Seorang penduduk memilah sampah plastik di Kelurahan Palupi, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (19/4/2026)(ANTARA/BASRI MARZUKI)
DOSEN Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Leopold Oscar, mengatakan secara ilmiah sampah plastik dapat diolah menjadi bahan bakar cair melalui teknologi pirolisis.
Pirolisis merupakan suatu proses penguraian termokimia material pada suhu tinggi dalam kondisi minim alias tanpa oksigen. Pada proses ini, plastik dipecah menjadi beragam produk berupa gas, cairan, dan residu padat. Produk cair nan dihasilkan berpotensi dikembangkan menjadi bahan bakar, meskipun tetap memerlukan tahapan pengolahan lanjutan.
“Karakteristik minyak hasil pirolisis sangat dipengaruhi oleh jenis plastik nan digunakan sebagai bahan baku,” kata Leopold dalam keterangannya, Rabu (10/6).
Ia menjelaskan bahwa plastik seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) condong menghasilkan senyawa hidrokarbon nan lebih sesuai untuk bahan bakar. Sebaliknya, jenis plastik lain seperti polyethylene terephthalate (PET) dan polyvinyl chloride (PVC) menghasilkan senyawa lain nan berkarakter korosif alias berpotensi menimbulkan masalah lingkungan sehingga menjadi kurang ideal untuk potensi bahan bakar.
Selain jenis plastik, kualitas produk juga ditentukan oleh beragam aspek proses, seperti suhu operasi, pemanasan, penggunaan katalis, serta tahap pra-perlakuan bahan baku.
Oleh lantaran itu, Dr Leopold menjelaskan, minyak pirolisis belum dapat langsung digunakan sebagai solar komersial. Produk tersebut tetap kudu melalui proses pemurnian, distilasi, maupun cracking agar memenuhi standar mutu bahan bakar diesel.
“Apabila nantinya dipasarkan kepada masyarakat, aspek kualitas dan keamanan kudu menjadi prioritas utama. Mulai dari pemilahan bahan baku, pengendalian proses produksi, hingga pengetesan mutu produk akhir perlu dilakukan secara konsisten. Di sisi lain, Indonesia juga memerlukan izin nan jelas mengenai standar bahan baku, proses produksi, dan kualitas produk nan dihasilkan,” terangnya.
Dari perspektif lingkungan, pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar dapat menjadi salah satu pengganti untuk mengurangi timbunan limbah nan susah terurai. Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular lantaran memberikan nilai tambah pada limbah nan sebelumnya tidak termanfaatkan.
Meski demikian, Dr Leopold menekankan bahwa teknologi ini perlu dipandang secara komprehensif. Tantangan utama saat ini adalah meningkatkan efisiensi proses, memastikan kepantasan ekonomi, serta menjamin bahwa operasinya kondusif bagi lingkungan.
"Ke depan, pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar cukup potensial untuk memecahkan solusi pengelolaan limbah, terutama selama kebutuhan daya tetap berjuntai pada sumber daya fosil. Akan tetapi lantaran produk pirolisis plastik dapat digunakan juga untuk keperluan nonbahan bakar, perannya perlu terus dievaluasi seiring berkembangnya pemanfaatan daya terbarukan di Indonesia," pungkasnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·