya beli masyarakat makin tergerus, mengingat saat ini masyarakat condong menahan belanjanya lantaran kenaikan nilai beberapa barang-barang seperti BBM, pelemahan rupiah, kenaikan nilai pangan, dan lain-lainnya.
Namun, kenaikan kembang angsuran justru menjadi sinyal positif bagi masyarakat nan mata pencahariannya berbasis komoditas.
"Masyarakat nan mengandalkan income-nya dari sektor-sektor ekonomi nan bertumbuh pada aktivitas domestik pasti terkena dampak. Tapi jika untuk masyarakat di wilayah berbasis produksi komoditas, ada akibat positif dari kondisi saat ini. Karena pendapatan mereka meningkat, dan itu nan jika kita cermati bisa menjadi suatu kesempatan untuk sektor upaya itu untuk masuk di wilayah tersebut," terang Myrdal.
Meski begitu, Ia memprediksi ekonomi Indonesia tetap tumbuh baik pada 2026, di tengah tekanan nan cukup besar.
"Kalau pertumbuhan ekonomi sih kami lihat potensinya tetap tumbuh. Untuk periode saat ini 5,2% sih tetap bisa lah. Meski dari sisi konsumsi memang ada penurunan, tapi itu mendorong pertumbuhan ekonomi nan tadinya potensinya bisa tumbuh di atas 5,5%, tapi ya kita lihat sekarang kondisinya bisa hanya tumbuh 5,2%," jelasnya.
Ia juga menjelaskan, kondisi ekspor Indonesia tetap cukup solid dan investasi asing ke dalam pasar finansial Indonesia tetap ramai, membikin pihaknya tetap optimis ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5%.
"Ekspor kita juga tetap solid. Investasi asing juga ada terus nan masuk ya, walaupun kondisinya cukup bergerak seperti sekarang, kita lihat investor-investor asing juga banyak nan masuk. Pemerintah juga banyak melakukan beragam kunjungan ke negara untuk mendorong investasi masuk ke sini, ya kita tunggu realisasinya saja," ujarnya.
(chd/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·