Teh Masih Menjadi Minuman Favorit Kedua Masyarakat Indonesia Setelah Air Putih

Sedang Trending 4 minggu yang lalu
Ilustrasi menyeduh teh. Foto: Shutterstock

Memperingati Hari Teh Internasional setiap 21 Mei, rupanya minuman ini tetap menjadi suguhan favorit masyarakat Indonesia dalam melepas dahaga. Menurut info Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS 2023–2024, menunjukkan bahwa teh merupakan minuman kedua nan paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia setelah air putih.

Masuknya budaya minum teh tidak terlepas dari kesiapan bahan nan melimpah di negeri ini. Tapi, kebiasaan teh menjadi minuman sehari-hari masyarakat Indonesia justru dibawa oleh Belanda ke tanah Jawa.

Menurut Dr. Ir. Murdijati-Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, mengisahkan kepada kumparanFOOD, minuman teh secara ekstensif dikenalkan melalui jalur Maluku saat Belanda hendak berbisnis rempah-rempah.

Sehingga pada saat itu, tepatnya abad 17 alias sekitar tahun 1600-an, Belanda membawa tanaman teh ke Batavia (Jawa) melalui Pantai Sukabumi. Di sana, ditanamlah tanaman teh pertama nan kemudian menurut aliran bangsa India, sangat cocok dikembangkan di Jawa Barat.

Ilustrasi perkebunan teh. Foto: Tony Karumba/AFP

"Karena mereka mengembangkan teh secara ekstensif di Jawa Barat, maka sebetulnya nan lebih dulu secara ekstensif minum teh di Indonesia itu, ya orang Jawa Barat, nan akhirnya menyebar ke Sumatera, Jawa Tengah, dan Jawa Timur," terang Prof. Mur, panggilan akrabnya, saat kumparan hubungi melalui sambungan telepon, Rabu (20/1).

Teh hingga sekarang menjadi warisan minuman Tanah Air nan terbukti berasas riset Roy Morgan (Single Source-Indonesia); mengungkapkan bahwa teh menjadi salah satu kebutuhan rutin rumah tangga Indonesia dan tersedia 95-97 persen di dapur keluarga.

Bukan Sekadar Dipetik, Butuh Ketelitian Dalam Menyajikan Teh

Ilustrasi menyeduh teh. Foto: Shutterstock

Tak sedikit orang mungkin beranggapan bahwa proses produksi teh berasal dari memetik pucuk daun, mengeringkan, dan menyeduhnya dengan air panas. Padahal, proses untuk memproduksi teh berbobot dengan cita rasa maksimal butuh ketelitian dan kerumitan nan cukup panjang.

Mulai dari kondisi alam, aktivitas pemeliharaan tanaman, langkah pemetikan, hingga penanganan setelah panen menjadi aspek krusial nan menentukan karakter akhir teh nan dihasilkan.

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), aspek seperti ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kelembapan mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman teh serta profil rasa nan dihasilkan.

“Dalam industri teh, pertumbuhan nan lebih lambat justru dianggap ideal lantaran memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, masam amino, dan minyak esensial. Senyawa inilah nan berkedudukan dalam menciptakan aroma nan kaya, lapisan rasa nan lebih mendalam, serta karakter seduhan nan halus,” kata Devyana Tarigan, Head of Marketing Communications & Public Relations PT Sinar Sosro Gunung Slamat, seperti dikutip dari siaran resmi nan kumparan terima, Kamis (21/5).

Ilustrasi kebun teh Foto: Raisan Al Farisi/Antara

Devyana menambahkan, “Menghasilkan teh dengan cita rasa nan konsisten juga memerlukan ketelitian manusia dalam menentukan daun teh muda mana nan dipetik, kapan waktu terbaik untuk memetik, hingga gimana daun teh muda diperlakukan setelah dipetik sehingga memenuhi standar layak olah.”

Bak mutiara di hamparan lahan hijau, daun mudah tersebut menjadi bagian nan kudu paling dijaga. Oleh karenanya, mereka minuman teh seperti Sosro tetap mempertahankan teknik manual. Setelah dipetik juga baiknya daun teh tidak dibiarkan lama. Hal ini untuk menjaga kesegaran dan profil aroma.

Bagi produsen minuman teh seperti Sosro, setiap tetes teh nan dinikmati sebaiknya tidak dihasilkan dari proses nan terburu-buru. Hal ini nan kemudian membikin perusahaan nan sudah ada sejak puluhan tahun itu menjadikan teh sebagai "Indonesian heritage".

Prof. Murdijati pun mengatakan, keberagaman jenis teh Indonesia nan jumlahnya hingga puluhan jenis tersebar di beragam daerah, menjadi bukti sungguh minuman ini tetap menjadi minuman favorit nan tak bakal tergerus zaman.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan